
Jam 5 Subuh Diko dan Leo sudah berada di Bandara Soekarno Hatta, Mama melambaikan tangan nya ke arah mereka berdua, ada 2 Orang Bule mengikuti Mama Melisa.
" Bu, Bule nya ikut kita?" Tanya Diko penasaran.
" Iya, Mereka sahabatnya Rubel Dari Sydney. Kebetulan Mereka bertemu Saya di pesawat. rencana nya Mereka mau jalan-jalan di sini. jadi sekalian aja Saya ajak mereka ikut Kita."
Kedua bule itu tersenyum kepada Diko dan Leo, mereka menyambutnya dengan baik. Diko membantu Mama membawa koper dan memasukkan ke bagasi mobil. Kedua bule itu membawa 2 tas ransel. Mereka terlihat enjoy dengan bawaannya.
Setibanya di Kediaman Agiawan, decak kagum kedua bule itu terpana melihat Rumah Megah itu.
" Gile tuh si Rubel Rumahnya Segede Gaban." Ucap Bule perempuan.
Diko dan Leo terperanjat mendengar Celoteh Sang Bule Cewek Mereka pikir si Bule tidak bisa Bahasa Indonesia jadi mereka tidak berani menyapa Bule-bule itu.
" Ini bukan Rumahnya Rubel, ini Rumah Mertuanya, Rumah Rubel di Villa Buana A, Rumahnya enggak Sebesar ini." Jelas Mama Melisa.
Di depan Pintu telah berdiri Hana mengenakan pakaian panjang dan cadarnya. Mama bingung, dia merasa heran dengan perempuan yang berdiri itu. Ketiga orang itu pun turun dari Mobil dan berjalan ke arah Hana.
" Mama!" Panggil Hana pada Sang Mertua.
" Masya Allah, Mama sampe pangling, rupanya menantu Mama, gimana kabar kamu sayang?" Ucapnya dan memeluk Hana.
Lia memandang Hana dengan tatapan Aneh, tapi dia sangat suka dengan pakaian yang di pakai Hana.
" Mereka Siapa Ma?" Tanya Hana pada Mama Melisa.
" Oh iya kenalin, Ini Lia dan ini Dainan." Hana menyalami Lia untuk Dainan dia hanya mengatupkan kedua telapak tangan nya. Dainan mengerti maksud Hana, dan dia membalas nya dari jauh juga.
" Kenapa seperti itu?" Tanya Lia bingung.
" Dainan bukan muhrim nya jadi mereka hanya bisa bersalaman dari Jauh." Ucap Mama menjelaskan.
Walaupun Lia belum mengerti maksud Mama Melisa.
" Oh I see." Ucap nya Cepat.
Rubel menyambut Mama nya dan dia terkejut dengan kedatangan sahabatnya dari Sydney.
" Dalam Rangka apa ini?" tanya Rubel penasaran, melihat Lia dan Dainan bersama. Lia menyalami Rubel dari jauh seperti yang di lakukan Hana. Rubel terperanjat melihat kelakuan sahabatnya itu.
" Tumben nih bule jalannya lurus." Ucap Rubel asal. Lia yang mendengar langsung menyahut.
" Kan bukan Muhrim." ucap nya meniru apa yang di katakan Mama.
" Kok tahu?" Tanya Rubel bingung.
" Dia lihat Hana menyalami Dainan dari jauh, dan Mama jelasin bahwa mereka bukan Muhrim." Ucap Mama menjelaskan.
Rubel pun memeluk Dainan.
" How are you??" tanya Rubel pada Dainan.
" Aku baik-baik saja. bagaimana dengan kamu?" tanya Dainan yang sudah lancar Berbahasa Indonesia.
" Alhamdulillah saya juga, ayok masuk." ajak Rubel kepada mereka semua.
Rubel meraih koper Mama nya, dan Mama menggandeng tangan Hana. Dainan dan Lia saling pandang. Jika di Australia mereka berdua bisa bergandengan tangan, tapi di sini mereka seperti orang Asing, Lia menatap Dainan lama.
" Kita bukan muhrim." Ucap Lia Aneh.
" Hai, Kalian berdua santai aja kalian kan satu Agama.
" No, kita belum resmi baru tunangan aja." Ucap Lia meyakinkan. Rubel kaget dia tidak menyangka Dainan benar-benar nekad mendekati sahabatnya itu.
Dainan dan Lia duduk di sofa, Mama masuk kedalam kamar Rahimullah Nyai, seketika air matanya mengalir. Hana memeluk Mama dengan erat.
" Ma, jangan sedih yah." ucapnya menenangkan sang Mama Mertua.
Hana mencoba tersenyum walaupun sebenarnya dia juga sedih dengan kepergian Sang Nyai.
" Ma, Mama istirahat dulu yah Hana mau sholat dulu." Ucap Hana lembut, dan hendak keluar kamar.
" Sayang, Mama mau sholat." ucapnya dan mengikuti Hana.
Rubel mengantar kedua sahabat nya ke kamar masing-masing. Dainan di antar ke kamar Tamu, dan Lia masuk ke kamar Rubel. Rubel mengambil pakaian nya di dalam lemari. dan memindahkan nya ke kamar dia dan Hana.
" Kalian istirahat saja dulu kami mau sholat. ucap Rubel pada mereka berdua.
Tapi keduanya malah mengikuti Rubel ke Mushola Rumah. Semua Orang bergegas mengambil wudhu dan hendak sholat. Mereka semua tertarik melihat ke empat gadis kecil yang juga ikut Sholat.
" Wow, anak sekecil mereka sudah ikut beribadah." Ucap Dainan takjub.
Dainan dan Lia hanya bisa menunggu semua orang selesai Sholat. mereka tertarik dengan gadis kecil yang imut dengan mukena nya, Mira melipat mukenanya, dia melihat ke arah Lia dan Dainan, kemudian menghampiri bule-bule itu.
" Om sama Tante gak ikut Sholat?" Tanya Mira begitu polos.
" Om sama Tante masih belajar jadi belum pintar." Ucap Lia beralasan. Mira mengamati kedua nya dan mulai berceloteh.
" Om dan Tante dari mana?" tanya dia semakin penasaran.
" Kita dari Benua Australia, tempat nya jauh dari Indonesia." Cerita Lia membuat gadis itu terkesima.
" Wow...di Sana ada apa aja Tante???" Mira terus bertanya.
" Disana banyak taman wisata, gedung Opera House, Hewan berkantong."
__ADS_1
" Hewan berkantong?" tanya Mira bingung.
Semua orang memperhatikan celoteh Mira termasuk ibu Maemunah. ibu Maemunah hendak menggendong anaknya, tapi Rubel menahannya.
" Gak apa-apa Bu, biar mereka saling kenal."
" Tapi ibu gak enak Mas Rubel."
" Mereka sahabat Rubel Bu, mereka kesini mau liburan jadi biarkan mereka tahu bahwa kita punya gadis kecil yang ceria seperti Mira." ucap Rubel meyakinkan, dan tersenyum.
Ibu Maemunah tidak bisa mencegah anaknya lagi, Dia pun membiarkan Bule-bule itu bercengkrama dengan si Bungsu Mira.
" Iya Hewan yang punya kantong, namanya Kangguru, kantong itu berfungsi untuk menggendong bayi nya." jelas Lia pada Hana.
" Wah, Hebat yah hewan ada kantongnya, kirain baju aja yang ada kantongnya." celutuk Mira panjang.
Semua orang tertawa mendengar Mira berceloteh, waktu sarapan tiba semua orang pun sarapan. Hana hanya memandangi sarapannya tanpa menyentuhnya.
" Kok gak makan sayang?" tanya Rubel.
" Ana gak selera makan." jawab Hana pelan.
Nampak Hana tidak bersemangat melihat sarapannya. Dia memilih masuk ke kamarnya.
" Mama Hana ke kamar dulu yah." ucap nya mohon izin.
Mama Melisa melihatnya lekat.
" Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Mama begitu perhatian.
" Hana lagi gak enak badan." Ucap Hana pelan. dan berlalu meninggalkan meja makan menuju kamar. Rubel mengikuti Hana ke kamar dia membawakan sarapannya ke kamar.
" Makan sedikit aja yah sayang." ucap nya begitu perhatian. dan hendak menyuapi Hana.
Hana menggeleng kan kepala.
" Terus mau makan apa?" tanya Rubel bingung.
" Mau bubur ayam..." ucap Hana dengan manja.
" Ya udah kalo gitu Ino cari dulu bubur ayamnya yah."
" Ikut..."
" Dirumah aja."
" Enggak mau ikut."
" Ya udah.. yook" Sambil meraih tangan Hana dan menggandeng nya keluar kamar, sambil membawa piring sarapan yang masih utuh ke meja makan, semua mata tertuju ke arah Mereka.
" Mau cari bubur ayam Ma."
" Bubur Ayam?"
Hana mengangguk pelan.
" Kamu ngidam nak?"
Hana hanya tersenyum, tak menampik pertanyaan sang Mama.
" Nggak tahu ma, Hana cuma pengen makan bubur aja." Jawab nya menerangkan.
" Ya Udah hati-hati yah nak, Rubel bawa mobilnya pelan-pelan aja yah nak." ingat Mama pada Rubel.
" Iya ma." jawab Rubel dan mencium pipi sang Mama.
" Kami pergi dulu yah ma." Pamit Hana pada sang Mama.
" Kami pergi dulu yah semuanya." ucap Rubel pada semua yang ada. semua melambaikan tangannya pada mereka berdua.
" Lia dan Dainan, kalian istirahat dulu yah."
Mereka pun pergi menembus jalanan Ibu Kota yang begitu padat merayap beradu dengan Orang-orang yang sedang berjalan menuju tempat kerja Mereka. hiruk pikuk itu senantiasa hadir dikala waktu pagi seperti itu.
Mereka berdua telah berputar-putar mengelilingi jalanan Ibu Kota, tapi tak ada sajian sarapan bubur. Tiba-tiba Hana melihat sebuah gerobak di pinggir jalan di sebuah gang kecil.
" Sayang, itu gerobak bubur ayam kan?" Tanya Hana meyakinkan.
" Iya, kamu mau?" Tanya Rubel meyakinkan.
" Mau." Jawab Hana cepat.
Rubel pun segera memarkirkan mobilnya di dekat gerobak bubur ayam itu. seorang Wanita kira-kira berusia 30 tahunan sambil menggendong anaknya di punggung sedang menjajakan buburnya.
Hana dan Rubel duduk di dekat kursi kecil yang sudah di sediakan oleh penjual bubur ayam.
" Mbak bubur ayamnya 2 yah." Ucap Rubel Pada penjual bubur nya.
" Mbak anaknya kok dibawa jualan?" Tanya Hana penasaran.
" Iya mbak, gak ada yang jagain." Ucap nya agak tercekat.
" Maklum saya disini merantau." Jawab nya pelan.
" Suami nya mana mbak?" Tanya Hana agak sensitif.
__ADS_1
Mbak itu menyiapkan mangkok buburnya nya dan mengantarkan kepada Hana dan Rubel.
" Suami saya udah minggat mbak." Ucap nya dengan nada sedikit kesal.
" Maafin saya yah mbak." Ucap Hana merasa tak enak hati.
" Enggak apa-apa mbak." Saya gak pernah nutupin kehidupan Saya dari orang-orang. anak saya cacat bibir sumbing dari sejak lahir, jadi suami saya tidak menerima anaknya cacat jadi dia pergi meninggalkan kami berdua." ucapnya menjelaskan. dan duduk di dekat Rubel dan Hana.
" Apakah sudah mengurus jaminan kesehatan untuk operasi anak mbak?" Tanya Rubel ingin tahu.
" Saya gak punya KK di sini Mas, jadi gak bisa ngurus jaminan kesehatan." ucapnya menjelaskan.
Rubel dan Hana merasa sangat iba, Mereka terdiam sejenak dan mencoba menyantap bubur ayamnya.
" Bubur ayamnya enak Mbak." Puji Hana pada si mbak penjual bubur.
" Ah mbak bisa aja." Ucapnya merendah.
" Iya mbak buburnya enak." sambung Rubel meyakinkan.
Mereka berdua menghabiskan sarapan buburnya. Rubel menyodorkan 2 lembar uang merah kepada Mbak itu.
" Mas ini kebanyakan."
" Gak apa-apa mbak buburnya emang enak." Jawab Rubel memuji dan tersenyum padanya.
Sebelum mereka pergi Dia menyodorkan kartu namanya pada si mbak bubur.
" Saya Rubel dan ini istri saya Hana." ucap Rubel memperkenalkan diri.
" Saya Sumiyem Mas." jawab nya.
" Mbak Sumiyem kalo ada waktu saya tunggu Mbak di Rumah Sakit Z yah, bawa anak Mbak saya akan bantu pengobatan nya." jawab Rubel menerangkan.
Mbak Sumiyem tak percaya dengan pendengaran nya.
" Maaf maksud Mas Rubel apa?" Tanya nya tak percaya, dan matanya mulai berkaca-kaca.
" Suami saya akan bantuin Mbak Sumiyem untuk operasi anak Mbak." ucap Hana menjelaskan.
Seketika tangis wanita itu pecah, dia tidak menyangka bertemu dengan orang baik seperti Hana dan Rubel.
" Ya Allah, Alhamdulillah terimakasih banyak yah Mas Rubel dan Mbak Hana, saya gak bisa membalas semua kebaikan kalian berdua. semoga Allah senantiasa menjaga kalian berdua, diberikan kesehatan selalu, dan dilimpahkan rezeki untuk kalian berdua." ucapnya begitu bahagia.
" Terimakasih Do'a nya mbak." ucap Hana ikut bahagia Melihat mbak Sumiyem bahagia.
" Saya yang seharusnya berterima kasih Mbak." Ucap mbak Sumiyem bersemangat.
" Kalo mbak ada waktu, datang aja nanti sore ke Rumah Sakit, kita observasi dulu anak Mbak Sumiyem yah." jelas Rubel meyakinkan.
" Baik mas, Makasih banyak."
" Sama-sama Mbak."
Hana dan Rubel pun segera pulang ke Rumah, karena Rubel harus ke Rumah Sakit. diperjalanan Hana tak henti-hentinya memandangi Rubel. Dia sangat kagum dengan suaminya itu, bukan kali ini saja dia membantu orang, Hana juga pasien yang selalu menerima fasilitas gratis dari Rubel sebelum Rubel tahu bahwa Hana adalah gadis kecilnya.
Dia tersenyum melihat kekasih hatinya yang begitu dermawan, dan sangat baik hatinya.
" Kenapa senyum-senyum terus sih?" ucap nya tiba-tiba melihat Hana yang terus memandangi wajahnya.
" Enggak apa-apa sayang."
" Cuma kagum aja sama dokter Cool yang satu itu tu." Ucap Hana dengan genitnya.
" Jangan genit-genit di mobil ah, nanti si EmPi cari Si Mis gimana?" ledeknya gemas.
Seketika wajah Hana memerah, dia merasa tersindir karena beberapa kali Rubel meminta kikuk-kikuk dia selalu saja menolak nya.
" Ntar malam yah." Ucap Hana pelan, dengan wajah bersemu merah.
" Beneran nih?" tanya Rubel meyakinkan.
" Iya, insyaAllah mudah-mudahan Ana sehat yah sayang." Ucap Hana berjanji namun takut dia kebablasan tidur. apalagi sudah beberapa hari ini kondisinya sangat mudah lelah.
Tibalah mereka di Rumah, Rubel membukakan pintu untuk Hana dan mereka berjalan beriringan dengan tangan Rubel tetap menggandeng tangan Hana. keadaan Rumah sudah sangat lengang.
" Kok sepi ya?" tanya Hana bingung sambil mengedarkan pandangannya.
Bibi keluar menemui mereka berdua.
" Bi, orang-orang Pada kemana?" tanya Hana pada bibi.
" Anak-anak udah ke sekolah Mbak, Ibu dan Ibu Mae sama si kecil Mira pergi ke pasar karena stok belanjaan sudah habis."
" Terus Mama dan dua bule itu kemana?"
" Mama ada dikamar sedang beristirahat, Non Lia dan dan den Dainan juga istirahat." jelas Bibi.
Rubel dan Hana masuk kedalam kamar, Rubel mengganti pakaiannya, Hana membantu Rubel menggunakan baju nya. setelah selesai dia mengancingkan baju, dengan tiba-tiba Hana mencium Rubel sangat lama. Rubel pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Hana, tiba-tiba adegan romantis itu buyar saat suara alarm dari ponsel Rubel berbunyi.
" Nanti kita sambung lagi yah." Goda Rubel pada Hana.
Hana tersenyum malu dia tidak menyangka dia berani menyosor Rubel lebih dulu. Rubel pun mencium kening Hana dan beranjak pergi menuju Rumah Sakit.
" Hai sahabat Dokter Cool dukung terus karya Author yah jangan lupa vote, like dan komennya yang banyak 🤗😍"
__ADS_1