
Hari sudah siang tapi matahari tak juga kunjung batang hidungnya. cuaca dingin menemani mereka siang itu, Hana bersusah payah untuk beradaptasi dengan suhu yang begitu nyungsep yang biasanya 31°celcius sekarang harus menerima kenyataan 15° Celcius menyergap tulang sendinya. Di dalam AC saja dia sangat kedinginan dan alerginya kambuh apalagi dengan suhu seperti ini tentu saja bukan hal yang biasa baginya.
" Hachim."
" Hachim."
Alergi mulai menyerang Hana, dia pun menarik bedcover nya dan menyelimuti tubuhnya yang mulai terasa dingin. Rubel mencoba memeriksa kopernya berharap dia tidak melupakan jaket tebalnya, Tapi lagi-lagi dia lupa membawanya.
" Argh." umpatnya kesal.
" Kenapa?? tanya Hana bingung.
" Ino lupa bawa jaket tebal." ungkapnya.
" Ya sudah kita tidur aja gak usah kemana-mana." ucap Hana memberi solusi. sambil menutup semua wajahnya dengan kain tebal itu.
" Jangan dong, kita harus segera cek in di Hotel yang sudah di booking oleh om Purwanto, kan sayang jika tidak segera di tempati." ucap Rubel menjelaskan, kemudian bergegas ke luar kamar. dia melihat Mama nya sedang menonton TV.
" Ma." panggilnya pelan, dan sang Mama menoleh ke arahnya.
" Ada apa???"
" Rubel lupa membawa jaket untuk Rubel dan Hana." ucapnya dengan memelas.
" Ya ampun kenapa kamu bisa teledor seperti ini, kan kasihan Hana." ungkap sang Mama kesal.
" Iya Ma Rubel benar-benar lupa." ucapnya merasa bersalah.
Mama bangun dari Sofanya dan berjalan ke arah kamar, kemudian keluar membawakan 2 buah jaket tebal untuk Rubel dan Hana.
" Nih." ucap Mama sambil menyodorkan 2 buah jaket pada Rubel.
" Makasih Ma, Mama baik deh." ucapnya dan segera berlalu. mama hanya menggelengkan kepala melihat anak bungsunya itu.
" Sayang."
" Heuh." jawab Hana singkat namun tidak juga kepalanya keluar dari selimut tebal itu. perlahan-lahan Rubel pun mendekati mencoba mengerjai Hana. dengan mendekatkan diri di depan Hana yang masih tertutup selimut.
" Sayang." panggilnya agak keras membuat Hana terkejut dan bangun sehingga kepala Rubel terantuk sangat keras.
" Auh." Hana menggaduh kesakitan, pasalnya kepala Rubel tepat mengenai hidungnya dan darah segar pun mengalir dari hidung Hana.
" Kenapa Ino ngagetin Ana." ucap nya sambil menutup sebelah hidungnya dengan jari nya."
" Habis di panggil jawabnya cuma heuh, apa gak ada ucapan yang lebih bermanfaat selain dari kata Heuh." jawab Rubel kesal dan ke luar kamar menuju dapur mengambil es batu di kulkas dan handuk kecil untuk mengompres hidung Hana. hana hanya diam tidak ingin ambil pusing sikap Rubel yang sedari dulu memang jutek.
Rubel kembali membawa semangkok es batu dan handuk kecil. dengan cepat dia mengompres hidung Hana. karena suhu sangat dingin darah yang keluar juga tidak banyak, mimisan pun segera berhenti.
Rubel segera menarik jaket tebal yang di ditaruhnya di atas tempat tidur. dan memberikan nya pada Hana.
" Kita mau kemana?" tanya Hana berpura-pura lupa.
" Kita mau ke bulan!! kamu gak mau ikut?? tanya Rubel ketus. tapi di dalam hatinya dia hanya bercanda menggertak Hana.
" Enggak ah gak mau ke bulan, maunya ke Hotel aja." jawab Hana pelan tanpa melihat ke arah Rubel. Rubel tahu Hana ngambek dia pun berinisiatif untuk mengerjai Hana lagi.
" Pergi aja sendiri Ino mau tidur." ucapnya masih dengan nada ketus kemudian membenamkan tubuhnya pada selimut tebal yang digunakan Hana.
Hana tidak habis pikir dia pun bangun dan berdiri ditepi tempat tidur, membuka semua pakaiannya yang tersisa hanya pakaian dalam nya, membuat Rubel segera membuka selimutnya.
" Mau ngapain??" tanya Rubel bingung.
" Mau tidur lah, kan Ino gak mau pergi ke Hotel jadi Ana juga gak pergi." ucap Hana dan kembali ke tempat tidur. membuat Rubel tidak bisa menahan gejolak hasratnya melihat Hana menampakkan lekuk tubuhnya di hadapannya. dia tetap diam berpura-pura tidak tergoda. Hana pun tidur menghadap Rubel membuat Rubel semakin hilang kesadaran nya. dia pun tidak menyia-nyiakan suguhan hangat siang itu. mereka pun menghabiskan waktu hingga waktu makan siang tiba.
" Sayang, ayok kita ke Hotel." ajak Rubel pada Hana yang masih saja bermalas-malasan ditempat tidur.
" Iya." Rubel bangun dan segera ke kamar mandi. di ikuti Hana yang berjalan tertatih-tatih dan berpegang sebelah pada tembok. Rubel melihat kebelakang, dan segera menghampiri Hana. memegang tangan Hana mereka mandi bersama.
Selesai sholat mereka berdua segera keluar kamar membawa koper. Mama tersenyum melihat anak dan mantunya.
" Jadi kalian honeymoon?" tanya mama sedikit menggoda.
__ADS_1
" Tepatnya bukan honeymoon tapi liburan." ungkap Rubel lembut dan melengkungkan bibirnya tersenyum pada sang Mama.
" Bawel." tiba-tiba Hana menyeletuk.
" Iya benarkan bukan honeymoon." ucap Rubel membela diri.
" Tapikan kita ke hotel cuma berdua Ino sayang." ucap Hana dengan intonasi sedikit ditekan. Rubel hanya diam tak membalas ucapan Hana. dia tetap menggandeng Hana. yang berjalan sangat lambat. Rubel pun menarik kursi roda.
" Buat apa??" tanya Hana bingung.
" Ya buat Ana lah masak buat Ino." jawab Rubel ketus. Mama hanya menggelengkan kepala melihat Rubel yang kumat juteknya.
" Gak mau." ucap Hana menolak.
" Sayang, kalo nunggu Ana berjalan kapan kita sampai ke Hotelnya?" sahut Rubel mulai memelankan suaranya.
" Bulan depan." jawab Hana ketus, membalas ucapan Rubel yang dari tadi ketus.
" Ya udah kalo gitu Ino tunggu Ana berjalan aja jadi bulan depan baru kita sampai ke Hotel nya." ledek Rubel sambil duduk di sofa membiarkan Hana berdiri sendiri. dengan sigap Hana menarik kursi rodanya dan duduk dengan santai. Rubel terkekeh menang mengerjai Hana.
" Puas?!?!!" dengus Hana kesal. sambil membuang muka. Rubel pun segera membelai kepala Hana.
" Ma, kami pergi dulu yah." pamit Rubel dan mereka berdua memeluk Mama.
" Iya sayang, jaga menantu dan cucu Mama dengan baik yah." ucap Mama mengingatkan.
" Siap bos." ucap Rubel cepat sembari memberi hormat pada sang Mama, tingkah konyol itu mengundang tawa Mama dan Hana. Rubel segera meraih kunci mobil di gantung di dekat pintu. mereka berdua segera meninggalkan rumah menerobos jantung kota Sydney. gedung-gedung menjulang tinggi membuat Hana begitu takjub.
Rubel berhenti di sebuah hotel mewah berbintang Lima. Pullman Quay Grand Sydney Harbour. dia pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Mereka berjalan ke loby hotel dan segera menunjukkan bukti booking pada resepsionis dan juga pasport. resepsionis itu memberikan key card kepada Rubel dan dia tersenyum manis melihat Hana, ini adalah pemandangan yang sangat jarang bagi mereka, melihat muslimah bercadar. Hana membuka sebentar wajah nya ke arah resepsionis itu dan membalas senyuman nya.
" Wow, beautiful." ucap resepsionis itu terpanah.
" Thanks." jawab Hana pelan, takut salah menyebutkan maklum Ini adalah pengalaman pertamanya di luar negeri, dan dia hanya bisa sepatah dia kata bahasa Inggris waktu dia masih duduk di bangku sekolah.
Rubel segera mendorong kursi roda Hana masuk ke dalam lift. mereka pun segera melihat nomor kamar Yang ada di key card.
Rubel segera menempelkan keycard dan pintu kamar pun bisa dibuka.
" Wow, cantiknya." ucap Hana terpanah melihat pemandangan yang di suguhkan dari luar hotel. Rubel membuka pintu dan berjalan ke arah balkon Hana segera mengayuh kursi rodanya mengikuti Rubel yang lupa pada istrinya.
Hana mendekati Rubel dan mencubit pelan perut Rubel.
" Berasa masih lajang yah?" tanya Hana sedikit kesal. namun kesalnya buyar saat sebuah kapal very melintasi di bawah mereka. membuat Hana terus berdecak kagum.
" Au sakit, memang nya Ino gak boleh melajang. ucap nya menggaduh dan mengerjai Hana.
" Kalo kaki ini bisa jalan lebih cepat kayanya anak bakal melajang juga." ucap Hana tak mau kalah. sambil melihat pemandangan yang sangat luar biasa itu mereka bisa melihat jembatan pelabuhan Sydney dari balkon itu. tiba-tiba Hana merasa sangat mual.
" Uek."
" Uek."
" Uek."
" Hiks." dia menangis sedih.
" Jangan sedih, namanya juga lagi hamil, Ino akan selalu jagain Hana. ayok kita masuk lihat dari dalam aja." ucap Rubel perhatian dan mendorong kursi roda Hana kedalam kamar.
" Ganti baju dulu yah." ucap Rubel pelan, dan menggantikan pakaian Hana. Hana menurut saja, karena dia sendiri belum begitu bisa bergerak cepat. setelah selesai Rubel segera menggendong Hana ketempat tidur.
" Istirahat dulu, Ino mau minta roomboy untuk mengantarkan makanan untuk Kita, Ino harus kebawa untuk memastikan makanan yang kita pesan benar-benar halal dan bisa kita makan." ucapnya cepat dan meninggalkan kamar. dia pun mengunci pintu kamar dari luar. agar tidak ada orang yang salah masuk kedalam kamar.
Hana tidak tinggal diam, dia segera meriah kursi rodanya dan duduk didekat jendela melihat pemandangan yang begitu indah. suhu udara yang sangat dingin di dalam kamar membuat Hana sangat mengantuk dia pun memilih pindah ke sofa dan tertidur di sofa.
Rubel tiba dibawah, seseorang sedang memperhatikan nya. dia merasa sangat kenal dan memberanikan diri untuk menyapa Rubel.
" Rubelino." panggil laki-laki itu. dan Rubel pun melihat ke sumber suara.
" Hai, Irfan apa kabarmu?" tanya Rubel. sambil menyalami nya.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik-baik saja, aku kira sejak kejadian itu kamu tinggal di Indonesia." ucap Irfan pelan takut menyinggung perasaan temannya itu.
*****
Irfan adalah seorang teman dekat Rubel di Rumah Sakit di Sydney, mereka bekerja ditempat yang sama. Irfan laki-laki bertubuh gempal dan tinggi, lembut, ramah dan juga tampan.
*****
" Iya, kebetulan aku kesini liburan." ucap Rubel dengan senang hati.
" Wah asik sepertinya aku bisa mengunjungimu dan kita bisa berkeliling kota Sydney." ucap Irfan senang.
" Oh tentu saja, nanti aku akan menghubungi mu, kamu kemari ada urusan apa?? tanya Rubel penasaran.
" Baiklah, aku kesini ada pekerjaan dikit." ucapnya sambil tertawa.
" Wah, jangan-jangan honeymoon yah?" tebak Rubel cepat, membuat Irfan semakin tertawa.
" Mana mungkin honeymoon menikah saja aku belum." ucapnya menjelaskan membuat Rubel tak percaya dengan ucapan temannya itu.
" Serius." tanya Rubel tak percaya.
" Ya, aku baru bertunangan dan kebetulan dia ada acara di tempat ini jadi aku memilih untuk menginap disini agar mudah menemuinya.
" Syukurlah semoga segera berlanjut ke pelaminan." ucap Rubel bahagia.
" Do'akan saja,aku sendiri belum yakin karena dia wanita karir, menjadi seorang model, tentu saja banyak pria yang menggandrungi nya." ucapnya sedikit datar.
" Jika dia memang jodohmu maka akan segera dipermudah."
" Aamiin, ok terimakasih. ini nomor ponsel ku. jangan lupa menghubungi ku, kita sudah lama tidak bertemu dan jalan bersama. ucap Irfan dan meninggalkan Rubel. Rubel pun menyimpan nomor Irfan, diapun segera meminta pelayan untuk mengantarkan makanan.
Rubel tiba di pintu kamarnya. seseorang sedang memperhatikan nya. pelayanan itu meninggalkan Roli makanan dan Rubel sendiri yang membawa nya kedalam, sebelumnya dia sempat memberikan tip untuk pelayan yang membawa makanan. dan pelayan pun pergi.
Rubel masuk dan melihat Hana yang tertidur pulas di sofa. Rubel segera membangunkan Hana untuk makan. Hana pun bangun, baru saja mereka berdua hendak makan tiba-tiba terdengar suara bel.
" Siapa itu??" ucap nya bingung dan segera mencari tahu. dia lupa melihat dari lubang lensa karena terburu-buru suara bel itu dipencet berulang-ulang.
" Irfan." ucapnya tak percaya. Irfan tertegun melihat Hana yang sedang duduk melihat kearah luar. Rubel terkejut dia tidak mungkin menutup pintu dengan keras karena Irfan telah melihat wajah Hana. dan dia pun keluar sambil menutup pintu. lupa mengambil key card-nya.
" Kenapa ditutup?? siapa perempuan itu?? tanya Irfan beruntun.
" Dia isterku." ucap Rubel cepat.
" Mengapa kamu tidak memperkenalkannya pada ku?" tanya Irfan bingung.
" Tunggu saja, aku akan memperkenalkan nya padamu." jelas Rubel.
Di dalam Hana segera duduk di kursi rodanya menarik jilbab dan cadarnya, dia meraih keycard dan membuka pintu. membuat Irfan takjub melihat Hana.
" Maafkan aku." ucap Irfan merasa bersalah.
" Tidak apa-apa ini salah ku karena tidak siaga.
" Masuklah, kami mau makan." ucap Rubel mengajak Irfan untuk bergabung, Tapi Irfan segera menolaknya dia mengerti tidak mungkin bersama mereka apalagi Hana memakai cadar pasti akan membuatnya sulit untuk makan di hadapan orang yang bukan muhrimnya.
" Tidak usah terimakasih, kalian berdua silahkan melanjutkan makan, kasihan isteri mu dia akan sulit makan jika ada aku." ucap Irfan begitu perhatian.
" Baiklah, terimakasih atas pengertian mu." ucap Rubel merasa tidak enak.
" Jangan sungkan, kita sama-sama Muslim dan aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan, jika butuh sesuatu kabari aku." ucapnya begitu perhatian.
" Baiklah, aku masuk dulu." ucap Rubel dan segera masuk kedalam.
" Wow beruntung sekali Rubel mendapatkan isteri secantik dia." gumannya pelan. dan berjalan ke arah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Rubel.
Rubel segera mendorong kursi roda Hana ke dalam dan mereka berdua menghabiskan makanannya.
"
"
__ADS_1
"
" Hai sahabat Dokter Cool sebentar lagi akan lebaran mungkin Author akan jarang UP, semoga memakluminya, dukung terus agar fikiran Author tidak buntu 🤣, jangan lupa vote, Like dan komennya yang banyak terimakasih 😍🤗"