
Rubel dan Hana sudah bersiap-siap untuk ke Rumah Sakit, hari ini mereka mengadakan pemeriksaan gratis dan operasi gratis untuk anak-anak kangker dan anak-anak yang kekurangan gizi. Acara ini sudah di rundingan sebelumnya dengan para pemilik saham, yang tak lain adalah keluarga besar Agiawan, ibu dan ayah juga bersiap untuk hadir mengikuti kegiatan sosial hari ini. Hana menggunakan serba biru muda, sedangkan Rubel tetap berpakaian dokter seperti biasanya. Rubel dana Hana pergi lebih dulu kemudian di susul ibu dan ayah.
Hari ini Rumah sakit terlihat begitu ramai, anak-anak sudah di pisahkan sesuai dengan sakit yang mereka derita. para pendamping juga selalu berada di sisi anak-anak itu. ibu dan ayah benar-benar takjub dengan ide-ide berlian Rubel untuk memberikan fasilitas terbaik untuk anak-anak sakit kangker dan juga anak-anak yang kekurangan gizi. mereka di tempatkan di ruangan khusus yang sudah di rancang sedemikian rupa agar anak-anak ini betah untuk berlama-lama di Rumah Sakit. karena acara ini begitu spesial banyak mengundang investor untuk menanamkan sahamnya di Rumah Sakit RH, bahkan mereka memberikan dana Hibah untuk keperluan anak-anak itu semua. para tamu itu telah di sediakan tempat duduk mereka datang berbondong-bondong. sungguh pemandangan yang tidak biasa karena banyak investor yang bersedia dengan suka rela untuk menanamkan sahamnya di Rumah Sakit yang baru saja berkembang itu, bahkan bisa dibilang Rumah Sakit ini masih sangat muda dan belum bisa dikategorikan Rumah Sakit Maju.
Seseorang sedang memperhatikan pasangan suami istri itu dari jauh, dia begitu benci dengan keakraban yang dilakukan oleh Rubel dan Hana. dia berusaha mencari cara agar bisa bertemu dengan Rubel hari itu.
Rubel berjalan ke Ruangannya sedangkan Hana menemani anak-anak itu bersama Ibu dan Ayah.
Rubel baru saja masuk keruangan nya, tiba-tiba seseorang masuk dan mendorong Rubel jatuh ke sofa, dia ikut menjatuhkan dirinya di atas Rubel.
" Apa-apaan ini, bangun jangan pernah kau sentuh aku!" teriak Rubel dan mendorongnya dengan kuat. hingga dia terjatuh.
" Hahaha ternyata kamu begitu perkasa hanya dengan hitungan bulan bisa mendirikan Rumah Sakit sendiri. luar biasa." ucapnya dengan nada mengejek.
" Apa urusan mu? lagi pula ini semua adalah impian ku." ucap Rubel kesal dan ingin sekali menampar wajahnya.
" Ayo tampar biar kamu puas, Karena kamu, semua karyawan, dan para perawat Rumah Sakit ku membangkang dan membelot padamu, puas kamu membuat aku jatuh!!" ucapnya begitu berapi-api.
" Mereka bukan manusia bodoh yang bisa dimanfaatkan seenaknya sama kamu, mereka bertahan karena Papa mu yang loyal dan juga orang yang sangat bijaksana, tapi kamu sendiri yang menghancurkan kehidupan mu hingga mereka mencari tempat yang lebih baik untuk mereka berkarir." balas Rubel tak mau kalah.
Terdengar derap langkah dari luar, tiba-tiba dia ingin menjatuhkan tubuhnya lagi ke tas Rubel tapi Rubel lebih dulu bangun.
" Brengs*k kamu Rubel!!" makinya dengan keras.
" Kakak apa kamu di dalam?" terdengar suara Alan diluar ruangan. dan berjalan masuk karena pintu tak di tutup rapat.
Tiba-tiba perempuan itu menarik bajunya dengan paksa tanpa berfikir panjang.
" Ada apa ini ?" Alan benar-benar terkejut melihat perempuan itu dengan baju terbuka. sedangkan Rubel berpakaian dengan sangat rapi dan berdiri jauh darinya.
" Dia hendak memperkosa ku." ucapnya berbohong.
" Benarkah?" tanya Alan.
" Lihatlah bajuku ini karena perlakuan nya." ucapnya berpura-pura.
" Heuh, perempuan murahan kamu pikir aku akan percaya apa yang kamu katakan emang nya kamu siapa?" tanya Alan dengan lantang.
" Hehehe ternyata aku begitu pintar bisa menangkap dua laki-laki bodoh bersamaan." ucapnya begitu bangga.
" Dek, ayo kita keluar." ucap Rubel dan segera menarik lengan Alan. tapi perempuan itu malah menarik Alan dengan segala cara.
" Kalian Tidak akan bisa pergi, aku belum puas bermain-main dengan mu." ucapnya.
" Hentikan Vierra, kamu jangan mengganggu adik ku." ucap Rubel kesal dan ingin menampar wajah Vierra tapi Alan menghentikannya.
" Apakah begini cara mu memperlakukan kekasihmu?" ucap Vierra sombong.
Alan tahu benar, akal-akalan seseorang untuk berlaku sangat curang. dia memelintir tangan Vierra hingga Vierra tak bisa berkutik.
" Telpon polisi kak, wanita ini benar-benar wanita gila, jangan biarkan dia menghancurkan kamu." ucap Alan dan tetap memegang tangan Vierra dengan kuat.
Rubel segera menelepon Dion, tak berapa lama polisi datang tanpa membuat keributan sehingga acara tetap dilaksanakan tanpa mereka tahu bahwa Vierra telah melakukan hal konyol di ruangan Rubel.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan, Vierra di giring dari pintu belakang oleh Dion dan tim.
" Tunggu pembalasan ku Rubel aku gak akan biarkan kamu dan Hana bahagia!" maki Vierra lantang.
Alan dan Rubel hanya tersenyum, mereka benar-benar begitu bahagia bisa saling bekerja sama untuk melawan orang yang ingin berbuat jahat terhadap mereka.
Alan dan Rubel mengobrol sebentar masalah Mia. Rubel merasa bersalah karena mengerjai sang adik, tapi pemeriksaan ST scan akan segera dimulai. karena merasa tak enak dia pun ikut dengan Alan ke ruangan Mia.
" Gimana kabar kamu Mia?" tanya Rubel pada Mia yang duduk di atas kasur pasien.
" Alhamdulillah dok, udah mendingan." jawab Mia.
" Kak, apa kakak yakin Mia harus melakukan ST scan?" tanya Alan ragu.
" Tentu saja, agar kita tahu kondisi Mia yang sebenarnya." ucap Rubel santai tanpa mengundang kecurigaan Alan.
Terdengar Derap langkah kaki berjalan masuk keruangan. seorang laki-laki tampan dan masih terlihat sangat muda masuk dan dengan sopan nya menyapa Rubel.
" Dokter, Rubel maaf sudah mengganggu." Sapa dokter Angga.
" Eh, enggak apa-apa dokter Angga silahkan." jawab Rubel.
" Gimana kabar kamu Alan?" tanya Angga pada Alan. betapa terkejut nya Alan Angga adalah senior nya di SMU, dan pernah menjadi salah satu saingan dia untuk mendapatkan cinta pertama nya di SMU waktu itu.
" Alhamdulillah kabar aku baik, Kak." jawab Alan. dengan wajah datar.
" Kalian berdua udah saling kenal?" tanya Rubel.
__ADS_1
" Iya, Alan adik kelas saya dok." ucap Angga.
" Oh, syukurlah saya diperkenalkan dengan orang-orang yang baik yang bekerja di Rumah Sakit ini." jawab Rubel.
" Ah, dokter Rubel terlalu memuji saya tidak sebaik yang anda bayangkan." jawab Angga merendah.
" Ehm, ya sudah lakukan lah tugasmu aku mau lihat kondisi Mia." ucap Rubel mempersingkat waktu.
Tak berapa lama, Mia segera di bawa keruangan ST scan. dia segera melakukan serangkaian pemeriksaan di bantu oleh perawat dokter Angga. sebelum nya Alan berpamitan untuk kembali ke kantor karena ada rapat dengan pemilik saham.
" Kak, Alan harus balik karena hari ini ada rapat dengan pemilik saham properti." ucap Alan pada Rubel. dan sebelum pergi Alan melihat keadaan Mia sebelum dia melakukan ST scan.
" Den." panggil Mia pelan.
" Apa kamu lupa harus memanggilku dengan sebutan apa?" bisiknya dengan ketus.
" Maaf bang Alan." ucap Mia pelan.
" Ya Sudah, dok saya titip Mia sama kamu, dan kamu Mia jangan keluyuran kemana pun karena setelah rapat saya akan balik lagi untuk melihat kamu dan melihat
hasil scan." ucap Alan dan berlalu meninggalkan ruangan. Mata Mia terus mengekor kepergian Alan, hingga tubuh tegap itu menghilang di balik pintu.
" Baiklah Mia, kita menuju ruangan St scan." ucap Angga. setelah mengganti pakaian nya Mia di temani teman perawat nya masuk keruangan ST scan. Mia sangat gugup takut-takut dirinya mengidap penyakit yang berbahaya.
Tak berapa pemeriksaan selesai, Raut wajah Angga seketika berubah. Rubel tidak faham untuk menilai bentuk wajahnya. Mia melakukan scan seluruh tubuh sehingga tak ada satu pun yang terlewat kan.
" Ada apa?" tanya Rubel bingung.
" Ehm, bagaimana kalo kita melakukan USG?" tanya Angga balik.
" Maksudmu?" tanya Rubel semakin bingung.
" Ini hasil scan, ada sesuatu di rahim Mia." ucap Angga sedikit resah.
" Ehm, baiklah pindahkan Mia ke ruang Poli kebidanan."
" Apa tidak sebaiknya menunggu Mia lebih tenang?" tanya Angga ragu.
" Iya sih, ya sudah kita tunggu Alan saja." ucap Rubel.
setelah selesai, Angga berjalan ke ruangannya. sedangkan Mia di bawa kembali keruangan, dan Rubel menemui Hana untuk membicarakan kondisi Mia yang sebenarnya. Rubel menarik Hana ke ruangannya, Hana bingung karena tak biasanya Rubel berlaku seperti itu. Mereka berdua duduk di sofa pintu ruangan di kunci agar tidak ada yang masuk secara sembrono karena Rubel membuka cadar Hana.
" Hasil scan Mia sudah keluar." jawab Rubel.
" Terus?" pertanyaan pendek yang selalu menghiasi mulut Hana.
Spontan Rubel mencubit pelan hidung Hana, dan memeluk Hana dengan erat.
" Kenapa cinta bikin Hana penasaran aja." ucap Hana sambil menggosok hidungnya yang terasa sedikit sakit.
" Hasil scan menunjukkan bahwa rahim Mia ada sesuatu, untuk itu harus melakukan USG agar tahu kondisi dia yang sebenarnya." ucap Rubel.
" Ehm, menurut Ino kira-kira itu apa?" tanya Hana lagi.
" Kalo lihat dari hasil itu kangker." jawab Rubel.
" Beneran?" tanya Hana serius.
" Iya sayang, masa Ino bercanda sih." jawab Rubel.
" Terus gimana dong?" tanya Hana mulai gelisah.
" Yah dia yang susah, Ino ceritain ini sama aja biar kita sama-sama dampingi Mia untuk bisa mengahadapi kondisi ini mendukungnya untuk bisa melakukan biopsi, dan jika benar kangker itu ganas kita harus segera melaksanakan operasi." jelas Rubel.
" Apakah Mia bisa punya anak jika melakukan operasi? tanya Hana begitu khawatir.
" jika memang membahayakan kondisi Mia, kita harus mengangkat rahimnya." jawab Rubel.
Mereka berdua terdiam, ini bukan lah pilihan yang mudah bagi mereka berdua, apalagi mereka merencanakan untuk menjodohkan Mia sama Alan.
*****
Waktu jam makan siang Alan kembali ke Rumah Sakit. dia merasakan ada aura tidak enak dari kedua kakaknya.
" Kenapa kak?" tanya Alan bingung.
" Ehm, mau dengar berita baiknya dulu apa berita buruknya dulu?" tanya Hana setengah menggoda.
" Astagfirullah, ngeri amat sih Mbak." jawab Alan sedikit kesal.
" Terus mbak harus gimana dong, mau pura-pura diam gak perduli dengan kondisi adik Mbak sendiri." ucap Hana sedikit menohok hati Alan.
__ADS_1
" Adik dari mana, Yang adik itu Alan bukan Mia." ucapnya cemburu.
" hehehe, sayang adikmu bisa juga cemburu yah." goda Hana lagi.
" Serius dong mbak, bikin kesel aja." jawab Alan.
" Ya serius lah, kamu nya aja yang ngirim mbak boongan." ucap Hana lagi.
" Mbak." panggil Alan sedikit keras.
Hana dan Rubel tertawa, mereka sengaja membuat suasana sedikit riuh, untuk menghilangkan kekhwatiran masalah Mia.
Rubel menyerahkan hasil scan, dan menunjukkan sesuatu pada rahim.
" Apa ini kak?" tanya Alan bingung.
" Ada sesuatu di rahim Mia, untuk memastikan itu semua harus melakukan USG dan Biopsi untuk mengetahui apakah itu kangker yang jinak atau yang ganas." ucap Rubel menjelaskan.
Alan terlihat santai, tidak ada kerisauan di wajahnya membuat Hana dan Rubel bingung mengartikan mimik wajahnya.
" Lakukan aja kak, agar tidak terlambat. lagi pula cepat kita tahu cepat pula untuk bisa di tangani." jawab Alan dengan santainya.
" Ehm, beneran ini Alan?" bisik Hana pada Rubel.
" Iyalah ini Alan, bagaimana pun Mia kan anaknya bibi sudah seharusnya Alan membantu mereka." jawab Alan cepat dan meninggalkan Rubel dan Hana.
Alan berjalan ke arah kamar Mia, dia masuk tanpa mengetuk pintu dilihat gadis itu sedang tertidur pulas. dia benar-benar di buat kacau oleh kondisi Mia. tapi semua itu tidak ingin dia tampak kan pada kedua kakaknya.
" Kamu akan baik-baik aja, aku akan membiayai operasi mu." ucap Alan pelan sambil mengelus wajah Mia. tiba-tiba Mia menggeliat dan membalikkan badannya memunggungi Alan.
" Mia apa kamu sudah makan?" tanya Alan sambil menepuk pundak Mia sedikit keras. Mia terkejut dan segera bangun.
" Aduh, maaf den." ucap Mia spontan.
" Dasar anak sekolah SD, udah di ajarin berulang-ulang masih aja manggil kita Aden, apa perlu aku dektekan lagi." ucap Alan kesal.
" Maaf bang Alan, saya terkejut jadi gak sengaja manggil Aden lagi." ucap Mia menjelaskan dan segera bangun dari tidurnya.
" Kamu harus USG." ucap Alan langsung tanpa ekspresi.
" Kenapa? Saya kan gak lagi hamil." jawab Mia ketus.
" Emangnya USG hanya untuk orang hamil aja?" tanya Alan balik.
" Ya, enggak sih tapi kan aku sehat-sehat aja." jawab Mia polos.
" Kamu mau dengerin aku gak?" tanya Alan lagi.
" Tapi bang saya..."
" Gak usah pake saya lagi deh aneh ngomongnya kaya murid sama guru." ledek Alan. Membuat Mia bingung.
" Tapi kan gak sopan." Ucap Mia.
" Gak cocok kita kan seumuran." Ucap Alan.
" Hadeuh, ngapain juga suruh Mia panggil Abang, kalo seumuran." jawab Mia kesal.
" Kalo di luar panggil Abang, kalo kita lagi berdua panggil Alan aja." ucap Alan dengan ekspresi wajah serius.
" Kamu gak ke sambet kan?" tanya Mia makin bingung.
" Enggak lah siapa juga kesambet, lagian yang kesambet tuh kamu." goda Alan.
" Aneh." ucap Mia pelan.
" Apa kamu bilang?" tanya Alan kesal.
" Bu-bu kan aku bilang..."
" Ah gak usah dibahas kamu harus nurutin aku buat USG." sebentar lagi aku akan urus sama dokter Angga untuk di rujuk ke poli kebidanan.
Mia hanya mengangguk pelan, dia benar-benar dibuat bingung oleh perlakuan Alan yang berbeda. Alan segera menemui dokter Angga untuk meminta rujukan ke Poli kebidanan.
"
"
"
" Hai, makasih yah buat sahabat dokter Cool yang masih setia membaca karya Author yang masih jauh dari kata sempurna, maklum fikiran udah bercabang-cabang dengan kerjaan. jadi ngetik nya keburu-buru. maafin Author yah belum bisa kasih yang surprise buat sahabat semua. love u All.😍🤗"
__ADS_1