
" Hei apa-apaan ini kalian berdua kan bukan muhrim kenapa bisa tidur bareng?" teriak Hana pada Alan dan Mia.
Rubel tidak heran pada kejadian itu, dia maklum sikap gentle nya Alan demi ngejaga Mia melakukan hingga totalitas. Rubel hanya tersenyum membuat Hana berang.
" Dasar mesum, dipikiran kalian cowok semua sama." teriak Hana sambil menatap tajam pada Rubel.
" Hadeuh-hadueh mbak masih subuh-subuh gini udah main petasan aja, pelan dikit Napa lagian Alan gak ngapa-ngapain kok." ucap Alan membela diri.
" hehehe, maklumin aja mbak mu emang gitu kamu juga sih main tidurin anak orang gak pake izin." jawab Rubel membela Hana.
" Jangan-jangan kamu gagal yah dengan misimu?" goda Hana membuat Alan segera bangun dari tempat tidur.
" Misi?" tanya Mia bingung.
" Apa sih mbak lihat aja Alan pasti menang." ucap Alan tak mau kalah.
" Masih ngelak lagi, udah jelas-jelas kamu udah..."
" Ayo sayang biar mereka berdua nyelesaian masalah mereka, kita ke mushola dulu sholat Yook!"
" Eh enggak-enggak tarik tuh bocah biar sekalian sholat sama Ino, Ana gak akan biarin dia seenak nya aja Deket-deket Mia, kalo nanti Ana lihat mereka deketan lagi siang ini juga Ana panggil pak penghulu buat nikahin mereka." ucap Hana kesal.
" Aduh please jangan dong mbak Alan gak ngapa-ngapain Mia kok, beneran Alan cuma ketiduran semalem Mia takut jadi Alan temanin." ucap Alan memberi alasan.
" Eh." tiba-tiba Mia bersuara tapi mulutnya di tutup Alan dengan cepat.
" Awas yah kalo bocorin entar malem tidur sendiri aku gak mau nemenin." ancam Alan dan segera berlalu. Mia hanya termangu dia gak menyangka Alan bisa seperti itu.
Mia pun membenahi tempat tidur, seorang perawat datang dan menegur Mia.
" Mia, kok ribut banget sih kamar mu tadi?" tanya Amoy mencari tahu.
" Iya tadi masuk mbak nya abang Alan, dia marah gara-gara Abang Alan... ehm gak jadi deh."
" Loh-loh jangan bilang kalo kalian???" ucap amoy berasumsi.
" Enggak lah jeng gak ada apa-apanya lagian kita kan sepupuan masa..."
" Kayanya aku emang terlalu baik deh mikirin kamu itu cuma sepupuan, kayanya udah ada cinta deh di hati kamu." sindir amoy pada Mia.
" Eh, siapa juga cinta sama monster cerewet gitu yang ada belum jatuh cinta udah duluan di depak di hatinya." ucap Mia membela diri.
" Hati-hati entar bener-benar bucin loh." sindir amoy. dan meninggalkan Mia yang mencoba membela diri.
" Emang gak setia kawan yah kamu, main kabur aja." gerutu Mia kesal.
Diruangan Rubel dana Hana seseorang tiba-tiba mengetuk pintu dengan keras.
" Spada, mau antarin sarapan bubur ayamnya." teriak seseorang dari arah luar ruangan. Rubel bergegas membuka pintu seseorang nyelonong masuk tanpa salam. Hana benar-benar kesal dengan pengantar sarapan itu. tapi saat topinya dibuka mereka semua malah tertawa.
" Hahahaha sejak kapan CEO HK Cafe jadi pengantar makanan?" ledek Rubel pada Haikal yang tiba-tiba membuka topinya.
" Eh saking baik dan setianya harus bos yang turun tangan buat nganter sarapan buat adik kesayangan." ucap Hana senang.
" Ah ge-er banget sih, aku kesini tuh karena mau jengukin kawan jadi sekalian antar pesanan bubur kamu." ucap Haikal membela diri.
" Ah, masa apa jangan-jangan Haikal ada cewek lain yah." goda Hana tak mau henti.
" Ehm, yang ada cewek lain itu bukan Haikal tapi Rubel." ucap Haikal keras.
" Ah, gak lucu deh becanda nya keterlaluan." ucap Hana kesal.
" Cemburu nih ye." ledek Haikal senang.
" Iya lah, cemburu kan tanda sayang." timpal Rubel.
" Jangan bilang kamu beneran..." ucap Hana dengan tatapan tajam pada Rubel.
" hehehe kena deh, yah udah selesaikan masalah kalian berdua yah aku gak ikut campur tadi cuma kasih bumbu aja." sindir Haikal dan segera berlalu meninggalkan Rubel dan Hana berdua.
" Dasar jahil, gak ada etika beneran bikin orang kesel." ucap Hana.
Rubel tersenyum melihat Hana yang sedang kesal dengan tatapan nanar.
" Jangan bilang Ana lebih percaya si Jae yah dari pada Ino." ucap Rubel sambil memeluk lembut Hana.
" Enggak percaya cuma..."
" Cuma apa? cuma kepancing yah?" tanya Rubel.
" Enggak deh, udah lupain aja dia beneran buat ana jadi laper." ucap Hana mulai lembut.
" Nah gitu dong, urusan perut itu yang perlu di utamain dari pada urusan yang gak jelas kabar beritanya."
" Eits, siapa bilang gak jelas kabar beritanya, itu!!!"
" Jadi lebih percaya si tukang jahil nih dari pada Ino?" tanya Rubel dengan tatapan serius.
Tiba-tiba hana mencium Rubel, dan segera membuka kotak berisi bubur yang dibawa Haikal.
" Tumben cepet bener redanya." ucap Rubel bingung.
" laper sayang, Ana males mikirin si Jae, paling bentar lagi dia balik mau lihat kita berantem." ucap Hana dengan wajah sumringah.
" Satu! Dua! Tiga!" ucap Rubel menghitung.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang menerobos pintu ruangan mereka dengan kasar. Rubel segera mencium kening Hana membuat Haikal merasa tidak enak.
" Beneran kan Ana bilang dasar jae gak pake ketuk pintu, gak salam main muncul aja." ucap Hana terkekeh-kekeh. Rubel dan Hana merasa menang.
" Heuh emang pasangan Anti badai, dikerjain malah makin lengket."
" Enggak empan." ucap Hana sambil mengejek Haikal.
" Iya deh ngalah, kalian berdua emang The Best, aku pulang dulu yah mau beliin rujak." ucap Haikal dan terus berlalu.
" Rujak???" teriak Hana tak percaya.
" Iya Rujak, si cantik lagi ngidam." teriak Haikal dari luar ruangan.
" Alhamdulillah, akhirnya Mila hamil juga." teriak Hana girang. Rubel mendekat semakin mesra memeluk Hana.
" Sayang makan dulu buburnya entar dingin." ucap Hana mengingatkan sambil melirik bubur yang masih menganggur belum tersentuh.
Mereka berdua pun terlihat menikmati sarapan nya. Hana terlihat bersemangat tubuhnya sudah nampak berisi. membuat Rubel iseng mencubit pipinya.
" Udah tambah cabi." ucap nya dengan nada genit.
" Makan dong jangan gangguin macan lagi makan, entar buburnya Ana habisin loh." ucap Hana tetap fokus pada buburnya.
" Makan aja biar kamu sehat, entar Ino pesan makanan lain biar kamu kenyang, dan si jagoan kita juga sehat." ucap Rubel begitu pengertian.
" Sayang, beneran nih?" tanya Hana penuh harap.
" Iya makan aja, masa-masa sekarang kalo bumil nafsuan itu wajar, karena kamu kan makan buat kamu sama sama sikecil." ucap Rubel.
" Makasih yah sayang, Ana habisin nih makannya." ucap Hana cepat sambil menikmati buburnya.
" Nafsuan nya cuma sama makanan aja yah?" sindir Rubel membuat Hana terbatuk-batuk.
" Sayang beneran sayang gak sih bukannya kasih semangat malah bikin ilang selera makan." ucap Hana kesal.
" hehehe ya udah habisin dulu buburnya, gak usah dipikirin lagi omongan yang tadi." ucap Rubel dan bergegas keluar.
" Sayang mau kemana?" tanya Hana bingung melihat Rubel yang segera keluar ruangan.
" Ino beli sarapan dulu yah nanti kita makan bareng." jawab Rubel.
" Ikut!!" seru Hana.
" Gak usah entar kamu capek." jawab Rubel lagi, dan terus berjalan.
" Jangan-jangan Ino marah yah." ucap Hana merasa bersalah.
" Haduh salah ngomong, ya udah tungguin dia balik deh biar makan bareng-bareng." guman Hana sendiri.
Tak berapa lama Rubel balik dengan membawa sekotak sarapan nasi uduk, plus susu ibu hamil.
" Nungguin Ino." jawab Hana cepat.
" Sayang jangan di tungguin Ino kalo inonya telat balik kamu mau telat makan juga?" tanya Rubel, sambil membuka sarapannya di depan Hana. tiba-tiba Saliva Hana menetes melihat nasi uduk yang dibawa Rubel. dengan cepat Rubel mengambil tisu dan mengelap bibir Hana dengan lembut.
" Kamu mau?" tanya Rubel perhatian.
" Dikit aja, boleh?" tanya Hana antusias.
" Banyak juga boleh." jawab Rubel lembut.
" Suapin yah." pinta Hana manja.
Rubel segera mengambil sarapan itu dan menyuapkan pada Hana.
" Gimana rasanya?" tanya Rubel.
" Alhamdulillah lumayan." jawab Hana membuat Rubel bingung.
Hana kembali fokus dengan buburnya tanpa bersuara dia terus menghabiskan sarapannya itu. Rubel belum terdiam melihat Hana tanpa suara menyelesaikan makannya dan membersihkan kotak buburnya.
" Sayang makan dong nanti nasi uduknya gak enak lagi." ucap Hana tiba-tiba setelah membuang sampah buburnya.
" Iya, Ino makan yah kamu masih mau lagi?" tanya Rubel.
" Enggak, nasinya biasa aja, kapan-kapan Ana masakin buat kamu yah." ucap Hana tiba-tiba.
Rubel pun tersenyum, sudah lama Hana tidak memasak untuknya sejak menikah Hana belum pernah masak untuk Rubel lagi. pelan-pelan dia pun menghabiskan sarapannya.
" Sayang, maafin kata-kata Ana tadi yah." ucap Hana merasa bersalah.
" Aduh, kok malah mikirin itu sih, Ino gak apa-apa kok." ucap Rubel.
" Ana gak janji yah tapi kalo moodnya lagi baek, dan badan lagi sehat Ana bakalan layanin Ino dengan baik." ucap Hana.
" Yang penting kamu senang Ino juga senang." ucap Rubel pengertian.
" Makasih yah cinta." ucap Hana lembut sambil memeluk Rubel erat.
" Sehat terus yah kesayangan Ino." ucap Rubel sambil membalas pelukan dan mencium kening Hana.
Matahari mulai meninggi, semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan mereka. Rubel dan Hana pun telah mandi dan berganti pakaian. sudah berapa hari mereka pun sering tidur di Rumah Sakit.
Mia sudah diperbolehkan untuk pulang, hari ini Hana dan Rubel sediakan waktu untuk bisa mengantar Mia kembali kerumah.
__ADS_1
Bibi dan Mang Maman pun menyambut anak semata wayangnya dengan dengan gembira.
" Ibu sehat?" tanya Mia dengan semangat sambil memeluk bibi dengan erat.
" Sehat nak ibu sama bapak sehat-sehat aja." jawab bibi pelan. wajah bibi terlihat tidak bersemangat.
" Ada apa bi?" tanya Hana bingung.
" Den, non Hana bibi mau bilang sesuatu sama kalian." jawab bibi dengan wajah lesu.
" Gimana yah bibi ceritanya." ucap bibi gelisah.
" Ada apa Bu?" tanya Mia bingung.
" Ini soal kamu." jawab bibi.
Mang Maman pun memasang wajah tidak bersemangat.
" Ada apa bi?" tanya Mia sedih.
" Maafin bibi yah nak." ucap bibi terbata-bata.
" Loh ibu kok bilang bibi sama Mia?" tanya Mia bingung.
" Maafin Bibi yang sudah..." ucapan bibi terputus.
" Bapak ibu kenapa?" tanya Mia tambah sedih.
Tiba-tiba seseorang datang dengan wajah tanpa dosa.
" Sayang, kita pulang yah Om ingin kamu pulang ke Rumah Papa kamu." ucap laki-laki itu dengan sok akrab menghampiri Mia.
" Papa?" iya kerumah Almarhum Papa Kamu.
" Almarhum Papa?"
" Maksud nya apa nih?" tanya Mia makin bingung.
" Sekarang tugas kalian udah selesai, hari ini Mia harus ikut dengan ku." ucap laki-laki itu dengan lantang.
Tiba-tiba suara langkah kaki masuk terburu-buru.
" Gak ada yang bisa bawa Mia keluar dengan seenaknya dari Rumah Aku." teriak Alan kesal.
" Kamu punya hak apa?" tanya laki-laki.
" Mia calon istriku!" ucap Alan dengan lantang.
Bibi, Mang Maman, Rubel dan Mia terkejut dengan ucapan itu.
" Gak usah sok baik, aku tahu kalo kamu cuma majikannya Mia, lagi pula Mia akan aku jodohkan dengan anak kawan nya Abang ku." ucap laki-laki itu tak mau kalah.
" Ibu ada apa ini, Mia benar-benar gak ngerti." tanya Mia pada Bibi.
" Maafin Bibi yah non." jawab bibi tertunduk lesu.
" Bapak jelasin sama Mia."
" Maafin bapak sama ibu yah nak."
Mereka berdua benar-benar tidak tahu harus berkata apa kepada Mia.
" Cukup, anda boleh pergi sekarang jangan pernah ganggu kehidupan Mia lagi lagi pula dari sejak lahir apa kamu perduli dengan nya?" teriak Alan kesal.
" Dia adalah keponakan ku dan aku adalah wali yang sah." jawab laki-laki itu sombong.
" Kamu hanya paman tirinya dan gak punya wewenang besar untuk kehidupan Mia, lagi pula ibu dan bapak yang sudah mengurus Mia dari lahir hingga besar bukan kamu." ucap Alan tegas. tiba-tiba laki-laki itu hendak memukul Alan tapi di tangkis oleh Alan.
" Keluar!!" teriak Alan makin kesal.
Security diluar pun segera datang dan menarik laki-laki itu untuk keluar. Mia terdiam dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
" Ibu, bapak besok Alan akan menikah dengan Mia tolong restuin kami." ucap Alan jelas.
" Kamu ngapain sih, ini bukan urusan kamu." ucap Mia kesal dan tatapan penuh tanya kepada kedua orang yang sudah membesar lainnya.
" Ibu sama bapak jelasin sama Mia tentang ini semua!" ucap Mia.
Semua terdiam, bibi memeluk Mia dengan erat. tangisan demi tangisan. Mia terdiam saat bibi mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Mia. Hana ikut bersedih air matanya terus membasahi cadarnya. Rubel memeluk Hana. dia sangat tahu Hana mudah iba.
Alan hanya bisa diam, dia pun sudah mengambil keputusan untuk menikah dengan Mia.
Mia, tersenyum saat bibi menyelesaikan ceritanya.
" Terimakasih ibu dan bapak yang sudah menjaga dan membesarkan Mia seperti anak sendiri, maafin Mia sudah berfikiran buruk sama ibu dan bapak, kalian adalah harta yang berharga buat Mia, Mia gak akan pernah membenci kalian." ucap Mia sambil menghambur kan pelukan pada bibi dan mang Maman.
" Buat kamu aku mau bicara berdua." ucap Mia serius.
" Kenapa harus berdua, kan bisa disini." ucap Alan cepat.
Mia bangun dan menarik tangan Alan, Hana dan Rubel pun tersenyum mereka tidak menyangka di saat-saat seperti ini Alan bisa bersikap sangat rasional dan dewasa. bibi dan mamang hanya bisa pasrah dengan keputusan Mia.
"
"
__ADS_1
"
" Penasaran Kan pantau terus yah, maafin Author yang baru sempat update, terimakasih untuk semangat yang luar biasa untuk terus mendukung karya Author." i love u All."