Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 128.


__ADS_3

Melodi, Yuya, dan Zia pun melanjutkan perbincangan mereka hingga tiba-tiba ada seseorang yang menginterupsi perbincangan mereka membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.


"Dasar pelakor! Nggak tahu malu. Ja*lang murahan!" seru seseorang tiba-tiba membuat ketiganya terlonjak lalu menoleh ke sumber suara.


Ketiga orang itu saling memandang tak mengerti dengan kedatangan Aurora sambil marah-marah tak jelas ke hadapan mereka.


"Nggak usah sok nggak ngerti kamu, ja*lang," ucap Aurora sambil menunjuk ke arah Melodi membuatnya mengerutkan keningnya. "Kau itu, di kampus sok polos, tapi tahu-tahunya tak lebih dari ja*lang penggoda. Kak Gerald telah memiliki kekasih dan itu kakakku lalu kenapa dia bisa tiba-tiba menikahimu? Pasti kamu udah melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, iya kan! Apa yang sudah kamu berikan padanya? Tubuhmu? Cih, dasar murahan!" desisnya dengan memasang wajah jijik membuat Melodi lantas berdiri dan membalas menatap Aurora santai. Terserah bila ia anak dekan, tapi apa yang sudah dilakukan Aurora itu sudah sangat keterlaluan. Mencemooh seseorang di hadapan orang banyak bukanlah merupakan perbuatan yang terpuji. Apalagi Aurora menghina dan merendahkannya dengan kata-kata yang tidak benar sama sekali, sungguh sangat keterlaluan.


"Aku yakin kau sudah melihat secara langsung video yang kak Gege posting di akun sosial medianya, bukan! Dan aku yakin kau bisa melihat dengan mata kepalamu yang otaknya kosong ini kalau kak Gege lah yang melamarku di hadapan semua orang, bukannya aku yang memintanya menikahiku. Seharusnya kau gunakan otakmu ini untuk mencerna situasi di sana, tapi itu ya kalau kamu mampu berpikir dan otakmu masih ada di tempatnya." desis Melodi dengan nada mencibir membuat Aurora mengepalkan tangannya. Aku sama sekali tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan tadi karena aku tidak semurahan itu yang mau-mau saja mengobralkan tubuhnya untuk sembarangan orang tanpa ikatan yang sah," imbuhnya dengan sorot mata tajam. Ia tetap berbicara dengan tenang, tapi mengintimidasi.


"Halah, nggak usah ngeles kamu! Kak Gerald itu cuma cinta sama kakakku, jadi nggak mungkin dia mau sama kamu. Aku yang mau deketin dia aja dia nolak, apalagi kamu, yang penampilan nggak banget."


"Eh, yang nggak banget itu, Odi apa kamu? Make up tebal berkilo-kilo gitu loe pikir bagus? Ya wajarlah kalau kak Gerald nggak mau. Kalau emang dia cinta banget sama kakak loe, kenapa dia mau nikah Ama Odi, gue tanya?" timpal Yuya yang tangannya rasanya udah gatal ingin mencakar-cakar wajah songong Aurora.


"Ya karena dia kegatelan lah. Jangan-jangan dia udah tekdung duluan makanya kak Gerald mau nikahin dia!"


"Jaga ucapanmu!" bentak Melodi. "Aku bisa saja memperkarakan perkataanmu ini ke pihak kepolisian dengan kasus pencemaran nama baik. Apakah ini mulut seorang anak hukum, hah? Menuduh tanpa bukti."


"Bukti?" Aurora terkekeh lalu menatap tajam Melodi. "Kau lupa aku pernah memergoki kalian di hotel sebelumnya."

__ADS_1


Ucapan ambigu Aurora sontak saja mengundang atensi banyak orang dengan pikiran buruk mereka.


Melodi tersenyum sinis, "Hotel atau restoran hotel? Jangan mengeluarkan statement ambigu seperti itu!"


"Yah, siapa tahu kalian habis itu check in!"


Plakkk ...


Geram dengan perkataan Aurora yang tidak-tidak membuat Melodi melayangkan telapak tangannya tepat di pipi kiri Aurora. Aurora tersentak lalu meringis saat merasakan panas di pipinya.


"Entah apa urusanku padamu, padahal selama ini aku tidak pernah mencampuri apalagi mengusik kehidupanmu, tapi mengapa kau malah berkata yang tidak-tidak tentangku, hah? Sebenarnya apa urusanmu?"


"Karena aku yang lebih dulu mengenal kak Gerald, tapi aku ikhlas saat dia malah pacaran dengan kakakku, tapi kau tiba-tiba datang dan menikah dengannya, aku tidak bisa terima itu. Aku tidak terima. Pasti kau yang sudah membuat kak Gerald putus dengan kakakku, bukan?"


Tentu saja Melodi, Yuya, Zia, dan Aurora, tak terkecuali orang-orang yang melihat pertengkaran itu terkejut, bagaimana Gerald tiba-tiba saja berada di sana.


Kini Gerald telah berdiri di samping Melodi dengan tangan yang melingkari pundaknya membuat Melodi tersipu malu menjadi bahan perhatian orang-orang.


"Cie ... ayangnya udah datang nih! Ayo kak Gerald, kasi tau orang-orang dungu ini biar nggak menghakimi seseorang tanpa tau kebenarannya." ucap Zia berapi-api dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Iya kak, seenaknya mereka ngatain Odi yang nggak-nggak, bungkam mulut dan pikiran kotor mereka kak!" timpal Yuya tak kalah antusias.


Gerald tersenyum manis membuat kedua gadis itu tersipu malu.


"Ya ampun, manis banget sih!" bisik mereka tapi masih dapat didengar Melodi membuat Melodi cemberut.


"Ck ... jangan cemburu gitu, kita cuma kagum aja, ya nggak Zi!" tukas Yuya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas yang diangguki Zia.


"Tidak layak apa? Bukankah kakak udah berjanji sama kak Aurel kalau kakak akan menunggu kak Aurel, tapi kenapa kakak tiba-tiba nikah sama ja*lang ini? Pasti dia udah ngelakuin sesuatu kan sampai kakak menikahi dia? Dasar murahan," desis Aurora tak suka melihat kemesraan yang dipertontonkan Gerald dan Melodi di hadapannya.


Gerald kembali mengalihkan pandangannya pada Aurora, "Kalau kau ingin tahu alasannya, tanyakan saja pada kakakmu itu. Tidak mungkinkan aku mengungkapkan hal tersebut di hadapan orang banyak. Lagipula saat aku menikahi Odi, aku sudah tidak memiliki hubungan dengan siapapun, jadi apa salahnya aku menikahi GADIS yang aku cintai," tukas Gerald dengan menekankan kata gadis merujuk pada keadaan Melodi yang masih gadis saat ia nikahi.


"Nggak, nggak mungkin. Kak, kakak lebih lama kenal dengan ku tapi kenapa kakak justru jatuh cinta pada Melodi? Pasti ini bohong kan! Ini pasti nggak benar."


Aurora menolak kebenaran dan tidak terima lelaki yang telah lama ia cintai justru mencintai orang lain.


"Ini benar, bahkan sangat benar. Aku mencintai Melodi, istriku sendiri. Apa salah? Tidak. Ingat, lama saling mengenal bukan berarti bisa kita jadikan pendamping hidup, Rora. Cinta nggak bisa dipaksakan. Lagipula aku sudah menganggapmu tak lebih dari adikku sendiri. Sudahlah, berhentilah, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dariku," pungkas Gerald membuat Aurora tergugu di hadapannya.


"Be-benarkah kakak selama ini nggak pernah sedikitpun menyukaiku?" tanya Aurora di sisa-sisa harapan terakhirnya.

__ADS_1


"Tidak," jawab Gerald tegas membuat Aurora terisak di tempatnya.


Tak ingin memperpanjang perdebatan, Gerald pun segera mengajak Melodi pergi dari sana diikuti Yuya dan Zia.


__ADS_2