
Sepanjang perjalanan pulang, mobil yang dikendarai Arkandra terasa begitu sunyi. Tak ada perbincangan. Tak ada perdebatan apalagi keusilan dan kecerewetan yang memekakkan telinga seperti biasanya. Keduanya begitu canggung. Sebenarnya Azura belum mau pulang. Bukan hanya karena masih merasa canggung, tapi ia juga masih ingin menemani Melodi yang masih demam. Tapi Melodi justru memintanya segera pulang. Tidak baik bagi seorang istri meninggalkan suaminya sendirian, itu kata Melodi. Padahal Arkandra telah bersedia ikut tinggal di sana, tapi Azura justru menolak. Bagaimanapun, saudaranya itu seorang perempuan. Walaupun ia yakin Melodi merupakan adik yang baik dan dapat dipercaya, tapi bukankah setan ada dimana-mana. Mereka selalu saja ada cara untuk menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Karena alasan itulah, Azura menolak mentah-mentah keinginan Arkandra yang ingin ikut menemaninya selama menjaga Melodi. Padahal sebenarnya itu merupakan kesempatan untuk mendekatkan dirinya dengan Arkandra. Bukankah bila mereka menginap di sana, kemungkinan besar mereka akan tidur dalam satu kamar?
Tapi lagi-lagi Azura berpikir, bagaimana bila memang ia berhasil menaklukkan Arkandra dan membuktikan kalau Arkandra normal sepenuhnya. Hal itu memang bagus, tapi ... hal tersebut tidak baik untuk adiknya yang masih gadis ting-ting. Hal tersebut akan menodai indra pendengarannya, bukan. Tidak ... Azura tidak ingin sampai hal itu terjadi. Akhirnya, ia pun memutuskan pulang dengan syarat agar Melodi tetap beristirahat dan segera menghubunginya bila keadaannya makin memburuk.
...***...
Tok tok tok ...
Terdengar bunyi pintu diketuk. Melodi yang sedang merebahkan diri pun segera beranjak dengan perlahan sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Lalu ia segera menuju pintu dan membukanya.
Mata Melodi membelalak seketika saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia sampai mengucek matanya beberapa kali, takut-takut salah menduga atau perasaannya saja.
"Kak Gege ... " cicitnya pelan meyakinkan apa yang dilihatnya itu benar.
"Hmm ... "
Lalu tanpa menunggu dipersilahkan masuk, Gerald langsung mendorong pelan bahu Melodi agar sedikit memberinya jalan untuknya lewat. Lalu ia pun segera masuk dan menutup pintu membuat Melodi gelagapan.
__ADS_1
"Kak ... "
"Kamu kenapa nggak bilang kalau sakit?" tanya Gerald tiba-tiba sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Melodi.
"Aku ... aku pikir, aku nggak sepenting itu buat ngabarin kondisi aku sama kakak." cicit Melodi pelan. Bagaimanapun, ia sadar diri, dirinya hanya kekasih bohongan. Kekasih sewaan. Kekasih sandiwara seorang Gerald. Jadi ia tak berani berharap lebih kalau Gerald akan memperhatikannya. Karena itu ia memilih diam saja. Ia tak mau, Gerald merasa dirinya lupa akan statusnya dan memanfaatkan keadaan untuk mencari-cari perhatiannya.
Gerald mendesah lirih lalu menarik bahu Melodi ke dalam dekapannya. Melodi tentu saja terkejut dengan reaksi Gerald. Apalagi Gerald mendekapnya dengan erat sambil mengecupi puncak kepalanya. Gerald memperlakukannya seakan dirinya memang benar-benar kekasih lelaki tersebut. Pelukan itu sangat nyaman. Awalnya Melodi menegang kaku saat Gerald memeluknya. Tapi lama-kelamaan, pelukan itu makin terasa nyaman. Bahkan sangat nyaman dan menenangkan. Aroma tubuh Gerald mampu membuatnya relaks dan nyaman. Debaran jantungnya ... Melodi baru menyadari, jantung Gerald bertalu-talu dengan begitu cepat. Sama seperti jantungnya saat ini.
"Kenapa berpikir seperti itu, hm?" tanya Gerald yang masih memeluk Melodi.
"Aku tau diri, kak. Aku hanyalah kekasih kontrakmu. Aku nggak mau entar kakak pikir aku cari-cari perhatian sama kakak." ucapnya sambil mencebikkan bibir. Nada bicaranya seperti seorang kekasih yang tengah merajuk membuat Gerald terkekeh mendengarnya.
"Kak ... turunin!" pekik Melodi saat tubuh keduanya makin merapat karena Gerald yang mengangkatnya. Lalu Gerald mendudukkan Melodi di sofa yang ada di dekat sana.
"Ckk .. kak Gege kesambet ya? Kok datang-datang jadi aneh gini. Ngomong-ngomong, kakak tau aku sakit dari mana?" tanya Melodi penasaran.
Gerald menjepit hidung Melodi, "Kamu lupa kamu itu karyawan di cafe aku?"
__ADS_1
"Oh." sahut Melodi singkat.
"Kok cuma oh?"
"Terus harus jawab apa?" tanya Melodi bingung.
"Kan kamu tau, aku nggak hafal satu-satu karyawan aku. Semua urusan karyawan aku serahin ke Loli. Terus aku juga nggak setiap hari mantau cafe."
"Jadi?"
"Astaga, nggak peka banget nih cewek! Artinya, aku tadi datang ke cafe sengaja mau cari kamu, sayang." ucap Gerald gemas seraya mengacak rambut Melodi.
Melodi yang mendengar Gerald menyebutnya sayang, sontak bersemu merah. Wajahnya memanas tak menyangka, di saat hanya berdua pun Gerald memanggilnya sayang.
"Sa-sayang?" cicit Melodi.
"Iya, kenapa? Nggak suka dipanggil sayang? Atau kamu mau panggilan yang lain, honey, baby, atau kamu ada ide sendiri?"
__ADS_1
Melodi menangkup kedua pipinya yang kian memanas sambil mengulum senyum. Mengapa sikap Gerald jadi manis begini pikirnya. Melodi khawatir, dengan sikap Gerald ini bisa membuatnya jatuh hati. Tidak ... tidak, ia tidak boleh jatuh hati pada Gerald. Ia tak mau berakhir dengan cinta bertepuk sebelah tangan.
...***...