Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 125. Happy Family


__ADS_3

Kediaman keluarga Satya kini tampak dipadati keluarga besar mereka. Setelah mendapatkan kabar kalau sang cucu menantu tengah mengandung anak dari cucu kesayangannya, Bachtiar langsung memerintahkan semua orang untuk berkumpul dan merayakan kehamilan Azura.


Mata Azura sampai berkaca-kaca, tak menyangka akan mendapatkan sambutan sedemikian rupa. Rasa haru bercampur bahagia menyeruak memenuhi rongga dadanya.


Arkandra mendadak bingung saat mendapati istrinya terisak setibanya di rumah besar milik keluarganya itu. Ia panik, khawatir terjadi sesuatu pada istrinya atau ada sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman.


"Hei, sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit atau ada yang buat kamu nggak nyaman?" cecar Arkandra sembari menarik bahu sang istri agar melihat ke arahnya.


Bukannya menjawab, Azura yang pantang memperlihatkan air matanya justru makin terisak hingga tangisannya menarik atensi semua orang di rumah itu.


"Azura kenapa, Ar?" tanya Kencana penasaran.


"Istri kamu kenapa, Arkan? Apa yang sudah kamu lakukan pada cucu mantu kakek?" tanya Bachtiar sambil menatap tajam Arkandra. Arkandra sampai tertegun melihat ekspresi sang kakek yang biasanya datar dan acuh tak acuh.


"Arkan, kenapa diam? Kamu apakan istri kamu, hah?" seru Bachtiar membuat Azura terkesiap.


Dipandanginya sekelilingnya, semua orang tampak menatapnya dengan raut khawatir membuat Azura meringis karena telah membuat semua orang panik akibat dirinya yang mendadak melow.


"Arkan nggak ... "


"Mas Arkan nggak ngapa-ngapain, Zura kok kek." Potong Azura membuat Arkandra mengalihkan tatapannya pada istrinya itu. "Zura ... Zura cuma terharu aja. Sekian lama Azura nggak merasakan kegembiraan berkumpul bersama keluarga lalu sekarang Zura bisa kembali merasakannya. Azura senang. Azura bahagia. Terima kasih kek, kak, mas, udah menerima Azura yang serba kekurangan ini." Tukasnya sambil membersit cairan dari hidungnya yang ikut keluar bersamaan air mata.


Acara melow-melowan justru menjadi tawa menggema saat melihat Azura tanpa rasa malu membersit hidungnya.


"Maaf," tukasnya malu sendiri.


Semua orang terkekeh geli melihatnya. Benar-benar perempuan yang konyol batin Bachtiar. Tapi tak pelak ia memuji sekaligus mengucapkan terima kasih walaupun dalam hati sebab kehadiran Azura telah memberi warna tersendiri di masa tuanya. Ia juga berhasil menyembuhkan trauma sang cucu sekaligus menjadikannya calon ayah masa depan. Dulu Bachtiar sempat khawatir Arkandra akan terus hidup seorang diri tanpa mau mengenal cinta lagi apalagi menikah. Namun siapa tahu, gadis yang ditemui Kencana itu berhasil membuat sifat ceria dan senyum manis cucunya yang telah lama hilang kembali lagi. Bahkan kehadirannya membuat ular betina yang sempat bersarang di rumah megahnya keluar dari persembunyiannya dan mendapatkan hukuman yang tak disangka-sangka.

__ADS_1


Bachtiar lantas menyeret kakinya dengan dibantu kruk di ketiaknya, mendekati Azura dan memeluknya dengan sayang. Disekanya air mata Azura dengan ibu jarinya.


"Tak perlu berterima kasih. Bukankah sekarang kau pun bagian dari keluarga ini? Justru kakek yang seharusnya berterima kasih sebab berkat cucu menantu kakek ini, keluarga kakek kembali diwarnai kebahagiaan dan senyuman tulus semua orang. Dan yang paling utama, kau mampu mengembalikan kebahagiaan di wajah cucu kakek, Arkandra." Ucapnya lembut sarat kasih sayang. "Oh ya, selamat atas kehamilanmu! Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," imbuh Bachtiar lagi membuat Azura kembali meneteskan air mata harunya.


"Ternyata istriku bisa melow juga ya! Kirain selama ini cuma bisa marah-marah dan nyebelin doang," cibir Arkandra membuat Azura mencebikkan bibirnya.


"Kakek, mas Arkan tuh lihat, demen banget ngejekin aku," rengek Azura sambil menghentakkan kaki membuat semua orang melototkan matanya, bukan tanpa alasan sebab ini kali pertama ada seseorang yang berani merengek pada kakeknya. .


"Arkan, nggak boleh usil sama istrimu. Kau tahu, sifat manja istrimu ini mengingatkan kakek pada mama kalian. Dulu, saat hamil dirimu, mama mu juga suka manja sama kakek. Mama kalian sudah kakek anggap seperti putri kakek sendiri, jadi dengan senang hati kakek akan menuruti segala kemauan mama kalian. Karena itulah, saat mama kalian pergi, bukan hanya kalian yang merasa sangat kehilangan, tapi kakek juga. Rumah yang ceria seketika suram. Tapi kakek kini bahagia, akhirnya ada seseorang yang mampu memberikan warna di rumah ini lagi. Terima kasih, cucuku kau sudah mengembalikan keceriaan di rumah kami ini." Ucap Bachtiar dengan mata berkaca-kaca.


Di ruang tengah itu, semua orang tampak berbagi canda dan tawa. Sesekali ada haru menyelimuti, namun setelahnya kembali ceria lagi. Semua tampak berbahagia atas kehamilan Azura. Bahkan Alice pun sudah tak sabar menantikan kehadiran calon adiknya tersebut.


"Tante, Tante, katanya Tante mau punya adek bayi, adek bayinya mana Tante? Alice mau lihat. Alice mau cium juga," ujar Alice membuat semua orang terkekeh.


"Adek bayinya ada, tapi masih di dalam sini nih!" Tunjuk Azura ke dalam. perutnya.


"Wah, Tante belum tahu, sayang! Emangnya kenapa kalau ada dua?"


"Alice mau minta satu buat temen Alice main boneka." Ujar Alice polos mengundang tawa Kencana dan suaminya.


"Nggak boleh. Kalau kamu mau, minta sana sama mama papa Alice, minta buatin dua sekaligus." Ujar Arkandra sambil menunjuk ke arah Kencana yang sedang rebahan di pundak suaminya.


Bukkk ...


Kencana melemparkan sebuah bantal sofa ke arah Arkandra yang langsung ditangkapnya.


"Emang loe pikir gue mesin cetak bisa request seenak jidad loe." Ketus Kencana dengan mata mendelik tajam.

__ADS_1


"Lah, bukan gue yang minta tapi anak loe! Ya kan, Lice? Alice pingin adiknya langsung 2 kan! Bilang gih ke mama sama papa kalau Alice minta bikinin adik yang lucu tapi nggak boleh lebih lucu dari anaknya om, ya! Anak om itu harus yang paling lucu dan menggemaskan."


"Lama-lama loe masuk rumah sakit jiwa, Kan! Ngajarin anak gue itu yang bener, bukan yang aneh-aneh." Sungut Kencana sebal.


"Yang ngajarin aneh-aneh itu siapa? Aku kan cuma nanya terus buat warning lebih awal aja."


"Iya mama, kan mama sediri yang ngajarin Alice bilang minta adeknya satu buat temenin Alice main boneka," ucap Alice polos membuat Kencana menutup wajahnya dengan kedua tangan.


'Duh, anak itu kok jujur banget sih! Jujur sih boleh, bagus malah tapi ya nggak gini juga." sungut Kencana dalam hati. Pelan-pelan, Kencana mulai beringsut ingin melarikan diri, Arkandra pun dengan sigap mengejarnya.


"Alice, bantu om tangkap mama! Mama nakal udah ngerjain om." Teriak Arkandra membuat Kencana mempercepat langkahnya. Alice pun dengan semangat membantu Arkandra membuat Azura, Bachtiar, dan suami Kencana terkekeh melihatnya.


"Om, hadang mama di sana! Mama, jangan kabur!" teriak Alice memenuhi ruang keluarga itu.


"Alice, kok kamu bantu om Arkan sih! Seharusnya kamu itu bantu mama, bukan om galak kamu itu." seru Kencana geram sang anak justru lebih memihak pada Arkandra.


Arkandra tergelak mendengarnya.


"Nggak mau, mama nakal kata om Arkan." tolak Alice.


Rumah keluarga Satya itu akhirnya kembali ceria setelah kehilangan sinarnya beberapa tahun yang lalu. Terdengar tawa canda penuh kebahagiaan dari sana membuat seseorang yang berdiri di balik pintu tersenyum sendu menatap ke arah keluarga bahagia itu. Kebahagiaan yang telah lama hilang kini telah kembali. Kesedihan yang pernah merajam jiwa-jiwa penghuni rumah itu kini telah pergi. Matahari keluarga itu kini telah kembali tapi dengan sosok yang baru.


Sungguh, Bimantara sangat menyesali kebodohannya tergoda kelembutan dan perhatian dari ular berbisa seperti Vinandia. Karena kesalahannya itu, bertahun-tahun rumah itu terasa hambar dan dingin. Tak ada kehangatan apalagi keceriaan. Hanya ada ketegangan dan kehampaan.


Sungguh ia bersyukur, akhirnya keluarga itu bisa kembali berbahagia. Ia pun sangat berterima kasih pada Azura karena dirinya telah berhasil mengembalikan kebahagiaan di dalam keluarga itu khususnya kepada putranya, Arkandra Satya Nugraha.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2