Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 100. Lunas


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore saat Azura dan Arkandra tengah bersiap menuju suatu tempat. Azura tak banyak bertanya kemana suaminya akan mengajaknya, ia hanya pasrah saja, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk banyak berpikir pun bertanya.


Bagaimana tidak, seperti musafir yang baru saja menemukan oase untuk menghilangkan dahaganya, Arkandra terus saja membujuknya untuk bermantap-mantap ria. Bahkan setelah makan siang pun, Arkandra kembali menggempurnya. Beruntung Arkandra bukan pria yang suka bermain kasar, jadi ia tetap bisa menikmatinya walaupun dengan risiko tubuhnya yang menjadi remuk redam. Sebagai ungkapan terima kasih, Arkandra pun memijit bahkan memandikannya dan membuatkannya segelas susu hangat. Sungguh pengertian dan perhatian kan suaminya. Azura sungguh merasa begitu beruntung memiliki Arkandra sebagai suaminya.


Sepanjang perjalanan, karena terlalu lelah, Azura pun tertidur. Arkandra terkikik geli melihat istrinya yang tampak begitu kelelahan. Salahkah dirinya yang tiba-tiba candu dengan tubuh sang istri sampai ingin lagi, lagi, dan lagi. Sebenarnya ada rasa iba di hatinya melihat sang istri kelelahan. Karena itu, ia tak lupa mengucapkan terima kasih pada sang istri setelah pergumulan panas dan mesra itu, mengecup dahinya juga memijit tubuh lelahnya. Bukan pijit plus-plus ya, ini murni mijit. 😁


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Arkandra telah tiba di tempat tujuan. Di depan sebuah rumah yang cukup besar walau tak sebesar rumah keluarganya. Di depan rumah tampak 2 orang bertubuh kekar tampak berjaga.


Arkandra turun terlebih dahulu, diikuti 2 orang yang juga turun dari sebuah mobil berwarna silver.


"Semua sudah beres?" tanya Arkandra pada keduanya.


"Ckk ... kayak loe nggak tau kami aja, Ar!" ujar Steven menyahuti pertanyaan Arkandra.


"Mana bini loe?"


"Ada, di mobil. ketiduran."


Sontak jawaban Arkandra mendapat selokan menyeringai dari kedua sahabatnya.


"Woaaa, loe berhasil ngegoal, Ar" ?tanya Stevan yang kemudian mendapatkan sikutan dari William yang juga sudah menahan tawanya.


"Kenapa? Sirik loe!"


"Ck ck ck ... ngapain juga sirik. Kami malah happy bro, artinya dia berhasil menyembuhkan trauma loe. So sekarang, udah nggak butuh bantuan Stevan lagi kan buat jadi pacar jadi-jadian loe? Terus gimana rasanya? Enak?" ledek William sambil menaikturunkan alisnya.

__ADS_1


"Mau mati loe?" desis Arkandra dengan wajah memerah membuat Stevan dan William menyemburkan tawanya. Baru kali ini mereka melihat wajah Arkandra memerah karena malu.


Malas meladeni kedua sahabatnya, Arkandra pun segera beranjak menuju pintu dimana istrinya tidur.


"Ra, bangun, kita udah sampai," ujar Arkandra sambil mengusap pipi Azura lembut yang justru membuat Azura makin memejamkan matanya.


"Bentar lagi, mas, masih ngantuk plus capek. Kamu sih, nggak ada puas-puasnya," gumam Azura yang masih memejamkan matanya.


Sontak jawaban Azura yang terdengar jelas di telinga Stevan dan William membuat mereka makin tergelak. Mereka tak menyangka, temannya yang awalnya jijik melihat adegan ranjang justru ketagihan setelah merasakannya.


Mendengar tawa yang begitu keras, sontak membuat Azura mengerjapkan matanya. Saat ia sadar berada di mana, ia pun segera menegakkan punggungnya.


"Mas ... ini ... ini di ... "


"Udah, nggak usah banyak ngomong, kita turun dulu."


"Oh, selamat datang cantik. Aku pikir siapa yang datang, ternyata kamu," ujar pria paruh baya itu dengan tersenyum lebar yang justru membuat keempat orang itu merasa muak.


Arkandra pun segera merangkul pinggang Azura posesif untuk menunjukkan kalau Azura adalah miliknya.


"Tak perlu basa-basi, pak tua. Kami datang kemari untuk membereskan semua hutang mendiang mertua saya," ujar Arkandra seraya menekankan kata mertua.


Sontak Azura membelalakkan matanya saat mendengar itu. Ia tak menyangka tanpa diminta Arkandra berniat melunasi hutang-hutang yang jumlahnya sangat banyak itu. Mata Azura sontak memanas karena terharu. Padahal baru saja semalam mereka melebur menjadi satu dan menjadi pasangan sesungguhnya, tapi hari ini Arkandra telah berniat melakukan sesuatu yang diluar dugaannya.


Pak Jono pun melotot tak percaya dengan perkataan Arkandra, ia pun segera mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Stevan dan William pun berhasil membereskan segala urusan Azura dengan Pak Jono. Akhirnya semua hutang Azura berhasil ia lunasi. Ternyata selain sebagai sahabat, Stevan juga merupakan pengacara pribadi Arkandra. William juga mengancam pak Jono agar tidak mengusik kehidupan Azura dan adiknya lagi. Bila sampai terjadi, mereka takkan segan-segan menjerumuskan pak Jono ke dalam penjara. Tentu saja pak Jono takut dengan ancaman itu. Apalagi setelah tau kalau William merupakan seorang polisi.


...***...


Sepanjang perjalanan Azura sibuk berpikir, tadi saat di rumah Pak Jono, ia menjelaskan kalau sebenarnya Melodi pernah mencicil hutang itu sebesar 200 juta. Yang menjadi pertanyaan, dari mana Melodi mendapatkan uang sebanyak itu, sedangkan setahunya ia hanya bekerja di sebuah cafe. Perasaan Azura mendadak cemas, ia takut adiknya terjerumus perbuatan terlarang atau sesuatu yang tidak baik.


"Kamu mikirin apa, Ra?" tanya Arkandra lembut sambil menggenggam tangan kanan Azura dengan tangan kirinya.


Azura yang awalnya melamun sambil menatap keluar jendela pun lantas menoleh.


"Itu ... Melodi, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu ya mas? Dia kan cuma pegawai cafe. Belum lama juga kerjanya, jadi nggak mungkin dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari gajinya. Aku takut ... "


"Sssst ... jangan berpikir macam-macam. Lebih baik nanti kita tanyakan langsung. Bisa saja dia dapat pinjaman dari temannya, bukan. Aku yakin, Melodi nggak akan melakukan perbuatan yang mengecewakan kamu," pungkas Arkandra menenangkan.


Azura pun mengangguk seraya tersenyum manis


"Mas," panggil Azura.


Arkandra pun menoleh sekilas kemudian kembali fokus menatap ke jalanan.


"Kenapa, Ra?"


"Makasih ya, mas. Aku ... aku nggak tau lagi gimana membalas kebaikan kamu. Uang itu nggak sedikit lho, mas. Tapi kamu dengan mudahnya melunasi hutang-hutang aku," ujar Azura dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa yang bayarin? Itu uang kamu dari kak Cana kok. Kan kamu udah berhasil menaklukkan aku dan membuktikan kalau aku bukan gay."

__ADS_1


"Hah! Serius? Jadi aku masih dapat bayaran ya, mas? Kalau begitu, artinya aku harus ninggalin kamu ya?" ujar Azura yang mulai terisak, membayangkan ia harus meninggalkan Arkandra. Dadanya tiba-tiba sesak ...


__ADS_2