
Zaena mengajak Rubel dan Lila berbicara diluar ruangan. mereka duduk dikursi panjang di depan ruangan itu.
" Sebentar lagi Hana akan kita pindahkan ke ruang rawat inap." ucap Zaena menjelaskan.
" Rubel, kau tidak apa-apa? tanya Zaena melihat Rubel begitu murung.
" Entahlah." jawabnya begitu hilang semangat.
" Kau harus semangat, aku yakin ini tidak akan lama."
" Maksudmu??" tanya Rubel dan Lila serempak.
" Hana mengalami Amnesia temporary, atau disebut juga hilang ingatan jangka pendek." Ucap Zaena.
" Aku pernah dengar tapi aku tidak tahu itu." ucap Rubel mulai bersemangat.
" Kira-kira berapa lama?
" Paling cepat satu hari dan paling lama 1 tahun." jelas Zaena membuat semua terperangah.
" 1 tahun??? pingsan dong si Empi." ucap Rubel sedih.
" Si EmPi?" tanya Lila dan Zaena bersamaan.
Rubel terlihat kikuk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Hik, Hik, Hik." ucap nya dalam hati.
" Kenapa ujian ini begitu berat Ya Rabbi." bathinnya meronta-ronta.
Rubel terdiam, membuat Zaena dan Lila tak bisa berbuat banyak.
Hana telah dipindahkan keruang VIP dimana biasanya dia menginap. Harapan Zaena ada kenangan yang tertinggal yang bisa mengingat kan Hana pada Rubel di situ.
Rubel menelpon mama dan Ibu. dia menghampiri Hana dan bersikap seperti biasa.
" Sayang." panggilnya lembut.
" Dok, kenapa panggil Hana sayang??" tanya Hana bingung.
" Kita sudah menikah sayang " ucap Rubel lirih.
" Menikah?? kan kita baru aja kenal masa udah menikah?? tanya Hana dan yang dia ingat mereka baru saja kenal.
" Apa benar kamu tidak ingat apapun? desak Rubel lembut.
" Aku kan baru aja ngelamar kerja sama dokter menjadi perawat Nyai anda." ucap Hana menjelaskan.
" Ya Rabbi, jauh nya amnesia ini." ucapnya sedih.
" Amnesia??" tanya Hana bingung.
Rubel hendak memeluk Hana, tapi Hana menolaknya.
" Kita bukan muhrim dok." ucap Hana cepat.
Rubel diam tapi dia tidak kehabisan akal. dia meraih ponselnya dan menunjukkan foto pernikahan mereka, dan foto-foto kemesraan mereka berdua.
Hana terkejut, dia merasa tidak pernah melakukan itu semua. tapi perasaan nya terhadap Rubel seakan berubah menjadi iba.
" Maafin saya dok." ucapnya pelan namun berusaha lembut terhadap Rubel.
" Gak apa-apa sayang." Rubel tetap dalam pendirian nya memanggil Hana dengan panggilan sayang.
Hana terdiam dia merasa, Kasihan terhadap Rubel, dia berusaha mengingat semua nya tapi sulit. Rubel memeluk Hana dia benar-benar tidak sanggup menahan rasa rindunya lagi.
Hana membiarkan Rubel melakukan itu. dia merasakan begitu nyaman berada di dekat Rubel.
" Kenapa aku merasa tenang dan sangat nyaman di dekat dokter ini?" fikirannya terus bertanya-tanya.
Tak berapa lama semua keluarga datang, mereka benar-benar begitu rindu dengan Hana. ibu dan Mama yang lebih dulu masuk ke ruangan Hana .
Ibu memeluk Hana lama.
" Sayang." ucap ibu lirih. Hana membalas pelukan itu.
" Bu, kok kaya orang rindu?" tanya Hana bingung.
Ibu dan Mama saling pandang melihat Hana bingung.
Mama mencoba memeluknya, dan Hana membalas pelukan itu tapi dia tidak tahu siapa perempuan itu.
" Maaf Anda siapa? tanya Hana bingung.
Ibu dan Mama tersentak kaget.
" Apa ini Rubel??" desak Mama. dan tiba-tiba Zaena masuk.
" Ibu dan Mama boleh Zaena bicara." pintanya begitu sopan, dan mengajak Mama dan Ibu duduk diluar.
" Hana mengalami Amnesia temporary atau disebut juga hilang ingatan jangka pendek." dia hanya mengingat hal-hal beberapa bulan yang lalu. saat dia melamar kerja menjadi perawat Nyai Rubel." ucap Zaena mengejutkan keduanya.
" Apa????" apa ini lama?" tanya mama benar-benar terkejut.
" Paling cepat satu hari dan paling lama 1 tahun tergantung perkembangan Hana sendiri." jelas Zaena.
Mama sangat shock, tentu ini akan membuat Rubel sangat terpukul. mama masuk kedalam ruangan dan menarik Rubel untuk keluar.
" Sayang..." ucap nya begitu lirih. dia sangat paham kondisi Rubel saat ini.
" Iya Ma." jawabnya pendek. Semua keluarga sedih melihat Rubel sedikit murung.
__ADS_1
" Sabar yah sayang." ucapnya berusaha kuat. walaupun dia tahu itu sangat berat bagi semuanya apalagi Rubel.
" Iya Ma, Rubel gak akan nyerah." ucapnya tegar. membuat semua orang terharu.
" Kamu bisa lewati ini semua sayang mama yakin." ucap Mama terus menyemangati Rubel.
" Makasih ma." ucapnya dan memeluk sang Mama begitu lama.
" Ma Rubel sholat dulu." dan dia pamit. Om Purwanto dan Om Purnawan mengikuti Rubel ke Mushola Rumah Sakit.
Zaena meminta para keluarga untuk tidak masuk semua karena akan membuat Hana tidak nyaman. dia ingin Hana bisa rileks agar memudahkan pemulihan Amnesia nya. dan semua orang mengerti.
******
Di Musholah Rumah Sakit, selesai sholat Rubel berdiam diri sejenak, dan berdoa.
" Ya Rabbi, kuatkan lah hamba."
" Sesungguhnya semua adalah kehendak MU."
" Berikan kesabaran dan kekuatan untuk hamba."
" Sesungguhnya hanya kepada Engkaulah Hamba memohon pertolongan."
"Aamiin."
Om Purnawan dan Om Purwanto lebih dulu kembali. Kemudian Rubel kembali keruangan Hana.
" sayang." panggil Rubel lembut.
" Iya dok. jawab Hana pelan.
" jangan panggil dok, Ino suami Ana sayang." ucap Rubel lirih.
" Maaf." jawab Hana pelan membuat dia tak tahu harus merespon apa.
Rubel mengambil tas yang di tinggalkan ibu, dia membuka tas itu, ada pakaian Hana, jilbab dan juga cadar.
" Ganti pakaian yah." ucap Rubel lembut.
" iya. jawab Hana pendek, tapi Rubel tidak juga pindah dari situ.
" Gimana Hana mau ganti pakaian jika dokter masih disini." ucap nya risih.
" Tapi kan Ana istri Ino." jawabnya sedikit kesal.
Hana diam, dia melihat pakaian itu. baju gamis, jilbab dan layer nya.
Rubel tetap enggan meninggalkan Hana. Hana masuk kedalam selimutnya bersembunyi dari Rubel untuk memakai kan bajunya.
" Tapi lagi-lagi dia lupa membuka resleting bajunya." akhirnya dia mengalah.
" Hahahaha." dia benar-benar merasa sangat bahagia. akhirnya Hana mengalah dan meminta pertolongan nya.
" Jangan diketawain kenapa? dengus Hana kesal.
Rubel membantu nya membuka resleting Hana dan lagi-lahi tangan Hana belum juga keluar dari dalam pakaian itu. Hana benar-benar lupa cara memakai pakaian itu.
Rubel tetap berusaha menolongnya walaupun dia beruaha menahan rindu ingin bersama dengan Hana. selama membantu Hana selama itu juga dia tertawa. membuat Hana kesal dengan perlakuan Rubel padanya.
" Puas???" tanya Hana kesal. pakaiannya telah terpasang berkat bantuan Rubel. kemudian Rubel meraih jilbab dan hendak memakai kan pada Hana.
" Apa harus pakai ini?" tanya nya bingung.
" Iya sayang sudah beberapa hari ini Ana menggunakan jilbab dan cadar, apa Ana lupa?" tanya Rubel lembut. Hana menggeleng kan kepala.
" Sini." Rubel pun memakai kan jilbab nya dan menunjukkan kepada Hana foto Hana yang memakai jilbab dan cadar.
" Wah, kok Hana bisa cantik seperti itu yah." ucapnya terpanah. Rubel hanya tersenyum kemudian menunjukkan foto mesra mereka berdua. Hana tersipu malu, dia tidak menyangka bahwa dia dan Rubel begitu romantis dan sangat intim.
" Maaf, maafkan Hana gak bisa mengingat apapun." ucapnya merasa bersalah.
Rubel memeluk Hana begitu erat, tidak seharusnya Hana yang meminta maaf, dia sedikit merasa lega Hana mulai menerimanya walaupun dia tidak ingat tentang mereka.
Hana membalas pelukan itu, dia merasa begitu nyaman entah lah perasaan aneh itu begitu membuat dia merasa bersalah.
Terdengar suara pintu diketuk. Zaena dan Lila masuk melihat mereka saling berpelukan. Rubel seperti enggan melepaskan Hana walaupun sahabat-sahabat nya datang.
" Jiah, mentang-mentang rindu." ucap Zaena meledek Rubel yang tidak melepaskan pelukannya.
" Dokter." panggil Hana tiba-tiba pada Zaena.
" Iya Hana, ada yang bisa saya bantu.
" Apa dokter kenal dengan dokter Rubel? Tanya Hana membuat Zaena dan Lila terkekeh.
" Tentu saja Rubel adalah suami mu, sekaligus dokter mu." terang Zaena.
" Apakah benar kami sudah menikah?" tanya Hana kian penasaran.
Zaena meraih ponselnya, membuka galeri foto pernikahan Hana dan Rubel kemudian menunjukkan foto itu pada Hana.
Kali ini membuat Hana benar-benar sedih, dia merasa kesal karena tidak bisa mengingat apapun tentang mereka berdua. matanya mulai berkaca-kaca. Zaena segera memberi semangat.
" Jangan sedih, cara satu-satunya untuk bisa mengingat itu semua berbuat baiklah pada Rubel dan menerimanya, apapun itu karena kalian memang sudah menikah." Jelas Zaena.
Rubel semakin memeluk nya membuat hana merasa semakin nyaman didekat Rubel. Zaena memberikan resep obat kemudiaan mereka berdua meninggalkan Hana dan Rubel.
Rubel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia mencium Hana dengan lembut. walaupun tak ada balasan dari Hana, Hana menerima ciuman itu, dan merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. jantungnya berdetak begitu kencang. sungguh perasaan yang aneh tapi membuat dia merasa nyaman atas perlakuan Rubel padanya.
Tiba-tiba perut Rubel mulai berbunyi dia baru ingat dia meninggalkan makanan nya dikantin Rumah Sakit.
__ADS_1
" Sayang, Ino ambil kotak bekal sebentar yah." ucapnya pada Hana dan hendak berlalu. tapi rantang itu sudah di Tarok seseorang di kursi panjang di depan ruangan Hana.
Rubel meraih nya dan membawa makanan itu kedalam.
" Apa itu dok?" tanya Hana bingung.
" Panggil Ino sayang." jawab Rubel pelan.
" Eh-iya maaf Ino." ucapnya agak segan.
" Ana mau makan?" tanya dia begitu perhatian. dan membuka rantang itu, Laok nya sudah berganti menu, dia ingat pasti kerjaan Zaena yang telah menggantikan makan siangnya.
Hana mengangguk pelan. menerima suapan Rubel yang begitu perhatian. tiba-tiba air matanya luruh, membuat Rubel terhenti dan menyeka air mata itu.
" Jangan nangis yah sayang, kita akan lewati ini semua. ucap rubel lembut. membuat Hana seperti orang sedang jatuh cinta.
" Apa ini cinta." ucapnya pelan namun terdengar oleh Rubel. Rubel berpura-pura tidak mendengar dia. dia tetap menyuap Hana dan membiarkan Hana terus memandangi nya. Sungguh pemandangan yang sangat langkah. mereka seperti sedang mengulang kisah cinta pertama mereka sebelumnya
Mereka berdua menghabiskan makan siang itu. Rubel benar-benar merasa bahagia karena Hana tidak menolaknya justru semakin terlihat ingin diperhatikan. dia membiarkan perasaan itu agar Hana selalu merindukan dia.
Ibu dan Mama keluar dari ruangan Maria menuju Ruangan Hana. mereka ingin bertemu Hana dan pamit pulang.
"Assalammulaikum."
" Waa'laikumussalam." Ibu dan Mama langsung masuk. mereka bingung melihat Rubel dan Hana yang kian dekat. walaupun seperti itu seperti ada angin segar untuk hubungan Rubel dan Hana.
" Sayang." panggil Mama membuyarkan keduanya yang sedang saling pandang.
" Maaf." jawab Hana merasa kikuk.
Mama mendekati keduanya. dan memeluk Hana.
" Sayang Mama dan ibu akan pulang.. jika ada sesuatu tolong kabari yah."
Hana mengangguk pelan, mengiyakan wanita yang begitu menyayangi nya itu.
" Sayang kami pulang dulu yah." ucap Ibu dan bergantian memeluk Hana. Hana terlihat sedih.
" Bu, kenapa Hana tidak ingat apapun soal ini semua." tanya Hana lirih.
" Gak apa-apa sayang, Rubel akan menjaga Hana Ibu yakin lambat laun, memori Hana akan kembali, dan Hana akan sehat seperti sedia kala." ucap ibu menenangkan Hana. dia benar-benar merasa sangat sedih.
" Maafin Hana yah Ma..." ucapnya pada Mama.
" Gak apa-apa sayang cepat sehat yah." ucapnya. mama dan ibu pun berlalu keluar.
" Dok, maaf Ino." ucapnya salah panggil.
" Jangan tinggalin Hana yah. Hana gak mau sendiri di ruangan ini." ucapnya seperti ketakutan akan sesuatu.
" Iya, sayang." Rubel benar-benar merasa bahagia. walaupun Hana melupakan memori tentang mereka, tapi Hana merasa selalu ingin dekat dengan nya. ini adalah nilai plus buat Rubel.
*****
Setibanya Ibu dan Mama di Rumah. mereka disambut dengan Dainan dan Lia yang hari ini lebih memilih di Rumah.
" Assalammualaikum."
" Wa'alaikummussalam." jawab Lia dan menghampiri Ibu dan Mama. kemudian mereka semua masuk dan duduk di sofa.
" Gimana kabar Hana Tante ?" tanya Lia pada Mama.
" Alhamdulillah sudah baikkan, tapi...."
" Tapi apa Tan?" tanya Lia bingung. dan duduk didekat Dainan.
" Hana mengalami Amnesia temporary."
" Benarkah?" tanya Dainan tak percaya.
" Iya."
" Kasihan mereka, tapi itu gak akan lama. mudah-mudahan Hana bisa segera sadar" ucapnya optimis.
" Ibu..." terdengar suara imut memanggil Ibu.
" Ada apa sayang?" tanya ibu, sambil merangkul gadis kecil itu dan memangkunya.
" Tante dimana?" tanya dia bingung karena hampir beberapa hari dia tidak melihat Hana.
" Tante Hana baik-baik aja sayang sebentar lagi Tante juga pulang." ucap ibu menjelaskan agar Mira tidak terlalu banyak tanya.
" Tapi Mira kangen Tante Hana.
" Gak lama sayang, kalo Tante udah sehat nanti Tante akan ketemu Mira lagi.
" Tante gak pergi jauhkan?" tanya nya begitu polos.
" Enggak sayang, Tante Hananya lagi sakit, dan beberapa hari lagi Tante Hana akan berkumpul lagi bersama kita."
" Benarkah."
" Iya sayang, kalo begitu Mira sangat senang. berarti Allah gak jadi kasih tiketnya untuk Tante Hana." ucapnya. Ibu dan Mama maklum ucapan Mira.
" Iya sayang, Allah masih sayang dengan om Rubel dan kita semua jadinya tiketnya dikasih ke orang lain dulu. ucap Mama menghibur Mira.
" Emangnya tiketnya bisa dikasih ke orang lain yah Bu??"
Semua orang tertawa mendengar Mira terus berceloteh, gadis itu memang anak yang pintar dia selalu saja membuat semua orang tersenyum padanya. Ibu Maemunah tersipu melihat gadisnya yang begitu pintar.
" Hai sahabat Dokter Cool terimakasih atas Suport nya.😍🤗."
__ADS_1