Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 101. Galau


__ADS_3

Melihat perubahan raut wajah Azura, Arkandra sontak khawatir. Ia pun segera menepikan mobilnya di tempat yang aman lalu melepaskan sabuk pengamannya.


Pletak ...


Tiba-tiba saja Arkandra menjentik dahi Azura membuat istrinya itu meringis sambil mencebikkan bibirnya.


"Mikir jelek mulu! Siapa yang nyuruh kamu ninggalin aku? Kamu lupa isi perjanjian kalian sendiri?" ucap Arkandra sambil menaikkan sebelah alisnya membuat Azura menatapnya bingung. "Bukankah di perjanjian itu tertulis kamu punya waktu selama 1 tahun buat menaklukkan aku dan kalau kamu berhasil dalam tempo waktu tersebut kamu bisa dapatkan uang 1 milyar, nggak ada tuh tertulis kalau kamu udah berhasil kamu harus ninggalin aku. Kalaupun ada, dengarkan kata-kata ku ini, sampai kapan pun takkan ada yang bisa memisahkan kita kecuali, satu aku yang memintanya sendiri dan dua bila yang kuasa menghendaki. Jadi, aku minta, buang jauh-jauh pikiran buruk kamu itu dari otak cantik kamu ini, mengerti!" tegas Arkandra seraya menunjuk kepala Azura membuat senyum Azura kian melebar. Ia pun merentangkan tangannya, paham apa yang diinginkan istrinya itu, Arkandra pun segera memeluk Azura erat dan mengecup dahinya dalam.


"Dan untuk uang itu, semua murni milik kamu. Kak Cana telah menyerahkan segalanya padaku. Malah dia seenaknya nyuruh aku yang membayar. Padahal yang punya perjanjian siapa, yang disuruh bayar siapa. Tapi karena ini buat istri aku, ya udahlah. Lagipula, mulai saat ini, uangku juga uangmu. Nanti uang 1 milyar yang kak Cana janjikan akan aku transfer ke rekeningmu," ujarnya membuat Azura membelalakkan matanya.


"Lho, kok mas Arkan yang bayar? Terus kenapa ditransfer lagi ke aku? Bukannya tadi mas bilang bayar hutang itu pakai uang itu?"


"Ra, kamu itu tanggung jawab aku, jadi sudah sewajarnya aku melunasi hutang-hutang itu. Aku nggak mau kamu terbebani lagi apalagi sampai membahayakan keselamatan kamu dan Melodi. Mulai hari ini juga, urusan Melodi jadi tanggung jawab aku sebab ia juga adikku. Jadi kalau butuh sesuatu, apapun itu, tolong hubungi saja aku. Aku akan selalu sedia membantumu," ucap Arkandra penuh kesungguhan membuat mata Azura memanas.


"Ya Allah, mas, aku nggak sanggup berucap apa-apa lagi, apa yang kamu lakukan untukku dan keluarga ku sungguh tak luar biasa. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, mas. Mas Arkan tau banget caranya bikin cewek baper parah. Love you, mas," ucapnya lalu mengecup pipi Arkandra sekilas.


"Too," sahut Arkandra acuh.


"Ckk ... nggak ada romantis-romantisnya pak dokter," cibir Azura sambil mencebikkan bibirnya.


"Emang."


"Iikh, mas Arkan nyebelin," pekik Azura.


"Tapi ngangenin kan!" ucap Arkandra penuh percaya diri.


"Cck ... percaya dirimu tinggi banget, bang!"


"Harus dong!" sahut Arkandra sambil mengulum senyum. Menyenangkan sekali membuat istrinya itu kesal.


Setelah berhasil menenangkan Azura, Arkandra pun kembali menjalankan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, ponselnya tak berhenti berdering membuat Azura bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang menghubungi suaminya itu dan mengapa suaminya itu mengabaikannya begitu saja.


"Mas, kok teleponnya nggak diangkat? Itu dering terus lho dari tadi. Siapa tahu penting," tukas Azura heran.

__ADS_1


"Itu kak Cana, malas ah."


"Lho kok gitu, mas bertengkar dengan kak Kencana?"


"Nggak,"


"Terus ... "


dddrttt ...


"Kak Kencana telepon aku, aku angkat ya mas!"


"Nggak usah."


"Mas, nggak sopan dong kalau aku nggak angkat."


Azura kekeh mengangkat panggilan itu membuat Arkandra hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tahu pasti apa yang akan disampaikan kakaknya tersebut.


"Ya, halo kak? Ada apa?"


"Mas Arkan lagi nyetir mobil kak, kenapa?"


"Kalian udah dalam perjalanan ke rumah sakit?" tanya Kencana.


"Ke rumah sakit? Ngapain? Kak Kencana sakit?"


"Dokter galak kamu belum kasih tahu kamu ya kalau perempuan nyebelin itu udah melahirkan?"


"Hah! Azura nggak tahu kak, mas Arkan nya belum bilang."


"Bisa kamu nyalain loud speakernya?"


Azura pun segera menekan tombol speaker.

__ADS_1


"Udah kak."


"Arkan, kenapa loe nggak kemari? Gue sebenernya paham kenapa loe nggak mau, soalnya gue juga sebenarnya gedek sama si nenek sihir cuma ini demi kakek Ar, jangan kecewakan kakek. Buruan datang! Gue tunggu. Bye ..."


Ceklek ... tut tut tut ...


Panggilan pun ditutup


Arkandra hanya bisa menghela nafas lelah, malas sekali sebenarnya ia bertemu nenek sihir itu apalagi setelah apa yang ia lakukan pada Azura di apartemennya.


"Mas, kita ke rumah sakit dulu aja, ke kontrakan kami sepulang dari rumah sakit aja, gimana?"


"Tapi aku males banget, Ra, ketemu sama perempuan itu."


"Tapi kamu nggak bisa terus menghindar, mas. Yang ada dia malah ngira kamu masih ada perasaan sama dia. Atau jangan-jangan bener yang aku bilang?" tanya Azura sambil menyipitkan matanya meminta penjelasan.


Mata Arkandra melotot saat mendengar tuduhan tak berdasar itu.


"Eh, kok mikirnya gitu? Jangan nuduh sembarangan! Aku nggak gitu, Ra. Kamu tahu, semenjak ia melakukan perbuatan terlarang itu, semenjak itu pula aku telah menghapuskan semua perasaanku. Rasaku padanya musnah , habis nggak bersisa. Secuil pun nggak ada. Aku malas ketemu sebab aku muak. Apalagi saat ingat hasil perbuatannya yang membuat kondisi kesehatan mama drop dan meninggal. Apalagi sekarang udah ada kamu di sisi aku, buat apa aku mikirin sampah kayak dia. Nggak penting tahu, Ra," sahut Arkandra menggebu-gebu. Ia tak terima bila ia kembali dikait-kaitkan dengan Vinandia. Bagaimanapun, baginya perempuan itu hanyalah bagian masa lalu yang harus ia lupakan Tak ada bagus-bagusnya untuk dikenang apalagi untuk diberi rasa cinta secuil pun.


...***...


Pagi-pagi sekali Gerald telah duduk di kursi tunggu di bandara. Ia sengaja pergi pagi-pagi sekali untuk mengunjungi sang kekasih yang tengah mengejar cita-citanya di negeri orang. Bukan tanpa alasan, ia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting mengenai suatu hal yang kemarin disampaikan neneknya, yaitu tentang permintaan mereka agar ia segera melaksanakan pertunangan antara dirinya dan Melodi. Ia bingung, di satu sisi ia tak bisa mengabaikan permintaan sang nenek, di sisi lain ada gadis yang masih ia nantikan kepulangannya.


Sudah beberapa jam berlalu semenjak pesawatnya lepas landas. Di dalam pesawat, ia tak henti-hentinya memikirkan kedua perempuan yang ada dalam hidupnya tersebut. Pertama kekasihnya yang telah lama ia cintai dan kedua adalah gadis yang akhir-akhir ini memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan pada dirinya.


Gerald sengaja terbang ke Perancis secara diam-diam selain untuk meminta agar kekasihnya itu kembali dan melakukan pertunangan dengannya, juga untuk memberikan kejutan sebab telah lama mereka tidak berjumpa.


Sementara itu, di sebuah kontrakan minimalis, tampak seorang gadis tengah merenungi jalan hidupnya. Apalagi mengingat permintaan nenek dari kekasih sandiwaranya agar mereka segera melangsungkan pertunangan. Tentu hal itu membuat Melodi galau, bagaimana pun mereka hanya kekasih sandiwara saja. Bagaimana bila kekasih Gerald tiba-tiba pulang. Beruntung Gerald segera mengambil tindakan untuk menemui kekasihnya di Prancis. Ia harap, masalah ini segera usai. Ia sudah tak sanggup terus-menerus menjalankan sandiwara ini. Ia takut, hatinya benar-benar jatuh pada sosok Gerald yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya. Jangan salahkan dirinya yang mudah jatuh hati! Bagaimana ia tak jatuh hati sebab Gerald merupakan sosok pria yang hangat juga perhatian.


"Semoga Kak Gege lekas membawa kekasihnya pulang. Walaupun risikonya mungkin setelahnya kami takkan pernah lagi bertemu, tapi itu lebih baik untuk kesehatan hatiku yang kian terperosok pada dirinya," gumam Melodi sambil memandangi foto dirinya dan Gerald saat di rumah orang tuanya.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2