
Rubel tidak ingin beranjak dari tempat itu, dia mencoba menyuapi hana, setelah ibu memberikan sepiring nasi makan siang untuk Hana. ada Laok cumi sambel dan sayur asem.
" Makan dulu yah sayang." ucap nya pada Hana. Hana mencoba bangun.
" Tenggorokannya sakit." ucap nya pada Rubel.
" Makan yang pelan yah." bujuknya lembut.
Rubel melihat luka di leher Hana.
" Selesai makan kita obati luka itu yah. ucap Rubel sambil menunjukkan leher Hana.
Hana mengangguk pelan. dia merasa trauma nya semakin berat.
" Jangan tinggalin Ana lagi yah sayang." ucapnya lirih. sambil memandang Rubel lekat
Rubel membalas tatapan Hana, dia mencium kening Hana.
" iya sayang Ino akan menjemput nyai kemari. ana gak akan kesepian lagi." ujarnya menenangkan.
ibu menyiapkan makanan siang kedua abangnya dan ayah nya Hana.
"dek habis makan Abang pamit dulu yah, mau ke Bareskrim." ucapnya pada ibu hana. sebenarnya dia ingin lebih lama lagi membahas cafe dan resto yang di usulkan Haikal untuk adiknya itu.
"iya bang." jawab ibu.
suasana hatinya sudah lebih baik dari pada tadi.
"benar kata Haikal, masakan mu enak." ucap abangnya Purnawan. yang sedang makan.
"biasa aja bang, masakan Wati masakan sehari-hari."
"setelah akad nikah Hana selesai kita akan segera membuka cafe dan resto untuk mu." ucap Abang Purnawan.
ibu Hana diam, dia sebenarnya tidak ingin menyusahkan abang-abang nya.
"mulai hari ini kamu jangan lagi menitip kue di warung-warung. kasihan Hana sendiri dirumah." ucap Abang Purwanto.
"iya bang." ucap ibu pelan. dia juga merasa bersalah karena meninggalkan Hana. padahal dari sejak pagi perasaan gelisah trus menghampiri nya.
"ini untuk mu." ucap Abangnya Purnawan sambil memberikan kartu ATM kepadanya.
"nanti kamu ganti saja password nya."
"tapi bang?"
"itu semua uang papa bukan uang Abang, itu punya mu, selama ini Abang simpan."
"beberapa perusahaan-perusahaan yang Abang punya juga hasil dari investasi tabungan itu."
"Dan kamu juga pemilik beberapa saham itu." ucap abangnya.
ibu Hana sangat terharu, selama ini dia merasa abangnya sangat membencinya hingga mengusir dia dan ayahnya Hana. tapi selama itu juga abangnya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuknya.
"makasih bang." ucap ibu dengan mata berkaca-kaca. sambil memeluk abangnya.
Abang Purwanto mendekat pada ibu.
"dek Abang pergi dulu yah." Abang akan menyuruh orang untuk mengambil mobil baru untuk kalian biar gak kehujanan lagi." ujar abangnya Purwanto.
ibu mengangguk pelan, hari ini dia merasakan kebahagiaan yang tiada Tara setelah kejadian pilu yang menimpa Hana anak gadis nya.
"Alhamdulillah terimakasih banyak yah abang- abang ku." ucap ibu manja. dan abangnya Purwanto segera pergi meninggalkan mereka semua.
ibu adalah adik bungsu yang sangat manja dengan Abang-abangnya. dari ibu kecil semua sangat menyayangi ibu. sejak papa dan mama nya meninggal ibu sangat di sayang oleh kedua abangnya. maka nya Abangnya Purnawan sangat marah kepada adiknya karena lebih memilih Ghana ayahnya hana untuk menjadi suaminya.
"sebetulnya kamu tidak perlu pusing untuk biaya hidup. cukup dengan uang yang ada di tabungan itu bisa membiayai kalian sekeluarga.bahkan sampai anak cucumu." jelas abangnya Purnawan.
ibu terbelalak mendengar penjelasan abangnya.
ayah hanya bisa diam. merasa dirinya tak bisa berbuat banyak untuk membahagiakan istri dan anaknya.
"kamu Ghana kamu akan kembali ke kantor untuk membantu ku." aku akan memberikan pekerjaan yang sesuai Dengan bidangmu."
"tapi, bang?"
"tapi apa? mau bilang bahwa kamu sudah tua." ucapnya seakan paham kegelisahan ayah nya Hana.
ayah dan ibu tersenyum mendengar abangnya berbicara.
Tanpa terasa hari sudah sudah semakin sore.
"sayang Ino balik kerumah jemput nyai dan bibi yah." ucap nya pada hana. yang masih terlihat lemas duduk di sofa.
"iya, hati-hati yah sayang." ucap Hana pada Rubel.
sore itu langit masih kelabu pertanda akan turun hujan lagi. Rubel segera menarik pedal gas mobil nya. Dan berlalu dari rumah Hana.
sesampainya dirumah. dia segera mencari nyainya.
"Bi nyai mana?" tanya Rubel pada bibi yang sedang menyapu.
"nyai di dalam den, habis sholat ashar." jawab bibi.
Rubel segera masuk kedalam kamar nyai nya.
"Nyai." panggilnya.
"iya sayang. kok telat pulangnya? kamu udah makan?" tanya nyai bertubi-tubi.
'Udah nyai, tadi dirumahnya Hana." jawab Rubel.
__ADS_1
"ada apa?" tanya nyai pada Rubel yang terlihat bingung.
"Nyai, mau gak kita nginap dirumah ana lagi?" tanya dia sangat pelan.
"ada apa sayang?" desak nyai nya.
"tadi ana...." ucapnya terpotong takut nyai nya susah.
"kenapa dengan ana? kamu jangan membuat nyai tambah khawatir." ucap nyai nya.
"Kirana menyakiti ana lagi?" ucap Rubel dengan nada tertahan.
"apa maksudmu?" tanya nyai tak percaya.
"bukan kah mereka sepupu an?"
"kirana... ingin rumah itu. dia sangat membenci ana karena papanya memberikan rumah itu kepada ana."
"Astagfirullah."
"sepertinya dia harus di bawa ke psikiater. tingkah lakunya seperti psikopat." ucap nyai kesal.
"bagaimana keadaan ana sekarang?
"dia udah lumayan baikan, Ino janji sama ana akan bawa nyai dan bibi kerumah itu lagi. ujar Rubel pada nyai.
"sebenarnya nyai tidak ingin tinggal dulu di situ sampai kamu dan ana selesai ijab kabul." tidak baik laki-laki dan perempuan tinggal satu rumah tanpa ikatan. walaupun ada ayah, ibu, dan juga nyai." ucap nyai.
"kamu harus benar-benar bisa mengontrol dirimu, jangan sampai kalian melakukan hal yang tidak-tidak sebelum semua sah di mata Allah." nasehat nyai pada Rubel.
" iya nyai, Ino janji sama nyai, Ino akan menahan diri Ino sampai hari itu tiba."
Rubel membantu nyai mengemas pakaian yang perlu - perlu. dia pun keluar kamar nyai untuk memberi tahu bibi agar segera berkemas.
Dia pun mengambil pakaian kerjanya, dan beberapa baju santai serta peralatan dokternya, stetoskop, tensi digital, termometer, dan tabung oksigen portabel. untuk berjaga-jaga.
Bibi membantu nyai keluar dan mereka pun berangkat, diperjalanan rubel menghentikan mobilnya di parkiran mini market. membeli beberapa keperluan dan makanan agar ibu ana tidak perlu repot-repot berbelanja.
Dia keluar dari mini market itu,banyak barang belanjaan nya sehingga kursi depan penuh dengan belanjaan itu.
"banyak banget den belanjaannya." tanya bibi heran.
"biar bibi gak usah capek-capek belanja lagi." jawab Rubel.
"kirain kita mau ngungsi ke pedalaman." ujar bibi asal.
Rubel hanya tersenyum mendengar bibi mulai berceloteh. sampailah mereka di rumah Hana. Rubel meminta Leo, untuk membantu membawakan barang belanjaan.
"leo, Diko mana? tanya Rubel.
"gantian sift mas." jawab Leo.
"iya mas." jawab leo cepat dan segera membawa belanjaan itu kedalam. rumah.
"assalamualaikum."
"waa'laikum salam."
"kok banyak banget belanjaan nya nak?" tanya ibu. melihat Leo yang bolak-balik bawa belanjaan.
"biar ibu sama bibi gak sering keluar buat belanja." jawab Rubel.
"kenapa gak sekalian buka warung aja?" tiba-tiba Haikal muncul.
"iya, ntar den Haikal yang jualan yah." timpal bibi pada Haikal.
"Bibi bisa aja." kalo aku yang jualan ibu-ibu nya pada minta di gratisin semua. secara Haikal kan ganteng." ujarnya sok ganteng.
"Iya ntar bibi duluan yang ngerayu den Haikal." ucap bibi cepat. Dan berlalu ke belakang.
semua tertawa ada aja yang di pikir sibibi buat mencairkan suasana.
nyai menghampiri Hana di kamarnya. Rubel membawa tas dan peralatan nya kedalam kamar. kali ini dia memilih kamar disebelah kamar Hana.
"Bu Rubel minta izin untuk tidur bersebelahan dengan kamar Hana yah bu." ucap Rubel pada ibu."
Nyai melirik memberi kode kepada Rubel.
"Iya nyai Rubel janji!" ucapnya kepada nyai.
"Kenapa mak?" tanya ibu pada nyai.
"em.. gak apa apa Ti." jawab Nyai dan segera mengalihkan pembicaraan kepada Hana.
"Gimana sayang keadaan ana? tanya nyai pada hana.
"Enggak apa-apa nyai udah lumayan berkurang sakitnya." ucap Hana.
Nyai tidak tahu Hana mengalami kekerasan apa. yang nyai tahu Hana disakiti oleh Kirana.
"leher mu kenapa?" tanya nyai heran,melihat leher ana membiru.
Hana bingung mau menjawab apa,dia pikir Rubel akan menceritakan semuanya kepada nyai.
"Itu yang dilakukan oleh Kirana Mak." jawab ibu.
"astagfirullah."
"emak pikir cuma di pukul atau di tampar." ucap nyai.
"Enggak, mak Hana dijerat pake tali." jawab ibu cepat.
__ADS_1
"ya Allah segitu teganya gadis itu."
"mungkin dia lupa yah atau dia pura-pura lupa, kalo Hana dan dia sepupu an."
"ada apa nyai?" tanya Haikal bingung. mendengar ucapan nyai barusan.
Rubel menarik lengan Haikal dan mengajak nya keluar kamar.
"eits jangan tarik-tarikan emangnya kamu mau ngapain ngajak aku keluar." tanya Haikal heran.
"diem aja kenapa." ucap Rubel kesal.
"kamu belum dengar apapun yang terjadi dirumah ini? tanya rubel pada Haikal.
"dengar apa?" tanya Haikal dengan wajah serius.
"Kirana hampir saja membunuh Hana dengan tali yang dijerat keleher hana." ucap Rubel pada Haikal.
"Ah, mana mungkin? kamu bercanda kan? tanya Haikal tak percaya.
" kamu mau ngarang cerita yah?" tanya Haikal menyelidik. Rubel mengajak Haikal kembali ke kamar Hana.
"sini deh biar jelas. lihat tuh leher Hana." sambil menunjukkan ke leher Hana.
Hana bangun dan melihat kearah dua pria yang sedang menyebut namanya.
"Ada apa?" tanya Hana bingung.
Haikal melihat Hana dengan lekat, dia melihat lingkaran biru dileher Hana.
"Terus Kirana nya kemana?" tanya Haikal.
"hus... kode Rubel agar Haikal bisa memelankan suaranya. dan menarik Haikal keruang tengah.
"Ops, aku penasaran." ucap Haikal.
Haikal terdiam dia tidak menyangka adiknya akan berbuat hal senekat itu lagi.
"motifnya apa?" tanya Haikal masih penasaran.
"Karena Om Purwanto memberikan rumah ini kepada Hana, dia sangat marah karena awalnya papa mu memberikan rumah ini kepadanya." ucap Rubel menjelaskan.
"aku paham, yah aku ingat papa pernah memberi kan rumah ini padanya. tapi aku tidak menyangka dia bisa Setega itu pada Hana ." ucap Haikal.
"Hana juga bilang akan memberikan semua yang Kirana mau, tapi Kirana terus menyeret Hana dari dapur sampai keruang keluarga, tanpa ampun hingga Hana terkulai lemas tak berdaya." cerita Rubel pada Haikal.
Haikal terdiam, dia ingat Kirana pernah mencambuk hana dengan rantai gara-gara dia dan Rubel membela Hana.
"sepertinya dia harus dibawa ke psikiater." ucap Haikal lemas.
Rubel diam dia tidak ingin menyudutkan Kirana, bagaimanapun Haikal dan Kirana adalah saudara 1 ayah.
Rubel membiarkan Haikal tenang di ruang tengah. dia pun berjalan ke arah kamarnya hendak beristirahat sebentar, sebelum sholat magrib.
semua sudah berkumpul di ruang mushola rumah itu. Haikal menghampiri mereka semua. selama ini dia jarang sholat, bisa dikatakan mungkin cuma setahun 2 x, itu pun cuma sholat Idul Fitri dan Idul Adha.
"bro bantuin aku bro, aku lupa cara mengambil wudhu." bisik Haikal pada Rubel.
Rubel mengajak nya mengambil wudhu dan mengajarkan Haikal pelan-pelan. Haikal merasa sedih dia benar-benar seperti seorang. muslim yang hanya Lebel di KTP saja.
"ayok!" ajak Rubel ke ruang mushola.
mereka semua sholat, Hana juga ikut di belakang bersama nyai, bibi dan ibu.
Haikal merasa dirinya seperti manusia yang baru. ada semangat membara pada dirinya untuk bisa lebih baik lagi.
seseorang muncul di belakang mereka, memperhatikan mereka semua sholat.
laki-laki itu pun bergegas mengambil wudhu dan mengikuti sholat itu.
Sholat telah selesai tinggal Haikal dan seseorang yang baru saja tiba. mereka menangis. memohon ampunan. Pada. Allah SWT. suara mereka terdengar lirih. Rubel, ayah dan yang lainnya merasa terenyuh melihat kedua lelaki itu berdo'a dengan penuh penghayatan.
mereka berdua tersadar bahwa sedang diperhatikan oleh banyak mata.
Haikal melihat kebelakang. ternyata Papa nya sedang menangis memohon ampunan.
"Pa." panggilnya pada papanya. mereka berdua tak kuasa menahan hatinya.
"maafin papa yah nak. maafin papa yang tak pernah mendidik kalian dengan benar, dan tak pernah mengajarkan ilmu agama pada kalian.
"sekarang papa sadar, Papa telah membiarkan kalian terjerumus pada kegilaan dunia semata."
"maafin Haikal juga pa. Haikal tidak menyangka kehadiran Hana dan keluarga nya membuat kita seperti manusia yang baru saja dilahirkan."
"kita tidak punya bekal apa-apa di dunia ini. kita terlalu terlena menghabiskan waktu berjam-jam tanpa melakukan ibadah padahal tanpa NYA kita tak ada apa-apa nya." mereka berdua saling berpelukan.
"kita makan malam yok!" ajak Rubel kepada mereka berdua. agar mereka berdua bisa melupakan kesedihan mereka.
"ibu dan bibi telah menyediakan makan malam yang spesial hari ini." menu malam ini makanan kesukaan keluarga Agiawan. Nasi Ayam Hainan. bagi yang suka pedas bisa menambahkan sambel." ucap ibu sambil berpromosi seperti orang yang sedang berjualan. aksi ibu menghibur sejenak Abang dan keponakan nya.
Om Purwanto mencicipi makanan itu, sudah sangat lama dia tidak pernah makan makanan itu. dulu sewaktu mereka kecil mamanya suka sekali memasak ini.
"kaya masakan mama."
"gak ada bedanya." ucap Om Purwanto dengan air mata yang turun tanpa bisa di tahan.
"makan yang banyak yah bang." ucap ibu ikut merasakan apa yang abangnya rasakan.
Mereka mengenang sejenak masa kecil nya yang sangat indah, dengan kedua orang tua yang selalu melimpahkan kasih sayangnya untuk mereka, bahkan papa dan mamanya sangat fanatik dengan agama walaupun mereka hanya mualaf.
dukungan author yah, Dengan favorit, vote, like, komen dan share yang banyak. terimakasih 😍🤗
__ADS_1