Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 31


__ADS_3

hari telah larut, nyai, Hana dan Rubel telah masuk kedalam kamar masing-masing. Hana merasa sangat haus dan hendak beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. tiba-tiba lampu dirumah itu mati.


Hana merasa sangat ngeri membayangkan rumah sebesar itu mati lampu. tapi tenggorokan nya terasa sangat kering. dia mengambil ponselnya dan menghidupkan lampu senter di ponsel itu.


Berjalan pelan-pelan, terbayang-bayang olehnya ada sesuatu yang berkelebat melewati nya. tiba-tiba dia merasakan bulu kuduk nya merinding. tiba-tiba seseorang melangkah mendekatinya. Hana berteriak sangat histeris.


"aaagh!!" dia hampir jatuh karena menabrak meja dinding yang berada di depannya. seseorang menangkapnya dari belakang.


Hana terperanjat merasakan dirinya sedang ditangkap oleh makhluk halus yang tinggal disitu.


"hei hantu jangan ganggu aku, aku cuma mau ambil air minum, pulang sana ke alam mu." ucap Hana seraya mengusir si makhluk halus. tiba-tiba makhluk halus itu bersuara.


"Aku gak mau pulang aku ingin menemanimu." ucapnya dengan suara menakut nakuti.


Hana kenal dengan suara itu dia pun berbalik melihat orang yang menangkapnya itu.


"ah, Ino ana kirain... " ucap Hana terputus.


"hantu?" jawab Rubel cepat.


"hantu ganteng jawab rubel.


"ih ge-er." ucap Hana.


tiba-tiba terdengar suara yang menggema, kali ini Hana benar-benar merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Rubel merasakan Hana sangat tegang.


"gak apa-apa sayang, ada ino disini." ucapnya menenangkan Hana.


Hana menyorotkan senter ponselnya ke arah depan. Rubel memegang tangan Hana mereka berjalan beriringan sampai ke kedapur. Hana meraih gelas di rak piring dan memencet salah satu tombol di dispenser air minum. dia segera meneguk air minum itu dengan buru-buru. fikiran nya ingin segera balik ke kamar.


Rubel meraih gelas Hana, dan mengambil air minum untuknya.


"Sayang kok pake gelas hana, nanti Rubel ketularan sakit gimana." ucap Hana pada Rubel.


"Gak apa-apa sayang. udahan yok." ucap nya dan mereka berlalu kembali ke kamar.


"sayang, ana takut tidur sendiri." ucapnya pada Rubel.


"Jadi mau Ino temani?" tanya Rubel kepada Hana.


Hana mengangguk pelan. tapi memberi syarat.


"tapi jangan macem-macem yah." pintanya pada Rubel.


"gak macem-macem cuma 1 macem aja." ucap Rubel menggoda.


Hana tidak mematikan lampu senter di ponselnya. dia membaringkan tubuhnya ketempat tidur sedangkan Rubel duduk di Ottoman. dia tidak mau terlalu dekat dengan Hana takut dia tidak bisa mengontrol diri nya. seperti yang sudah-sudah.


Hana terlihat sudah sangat terlelap, Rubel menyelimuti Hana. tiba-tiba wajah Hana seperti sedang ketakutan wajahnya berpeluh keringat. terdengar suara rintihan kesakitan. Rubel mendekati Hana dan mengecek suhu tubuhnya.


"tapi dia gak demam. Hana kenapa?" ujarnya membatin.


" sayang bangun sayang, istighfar." ucapnya pada Hana.


Hana pun terbangun, wajahnya seperti kelelahan.


"ana kenapa sayang?"tanya Rubel.


"cuma mimpi." ucap Hana. tapi dengan raut ketakutan.


"coba ceritakan sama Ino ana mimpi apa?" tanya Rubel penasaran.


"ana mimpi di pukul sama Kirana persis seperti yang ana alami." ucap nya pada Rubel. Rubel mengelus kepala Hana dengan lembut.


"gak apa-apa itu cuma mimpi, gak mungkinkan Kirana jahat lagi, dia kan sepupu ana sendiri, sekarang tidur lagi yah." pintanya pada hana.


Hana mengangguk pelan, Rubel duduk di tepi tempat tidur, sambil mengusap lembut kepala hana. tak berapa lama lampu pun menyala. terdengar derap langkah kaki menuju mereka, tiba-tiba Haikal muncul. Rubel memberi kode kepada Haikal untuk tidak bersuara. perlahan-lahan dia bangun dan berjalan menghampiri Haikal.


"baru pulang kal?" tanya Rubel sambil melirik pada jam dinding yang ada dikamar Hana.


"iya, habis dari klub." jawab Haikal santai.


"oh." jawab Rubel pendek dengan menaikkan kedua alisnya. secara Rubel tidak pernah pergi ketempat-tempat seperti itu.


"kamu kok ada dikamar Hana?" tanya Haikal penuh selidik.


"Tadi mati lampu disini, aku mau keluar mau cari tahu tahu kenapa mati lampu. gak sengaja lihat Hana lagi berjalan dengan ketakutan menuju dapur. jadinya aku ikutin dia, saking takutnya dia menabrak meja dinding di lorong menuju dapur. dia pikir dia sedang di ikuti hantu. sehingga berjalan terburu-buru." kenang Rubel menceritakan kejadian tadi pada Haikal.


Haikal tersenyum, pikirannya menjurus ke arah lain.


"aku pikir kalian berdua habis kikuk-kikuk." ucap Haikal asal.


"hush, kamu pikir segampang itu, aku dan Hana kan belum resmi mana mungkin seenaknya ngerjain yang belum halal." jawab Rubel tegas.


"kirain, kan mumpung lagi berduaan." jawab Haikal asal. mereka pun berjalan menuju sofa di ruang tengah.


"boro-boro kikuk-kikuk dicium aja dia takut Sampek nangis histeris." ucap Rubel mengenang yang telah terjadi.

__ADS_1


"masa sih?" tanya Haikal tak percaya, ternyata sepupunya itu sangat polos.


Rubel mengangguk pelan.


"tapi dengan begitu aku sadar dia belum pernah terjamah oleh siapa pun, dia benar-benar menjaga kehormatan nya demi orang tuanya." ucap rubel.


"kamu sendiri kapan nikah? tanya Rubel pada Haikal.


"aku.?? tanya Haikal dengan nada bingung.


"ehmmm aku dan Mila baru jalan beberapa kali belum sempat ngomong ke dia kalo aku suka sama dia, do'akan saja secepatnya bisa meluluhkan hati Mila seperti nya dia sama dengan Hana tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya." ucap Haikal menjelaskan.


"iya, Mila terlalu sibuk menjadi Asisten ku, sore pun dia bekerja di tempat lain untuk menambah pemasukannya." kenang Rubel.


"makanya kamu buru-buru nikahin dia biar dia gak usah capek-capek lagi cari uang buat keperluan dan kebutuhan dia." ucap Rubel.


"kita lihat saja nanti,jika memang dia adalah jodoh ku kami akan segera bersatu." jawab Haikal.


"aamiin... sip kalo gitu, aku mau tidur, takut kebablasan nanti sholat subuh nya." ucap rubel sambil melihat jam sudah pukul 1 dini hari.


"ok." jawab Haikal pendek. dia benar-benar merasa sangat exciting melihat Rubel yang hidup nya lurus-lurus seperti jalan tol. dia sendiri masih jauh dari sempurna mungkin kurangnya ilmu agama yang di ajarkan papanya. diapu berlalu menuju kamarnya untuk tidur.


sayup-sayup terdengar suara azan. Hana berusaha membangunkan dirinya, walaupun kepalanya agak pusing. dia ingin membangunkan Rubel untuk sholat.


Dia membuka pintu kamar, dan terkejut karena Rubel telah lebih dulu bangun. Dan hendak membangunkan nya. Hana tersipu.


"Kita sholat yuk!" ujarnya pada Hana.


Hana mengangguk dan mengambil mukenah nya di ladder hanger. mereka menuju ruang mushola. Hana meletakkan mukenanya di mushola kemudian mengikuti Rubel mengambil wudhu. kemudian mereka kembali ke mushola dan sholat bersama.


Dipenutup sholat Rubel membalikkan tubuhnya ke arah Hana. dia mengulurkan tangannya pada Hana. Hana menyambut tangan itu dan menciumnya. Rubel memandangnya dengan penuh cinta.


"Sholehah nya calon istriku seandainya kita udah menikah kita bisa langsung ke kamar main kuda-kudaan." goda Rubel pada Hana, seketik wajah Hana memerah.


"ah mulai nih masih pagi udah ngomongin yang genit-genit." ucap Hana sambil mengerucutkan bibirnya.


karena gemes Rubel mencubit hidung Hana.


dan mendekatkan bibirnya ke wajah Hana. dia pun mencium kening Hana sangat lama. tanpa di sadari seseorang sedang memperhatikan mereka. terdengar suara seseorang berdehem.


Rubel terlihat kikuk dia tidak menyangka nyai nya memperhatikan mereka. takut nyainya mendengar waktu dia bilang main kuda-kudaan.


"Nyai." panggil Hana pada nyai.


"kemari sayang jangan kelamaan berduaan gak baik." ucap nyai mengingatkan.


Hana mendorong nyai di ikuti Rubel keluar rumah, untuk menikmati sejuknya udara pagi. sambil menyaksikan twilight. jarang-jarang mereka bisa menyaksikan suasana seindah itu.


"subhanallah, cantiknya." ucap Hana berdecak kagum. mereka pun menghabiskan waktu di taman hingga matahari bersinar terang.


******


Rubel bersiap pergi ke rumah sakit, dia hanya memakai baju kaos oblong, bibi tidak membawa baju kerja nya sewaktu datang kerumah itu.


"Nyai, Rubel kerumah sakit dulu yah, nyai dan bibi beres-beres dulu nanti sore kita pulang kerumah." Ujar Rubel kepada Nyai.


"iya sayang." jawab nyai.


"ana Ino pergi dulu yah." ujar nya sedikit berteriak. tapi tak terdengar suara Hana menyahut.


Rubel pun segera bergegas ke kamar Hana. dia masuk tanpa mengetuk pintu. tapi Hana tidak ada di kamarnya, terdengar pintu kamar mandi di buka. Hana keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.


Hana terkejut melihat Rubel sudah ada di depannya. dia hendak berteriak. tapi Rubel menutup mulut Hana dengan cepat.


"jangan teriak-teriak!" ucapnya pelan.


"ngapain kesini?" tanya hana dengan nada kesal.


"mau lihat ana mandi." ucap nya asal.


Hana hendak berteriak tapi Rubel menahannya.


"Ino kesini mau pamit kerumah sakit."


"tadi Ino panggil ana, tapi ana gak menyahut, makanya Ino kemari." ucapnya sambil menatap Hana sangat lekat. dia berusaha menahan gejolak nafsu nya. melihat Hana hanya berbalut handuk, dengan wangi khas setelah mandi.


"sabar ini ujian." ucap nya dalam hati. Dan hendak berlalu.


"ana ikut yah." ucapnya pada Rubel.


"enggak ana gak boleh pergi kemanapun. Ino gak mau ana sakit lagi." ucap Rubel, sembari membalikkan tubuhnya dan menatap Hana.


"sayang, kalo ana sehat kemanapun akan Ino bawa. jadi sekarang dengerin Ino yah." pintanya pada hana.


hana mengangguk pelan, dengan wajah sedikit kecewa.


"nanti sore ino dan nyai akan pulang kerumah." ucap Rubel pada Hana.

__ADS_1


"Hana juga mau pulang kerumah, gak enak tinggal disini. ibu sama ayah juga gak sampek-sampek dari kemarin." ucapnya sedih.


"ya udah, nanti sore kita pulang sama-sama yah, sekarang ini kerumah sakit dulu." ucap Rubel menenangkan. Dan berlalu meninggalkan Hana.


Sepanjang jalan dia teringat pada Hana yang hanya memakai handuk. leher yang jenjang , dada yang begitu padat berisi, tubuh yang ramping. dengan rambut yang masih basah. membuat libido nya tak tertahankan. sungguh membuat nya tersiksa. dia menghela nafas panjang.


"sabar-sabar ini ujian." ucapnya dalam hati.


******


Rubel tiba di rumah sakit, para perawat dan dokter melihat ke arah Rubel. Lila segera menghampiri sahabatnya itu


"Rubel?" panggil Lila tak percaya.


"kamu gak apa-apa kan?" tanya dia bingung melihat Rubel.


"Alhamdulillah aku gak apa-apa. buktinya sekarang aku bisa kerumah sakit." ucap Rubel sambil menghibur sahabatnya.


"kok bisa?" tanya Lila.


"panjang ceritanya, nanti aku ceritakan. sekarang mau keruangan Pak Kepala." ucap Rubel. Dan berjalan menuju ruang Kepala pengelola.


******


2 jam berlalu Rubel segera menemui lila dan mengajak Lila kekantin rumah sakit. dia memilih tempat yang nyaman untuk bercerita, kantin ini menjadi pojok para tim medis beristirahat, ada yang sekedar melepas lelah, mengisi perut dengan makan siang, bermacam-macam manusia ada di situ.


Rubel memilih di pojok sebelah kanan, tempat itu tidak terlalu ramai.


mereka memesan jus, dan beberapa menu makan siang.


"semua orang menyangka kamu gak akan kembali." ucap lila membuka percakapan.


"aku pikir juga begitu."jawab Rubel.


"bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Lila.


"ibu Hana yang menolongku."jawab Rubel.


"kok bisa?" tanya Lila bingung.


"cerita nya panjang, ternyata ibu nya Hana adalah adik dari Om Purwanto dan Om Purnawan yang telah memaksa ku untuk menikahi putrinya.


"masa." tanya Lila tak percaya.


"Ibunya Hana di usir oleh Om Purnawan kerena memilih orang biasa menjadi suaminya." jawab Rubel.


"tentang masa lalu ibu nya hana gak usah kita bahas yah, nanti aku gak bisa nampung air matamu." ucap Rubel seraya menggoda Lila.


"emangnya hujan di tampung." jawab Lila kesal.


Rubel meneruskan ceritanya.


"ibu nya Hana dan Om Purwanto menggagalkan pernikahan ku dengan Maria.


"Dia menangis hingga memeluk kaki abangnya, dan mengemis agar aku dilepaskan." kenang Rubel.


Lila terpaku mendengar cerita Rubel. dia tidak menyangka bahwa perjalanan cinta sahabatnya itu penuh kejutan. ada suka, ada duka, penuh misteri dan action bak film-film drama Korea.


Rubel dan Lila pun terdiam, dan menghabiskan makan siangnya yang telah dingin.


"bagaimana keadaan Hana." tanya Lila.


"Alhamdulillah Hana udah lumayan baik, tadi dia ingin ikut kerumah sakit, tapi aku melarangnya."


lila mengangguk setuju atas sikap Rubel demi keselamatan Hana.


"apakah ada orang yang bersedia menjadi pendonor." tanya Rubel.


"entahlah kita harus memberitahu kan semua keluarga nya, pendonor bisa saja dari kalangan keluarga bahkan siapapun yang cocok gen nya dengan Hana.


"masa pemulihan nya paling cepat 3 bulan dan paling lama 1 tahun, transplantasi ini juga ada resikonya. jadi kita tidak bisa gegabah mengambil tindakan. bukan seperti pemulihan pada operasi bedah biasa." jelas Lila panjang.


"selama ini aku merahasiakan sakit Hana dari ibu dan ayahnya." ucap Rubel.


"kamu tidak bisa bertindak sendiri, keluarga Hana harus segera tahu kondisi Hana." jelas Lila.


"tapi." ucap Rubel terhenti.


"aku tidak ingin mendengar alasan mu." ucap Lila keras.


"sudah waktunya kamu berterus terang kepada keluarga nya. ini gak bisa dibiarkan terlalu lama. kondisi Hana akan semakin lemah. kita tidak akan tahu sampai kapan dia akan bertahan jadi aku mohon mengertilah."


Rubel terdiam, ucapan Lila benar adanya,tapi dia bingung harus menceritakan keadaan Hana kepada ibu dan ayahnya.


"Aku akan menceritakan semua ini kepada Om Purnawan dan Om Purwanto." ucapnya pada lila.


"ide yang bagus, sudah semestinya mereka tahu,mereka juga keluarga nya Hana. Rubel pun memikirkan cara untuk menyampaikan semuanya kepada kedua om nya Hana.

__ADS_1


terimakasih atas dukungan teman-teman yang sudah singgah, like, komen, Fav, di novel ini. 😍🤗 semoga kedepannya aku bisa lebih baik lagi dalam berkarya. dukung terus novelku yah.😘


__ADS_2