
Rubel berjanji pada Hana akan mengajaknya keluar siang ini, setelah makan siang Rubel berpamitan dengan Nyainya dan mengajak Hana untuk pergi.
"Rubel, mau pergi dengan Hana. Rubel mau mencari Ana. Dia menyalami nyainya. Nyai memandang ke arah Hana, Hana mengedipkan sebelah matanya ke arah Nyai. Nyai membisikkan sesuatu ke telinga Hana.
" Jangan, lama-lama bersembunyi." tegasnya pada Hana. Hanya mengangguk pelan. Mengerti maksud Nyai Rubel.
Mereka pun beranjak dari rumah menuju kampung yang dimaksud, tibalah mereka pada sebuah sekolah SD, setelah 15 tahun Yang lalu banyak perubahan perubahan pada bangunan gedung sekolah.
Rubel berjalan menuju perumahan guru yang Terletak Dibelakang sekolah. Rumah itu pun tak luput dari renovasi. Seseorang sedang duduk diteras rumah, pemandangan diperumahan itu sangat asri. Rubel menyapa orang tersebut dengan ramah.
“ Selamat siang pak.” Sambil menyalami bapak itu.
“ Saya mau tanya, apakah ada bu Rosmia? beliau tingGal diperumahan ini dulunya.
Dan pernah mengajar disekolah ini." Terangnya membuka pembicaraan.
“ Wah saya gak tahu nak saya baru beberapa tahun disini. Ujar bapak itu dan mempersilahkan Hana dan Rubel untuk duduk.
“ Apa, ada yang bisa saya bantu?”
“ Oh , tidak pak , terimakasih informasinya.
Kami pamit dulu.
Ujar rubel sambil menggandeng tangan Hana seperti Sepasang kekasih.
Hana ingin melepaskan genggaman tangannya, tapi Rubel memegang tangan itu sangat erat. Sesampainya di mobil.
" Kenapa dokter Rubel menggandeng saya?” tanya Hana dengan wajah heran.
“ Oh, tidak Ini hanya reflek, agar orang tidak berfikir negatif untuk kita." ucapnya dan berlalu masuk kedalam mobil. Tanpa melihat wajah Hana yang memerah bak udang rebus.
Hana diam, dia tidak ingin Membahas apapun untuk saat ini, tapi lagi-lagi Rubel melihat kearahnya.
“ Apakah kita bisa menemukan Ana?”tanya Rubel tidak yakin.
“ Gak usah khawatir kita pasti bisa bertemu
Ana.” Ujar Hana menyemangati Rubel.
“ Hana akan menemani dokter untuk mencari non Ana.” Ujarnya sambil tersenyum manis.
“ Terimakasih, Terimakasih sudah Mensuportku”.
Rubel sadar sejak bertemu Hana, Rubel seperti punya semangat. Dia tidak tahu seperti apa semangat yang diberikan Hana untuknya, tapi melihat Hana didepannya tersenyum dia sangat bahagia.
Mereka melanjukan perjalanan menuju sebuah mesjid, mesjid itu dulu sangat kecil, tapi sekarang mesjid itu sudah sangat besar dan megah.
Rubel dan Hana turun dari mobil, mereka berjalan kesebuah rumah kecil dibelakang mesjid. Rumah itu Rumah Marbot mesjid Ar-Rahman. Rubel sangat ingat dengan marbot mesjid itu. Dia berharap dapat bertemu dengan Pak Nasir. Seseorang sedang duduk diteras Rumah.
Rubel menyalami marbot mesjid itu, Hana sangat khawatir. Dia yakin Marbot mesjid itu sangat mengenalnya walaupun Hana dan keluarganya sudah lama pindah dari Kampung S.
" Pak nasir, bagaimana kabar Bapak?” tanya Rubel sambil merangkul pak nasir.” Pak nasir merasa lupa dengan wajah Rubel.
Dia pun bertanya.
“ Siapa, yah?” ujarnya sambil mengingat-ingat.
" Saya Rubel pak cucunya Nyai Hafso.
" Oh ya ya Nyai hafso yang tinggal di depan SMU 2 yah.” tanya Pak Nasir meyakinkan.
“ Terus wanita ini Istrinya nak Rubel yah?” tanya bapak sambil melihat Hana sangat lekat.
Rubel tersenyum.
“ Bukan pak ini teman Rubel.” Hana menyalami pak nasir.
“ Mirip dengan anak Bu Wati yah?” tanya bapak lagi. Tiba-tiba Ponsel Rubel berbunyi, panggilan gawat darurat dari Rumah Sakit Z.
“ Maaf Pak Rubel angkat telphone dulu.” ujarnya sopan dan berlalu meninggalkan Hana dan Pak Nasir.
Hana menutup bibirnya dengan jari telunjuk. Dia meminta pak nasir untuk menyimpan Identitas nya.
“ Ini Ana anaknya Bu Watikan ?” tanya bapak tak percaya.
" iya pak, ceritanya panjang."
” Nanti Hana akan kemari lagi dengan Ibu, tapi Bapak harus merahasiakan ini dari Rubel bisiknya pelan. Tiba-tiba Rubel kembali kearah mereka.
“ Maaf pak Rubel harus segera pergi ke rumah sakit.” Ada pasien gawat darurat yang harus segera ditangani.
“ InsyaAllah lain waktu Rubel akan kemari lagi." Sambil menyalami Pak Nasir dan berlalu pergi.
Hana mengikuti Rubel dari belakang, nampak Rubel tergesa-gesa karena ini menyangkut nyawa orang.
" Kamu ikut dengan ku kerumah Sakit. Ini kunci ruanganku, kamu beristirahat dulu disana, Aku akan mengurusi Pasien dulu."
Sesampainya dirumah sakit.
" Ingat jangan dekati perawat-perawat cowok disini mereka semuanya genit!" Ujarnya mengingatkan.
" Satu lagi jangan keluar kamar, nanti perawat-perawat Wanita itu Akan menggosipkan kita. Hana hanya tersenyum. Dan mengangguk tanda setuju.
2 jam berlalu, rasa bosan mulai menyerang. Hana melihat kesekeliling ruangan. Tak ada makanan atau minuman, Hana pun beranjak keluar, Menuju kantin Rumah Sakit.
Hana melihat seorang gadis kecil duduk dikursi roda sedang menangis, perawat-perawat itu tak satu pun bisa membujuknya. Hana mendekatinya.
“ Kenapa menangis?" ujar Hana pada gadis kecil itu, Gadis itu menoleh kearah Hana.
__ADS_1
Tangisnya mereda, perawat-perawat itu hanya berdiri tanpa menghalangi Hana untuk berbicara dengan gadis itu.
“ Tante Siapa?” tanya gadis kecil itu pada Hana.
“ Aku adalah Ibu Peri.” Candanya sambil mengibur gadis kecil itu.
“ Siapa nama mu sayang? dan kenapa gadis cantik sepertimu menangis?” Hana memeluk gadis kecil itu.
“ Kamu mau kan jadi teman tante?”
Lila menyaksikan pemandangan haru itu. Dia tak kuasa melihat ponakan nya itu terus menangis, dan dia terlalu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. sehingga selalu meninggalkan gadis kecil itu dengan perawat-perawat nya.
" Nama ku zanna, tante." zanna menceritakan kecelakaan yang menimpanya dua minggu lalu..
Ketika dia dan bunda nya dalam perjalanan menuju Rumah Sakit untuk menjemput Papa nya yang juga Seorang dokter di Rumah Sakit ini, tapi malang mereka mengalami kecelakaan.
Mobil yang mereka tumpangi menabrak box mobil Yang sedang berhenti. Saat mereka mengelak sebuah pengendara motor yang melaju kencang dari arah berlawanan.
Sang bunda meninggal pada saat perjalanan menuju Rumah Sakit. sedangkan Zanna mengalami lumpuh karena kecelakaan itu.
Cerita Zanna penuh haru. Hana memeluk erat tubuh Zanna. Tak kuasa hatinya mendengar gadis ini bercerita.
Hana meminta izin pada perawat Zanna, untuk membawa Zanna berkeliling ke taman Rumah Sakit, Seseorang hendak melarangnya, tapi dokter Lila membiarkan Hana membawa nya.
" Terimakasih, dok. saya bawa Zanna sebentar." Hana membawa zanna kesebuah taman, taman itu penuh dengan bunga.
Hana bernyanyi lihat kebunku, seperti yang Arya lakukan saat dia di rawat di Rumah Sakit, zanyna tertawa, melihat Hana menghiburnya..
Suara hana memang sangat merdu, orang-orang menyaksikan aksi Hana. Mereka bertepuk tangan, Hana tersipu malu, dia tidak menyangka orang-orang memperhatikan nya.
Hana meminta Zanna untuk bernyanyi Hana ingin Zanna melupakan sejenak kesedihannya.
“ Sekarang giliran Zanna.” Pinta hana pada Zanna. Zanna meneteskan air matanya.. Dia sangat rindu bundanya.
dan menyanyikan sebuah lagu yang sangat syahdu.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku...
Tangis Lila pecah tak kuasa dia menahan nya, dihamburkan pelukan pada keponakan kecilnya.
“ Maafin tante yah sayang.”
" Maafin tante dan Papa yang terlalu sibuk dengan pekerjaan." Rubel dan Dokter Andre telah lama berada ditempat itu.
__ADS_1
Andre menghampiri gadis kecilnya, dipeluknya anak semata wayangnya itu, dia sadar telah membiarkan Zanna melalui hari-harinya sendiri.
“ Maafin Papa sayang, Maafin Papa yang egois membiarkan Zanna melewati hari-hari Zanna sendiri.
"Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan, padahal kita masih dalam suasana berduka”
Hana terharu melihat pemandangan itu. dia mencoba berjalanan ke sebuah bangku panjang, di dekat taman.
Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangannya. Rubel berlari mencoba meraih tubuh Hana dan menggendong Hana kedalam ruangannya.
Dokter lila segera menyusul mereka. melihat adegan tanpa rekayasa bak film - film melo.
Hana memang masih belum pulih, tubuhnya akan tiba-tiba ngedrop.
“ Kamu sudah dibilangin jangan keluar dari ruanganku, masih saja ngeyel.” dia mencubit hidung Hana, seperti biasa kala dia gemas melihat perawat KW nya yang sering membuatnya kesal.
Hana menarik lengan rubel tangan itu terasa dingin. Rubel berhenti menceramahi Hana. dia sangat bersalah.
“ Maafin hana dok.”
" Hana hanya ingin keluar sebentar, hana gak nyangka akan selemah ini."
Dia ingin sekali memeluk Rubel. Kerinduan ini sungguh menyiksanya tapi dia terlanjur membuat sebuah sandiwara.
Rubel mengusap Lembut kepala Hana.
“ Sudah jangan difikirkan. Sebaiknya Kamu istirahat sejenak setelah itu kita pulang.
Waktu hampir magrib, Rubel mengajak Hana pulang. dia membopong Hana kedalam mobil. dia melihat wajah Hana sangat dekat. ada rasa yang tak bisa di ungkapkan. seperti wajah itu sangat dikenalnya, dan sangat dia rindu. dia mengalihkan wajahnya yang memerah saat dia sadar Hana juga memperhatikannya.
Diperjalanan pulang.. Tiba-tiba dua orang menghalangi mereka, tempat itu sangat sepi. Rubel memInta Hana mengunci pintu mobil. Orang itu membawa Senjata tajam.
Menggedor-gedor pintu mobil. Seseorang mencoba memecahkan pintu kaca di sebelah Hana duduk..
Hana hanya berdo’a. Dengan sekuat tenaga dia membuka pintu dan mendorong pintu mobil itu dengan keras hingga orang itu terjungkal ke aspal.
Dia kembali menutup mobil dan menguncinya. Rubel tidak menyangka Hana sanggup melakukan aksinya, walaupun kondisi nya Sangat lemah.
Tapi, Rubel lupa mengunci pintu mobil sebelah nya, dengan cepat lelaki bertopeng itu melingkarkan senjata nya dileher Rubel. Rubel tidak terlihat panik. Dia menuruti kemauan nya. dia turun dari mobil, mengikuti arah lelaki bertopeng yang sedang melingkari senjatanya dilehernya.
“ Serahkan, gadis itu jika tidak kamu akan saya bunuh.”ancam lelaki itu pada Rubel.
Rubel heran. Kenapa perampok ini meminta Hana. Bukan uang atau harta dan lainnya.
“ Kita bisa bicara baik-baik, apa yang sebenarnya kamu inginkan? Ujar rubel mencoba bernegosiasi.
“Kami hanya disuruh membawa gadis itu pada bos.” Ungkap nya dengan suara lantang.” Rubel mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajak lelaki itu berbicara.
Hana mencoba turun dari mobil dia berjalan ke arah belakang. Dia bingung jika dia menendang lelaki itu, otomatis rubel akan terkena sayatan senjata nya.
Dia sadar dia bukan ahli bela diri. dia tidak ingin melakukan kesalahan yang akan berakibat fatal sama Rubel.
Dia mencari sebuah kayu panjang berjalan perlahan-lahan dan memukul punggung lelaki itu dengan sangat keras.
lelaki itu pun tumbang dan pisau itu jatuh ketanah, rubel berbalik melihat ke arah Hana.
Di peluknya Perawat KW nya itu, Hana tidak menyangka Rubel akan memeluknya. Hal ini memang sangat dia rindukan.. Dia membalas Pelukan itu.
Tapi dia teringat sesuatu yang harus segera dibereskan.
“ Dok jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan.”
Hana berpura-pura mendorong Rubel. Rubel merasa canggung dengan aksinya.
Dia melepaskan Pelukannya pelan-pelan. Dia pun tersadar dua lelaki itu harus segera di urus oleh pihak berwajib.
Rubel menelpon polsek setempat, menceritakan kejadian yang baru saja di alami, dan dia meminta polisi untuk segera ke TKP, para penjahat itu ditangkap, dibawa ke polsek. untuk memenuhi prosedur, dia segera membuat laporan. setlah semua selesai, Rubel memohon izin untuk sholat magrib.
Hana mengikuti Rubel dari belakang.
Mereka hendak sholat. Di sebuah mushola di dalam kantor itu, orang-orang telah selesai sholat sejak tadi.
Tinggalah mereka berdua, Rubel dan Hana bergegas mengambil wudhu, dan mereka melaksanakan sholat bersama setelah mengucapkan salam dan berzikir. Rubel melihat kearah samping.
Mengulurkan tangan kepada Hana, Hana menyambut tangan itu dan mencium tangan Rubel. Rubel tidak menyangka Hana akan menyambut salam itu dengan hormat bagai sepasang suami Istri yang sedang sholat bersama.
Mereka terbawa suasana, Hana benar-benar merasakan hal yang sangat dia impikan sejak dulu. sholat berjama'ah dengan imam impiannya, mereka saling memandang. Rubel tak kuasa ingin sekali mencium kening Hana, tapi raga nya tak kuasa.
" Jangan melebihi batas. bathinnya bergemuruh. wajah Rubel memerah. suasana itu berubah seketika... saat seorang polisi memanggil nama Rubel. Rubel melihat kearah orang tersebut.
Dia beranjak mendekati orang itu, Hana merapikan mukena, dan mengikuti kedua orang itu kembali keruangan.
" Siapa gadis itu? tanya polisi bernama dion yang tak lain sahabatnya, dari kecil dia melihat ke arah Hana tanpa berkedip.
" Dia perawat KW. jelas rubel asal.
" Perawat KW?" dion merasa bingung ucapan sahabatnya itu.
" Perawat KW bagaimana?" tanya dion ulang dengan tatapan tak percaya.
" hahaha maafkan Aku." dia Asisten Nyaiku. ujarnya menjelaskan. tapi Dion merasa dia sangat mengenal dengan gadis itu.
" Dia mirip seseorang siapa yah?? ujar nya mengingat-ingat.
" Ah jangan mengada-ada kamu Dion, jangan membuat alibi yang menguntungkan mu." canda Rubel dan mereka pun bercerita sangat panjang. hana memandangi kedua sahabat itu sangat akrab. Hana melihat Dion, dia merasa melihat seseorang yang dikenalnya. tapi dimana dia lupa.
" Terimakasih buat teman-teman yang telah bersedia membaca novelku. dukungan kalian semua membuat aku bersemangat untuk bisa trus belajar memperbaiki Novel ku, yang masih jauh dari kata sempurna. mudah-mudahan aku bisa trus berkarya
bantu vote, like dan komennya"
__ADS_1