
Beberapa bulan kemudian,
"Selamat ya, Odi sayang. Akhirnya perjuanganmu sampai juga ke titik ini. Kakak bangga sama kamu," ucap Azura seraya memeluk tubuh Melodi yang kini sedang mengenakan toganya. Melodi baru saja menjalani wisudanya, tentu Azura sangat bahagia sekaligus bangga. Biarpun dirinya tidak berhasil menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, tapi ia berhasil menghantarkan sang adik menjadi seorang sarjana.
Tanpa sadar Azura terisak, hari ini merupakan salah satu hari paling spesial baginya. Azura tak pernah berhenti bersyukur, akhirnya perjuangannya berbuah manis. Ia benar-benar bahagia, satu persatu kebahagiaan menghampirinya. Akhirnya duka lara dan pahit getir yang pernah ia rasa telah berganti dengan bahagia tak terkira. Memiliki suami yang sangat mencintainya, hamil anak dari suami tercinta, memiliki keluarga yang menyayanginya dengan tulus, berhasil menghantarkan sang adik menemukan jodohnya lalu kini berhasil menghantarkan sang adik meraih impiannya menjadi seorang sarjana.
"Terima kasih, kak. Semua berkat kakak. Perjuangan dan pengorbanan kakak lah yang menjadi motivasi Odi. Odi nggak tahu, kalau nggak ada kakak, mungkin Odi nggak akan sampai ke titik ini. Bahkan tanpa bantuan kakak, Odi pasti nggak akan menjadi seorang istri dari kak Gege. Odi bangga memiliki kakak. Kakak merupakan kakak terbaik di dunia. I love you, kak," balas Melodi yang juga sudah terisak.
Melodi pun tak kalah menahan haru atas keberhasilannya sampai ke titik ini. Tapi tetap saja, perjuangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan sang kakak yang bahkan rela mengorbankan masa mudanya demi mencari rupiah baik itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, membayar uang kuliahnya, juga mencicil hutang peninggalan mendiang orang tuanya. Pantas bukan bila ia menjuluki Azura sebagai kakak terbaik di dunia!
Satu persatu anggota keluarga Gerald yang ikut serta mendampingi Melodi di hari spesialnya itu memberikan selamat. Ada ayah, nenek, dan adik Gerald. Tak lupa Arkandra yang datang bersama Azura turut memberikan selamat.
"Zia, Yuya, selamat ya!" ucap Melodi turut memberikan selamat pada kedua sahabatnya itu.
"Selamat untukmu juga, Di," ucap Yuya.
"Selamat untukmu juga sahabatku tersayang," sebut Zia.
Lantas mata Melodi membulat saat melihat tangan Zia tampak digandeng Vero. Ya, itu Vero. Sejak kapan?
"Zi, itu ... " ucap Melodi ragu-ragu.
Zia menyengir lebar, sedangkan Yuya memberengut masam.
"Kenapa loe? Cemburu?" cetus Vero membuat mulut Melodi menganga.
"Cih, PD. Gantengan juga suami gue," sahut Melodi dengan sedikit mendelik.
__ADS_1
"Benar itu sayang. Sayang, bilangin ke temen kamu itu, hati-hati, jangan-jangan dia cuma dijadiin pelarian aja sama si kutu kupret," timpal Gerald dengan tersenyum miring.
"Jangan sembarangan ngomongong loe, Ge!" hardiknya tak terima dengan perkataan Gerald. "Nggak sayang, aku nggak gitu kok, serius deh! Aku serius sama kamu. Jangan dengerin tu si goyang dombret! Dia iri pasti sama kita," ucap Vero mencoba membujuk Zia agar tidak salah paham.
"Oh, nggak papa kok. Kalaupun sampai itu terjadi, siap-siap aja, ayang Vero akan aku cincang-cincang terus dijadiin perkedel," sahut Zia acuh.
Yuya terkekeh, "OMG, seram banget loe ,Zi! Eh, tapi emang loe mesti hati-hati, Ver, Zia ini psikopat. Entar loe dicincang beneran baru tau rasa," timpal Yuya ikut memanasi.
"Jomblo nggak usah ikut nimbrung ya! Bikin cuaca panas makin panas aja." sergah Vero membuat Yuya mendelik tajam.
Nasib jomblo mah gitu. Semua udah ada pasangan, dia malah ngenes sendiri.
"Ih, udah-udah, kok malah jadi bertengkar sih! Yuk, kita ke cafe kak Gege! Tenang aja, hari ini cafe khusus buka untuk neraktir kita semua, gimana?" Tukas Melodi.
Semua orang berseru girang saat Melodi mengatakan hal tersebut. Baru saja Melodi hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Aurora memanggilnya membuat Gerald segera berdiri di hadapan Melodi. Ia khawatir kalau Aurora akan melakukan tindakan yang tidak-tidak dengan istrinya yang tengah hamil muda itu.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Gerald datar membuat Aurora menatapnya nanar.
"Aku nggak papa kok. Aku juga udah lupain masalah itu," tukas Melodi lembut membuat Aurora tersenyum lega. Setelah saling bermaafan, Aurora pun permisi. Gerald tersenyum bahagia, ternyata istrinya memiliki hati seluas samudera. Ia tak segan-segan memaafkan orang yang sudah menyakitinya.
...***...
"Mas," panggil Azura sambil menggoyang-goyangkan bahu Arkandra.
Arkandra yang awalnya sudah terlelap lantas segera membuka matanya.
"Ada apa, hm?" diliriknya jam di atas dinding baru menunjukkan pukul 1 dini hari.
__ADS_1
"Aku ... aku ... "
"Ngomong aja sayang, kamu mau apa, hm?"
"Aku pingin sate Padang yang ada di deket Miracle," cicit Azura tak enak hati karena membangunkan suaminya di tengah larut seperti ini.
Arkandra menghela nafas panjang, tapi ia tetap berusaha tersenyum. Tak mungkin ia marah atau menolak permintaan sang istri. Mungkin ini bawaan kehamilannya. Walaupun ini sudah memasuki trimester terakhir, tapi Azura terkadang masih menginginkan sesuatu secara tiba-tiba. Walaupun ia tahu terkadang Azura merasa tak enak hati karena telah merepotkannya, tapi ia tak masalah. Asalkan itu untuk kebahagiaan Azura dan calon buah hatinya, ia rela melakukan apapun
"Ya udah, aku beliin dulu ya! Kamu tunggu aja di rumah, oke!" Ucap Arkandra yang bergegas berdiri. Tapi belum Arkandra beranjak dari sana, Azura telah lebih dahulu menghentikannya.
"Kenapa?" tanya Arkandra bingung.b"Ada yang lain, hm?" tanyanya lembut seraya mengusap pelan kepala Azura.
Azura mengangguk membuat Arkandra menunggu apa keinginan Azura selanjutnya.
"Tapi belinya nggak boleh pake mobil," tukas Azura membuat Arkandra melongo. Jadi pakai apa? Sedangkan jarak rumah mereka dengan Club' malam Miracle cukup jauh. Tidak mungkinkan Azura ingin ia jalan kaki atau naik angkot? Mana ada angkot lewat jam segini. Kalau jalan kaki, bisa-nyampenya besok pagi. Dan sudah pasti penjual sate Padang nya sudah pulang.
"Terus aku kesana pakai apa?" tanya Arkandra bingung.
"Naik motor aku," ucapnya dengan mata berbinar membuat Arkandra membelalakkan matanya.
"Mas kan nggak bisa ... "
"Biar aku yang bawa motornya, mas. Aku bisa kok."
"Ra, masalahnya bukan itu aja. Kamu nggak lihat perut kamu itu? Kamu sedang hamil besar, Rara sayang Mas nggak nggak mau sampai terjadi sesuatu pada kalian," ujar Arkandra cemas.
Mendengar penolakan itu, Azura langsung mencebik dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Azura lantas segera melepaskan pegangan tangannya dan masuk ke dalam selimut. Semenjak hamil, tidak ada lagi Azura yang garang, yang ada Azura yang mellow yang sedikit-sedikit nangis. Bila keinginannya tidak tercapai, maka ia akan segera menangis dan membisu sampai keinginannya terwujud. Terang saja hal tersebut membuat Arkandra gelagapan. Kini ia bingung, antara mengabulkan permintaan sang istri atau mengabaikannya. Sungguh, ia tidak masalah Azura memintanya membelikan sate Padang di dini hari seperti ini. Tapi yang jadi masalah, Azura ingin membelinya menggunakan motor sportnya dengan dirinya di posisi pengemudi. Arkandra sampai menyesal, mengapa ia menghadiahi istrinya itu dengan motor sport itu kalau akhirnya membuatnya bingung seperti ini. Mana dia tidak bisa mengendarainya. Sungguh sate Padang yang merepotkan.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🙏💪...