
"Ra, siap-siap gih! Yang cantik ya! Eh tapi istri mas kan emang udah cantik dari Sononya." seloroh Arkandra saat panggilan teleponnya telah diangkat Azura.
"Gombalan receh, nggak kena." ketus Azura masih dalam mode merajuk.
"Duh, kok masih merajuk sih!"
"Emang mau kemana?"
"Ke rumah sakit, jenguk papa mertua kamu. Kak Cana yang menghubungi tadi minta kita kesana."
"Hmmm ... "
"Hmmm apa?"
"Iya iya, cerewet."
Mendengar ejekan Azura, bukannya marah, Arkandra justru terkekeh. Otaknya udah terkontaminasi virus bucin jadi ya gitu. Mau istri merajuk, marah, nyebelin tetap menurutnya gemesin. Kalau dekat mungkin wajah Azura udah habis dikecap-kecup sana sini setelahnya berakhir dengan ah ih ih eh oh dan oh yes oh no.
__ADS_1
Setelah panggilan ditutup, Arkandra mengerutkan keningnya menatap layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya dan Azura yang sedang berduaan. Tak lama kemudian, ia tersenyum manis membayangkan ekspresi istrinya nanti saat ia memperlihatkan sesuatu.
...***...
Siang menjelang sore, Arkandra mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen miliknya untuk menjemput Azura. Setibanya di depan pintu, ia segera menempelkan telapak tangannya kemudian pintu itupun terbuka lebar. Tampak istri bar-barnya itu telah tampil begitu cantik dengan dress satin berwarna merah muda membuatnya kian menawan. Belum lagi, Azura juga mengenakan make up tipis membuatnya tampil sangat cantik, Arkandra sampai tak berkedip memandanginya.
"Udah puas liatinnya? Ya aku akuin aku cantik, tapi nggak segitunya juga mas Arkan mandangin aku. Kayak nggak pernah liat cewek cantik aja." Seloroh Azura dengan kenarsisan tingkat langit ketujuh.
Arkandra terkekeh lalu mengecup singkat pipi Azura membuat istrinya itu bersemu merah.
"Emang belum pernah. Selama ini kan aku nggak mau mandangin cewek. Kalau cewek baru suka banget mandangin aku. Kamu harusnya beruntung Ma Cherie, karena pria setampan aku justru memilih kamu sebagai pendamping hidupku." Balasnya tak kalah narsis.
"Ya ya ya, aku emang laki-laki paling beruntung." Arkandra akhirnya mengalah, namun ia tak memungkiri kalau apa yang dikatakan Azura tadi ada benarnya. "Udah siap?" tanya Arkandra memastikan. Azura pun mengangguk, kemudian mereka pun segera pergi ke rumah sakit.
Di kamar rawat Bimantara, ayahnya itu ditemani oleh Kencana. Ternyata ia telah menunggu sejak tadi. Bimantara tersenyum tipis saat melihat kedatangan putra dan menantunya tersebut.
"Gimana keadaan papa? Papa udah mendingan kan?" tanya Azura saat telah berdiri di samping brankar yang ditempati Bimantara. Bimantara mengangguk pelan mengiyakan.
__ADS_1
"Papa udah mendingan kok. Makasih ya, sudah mau datang kemari." Ujar Bimantara sambil melirik Arkandra yang acuh tak acuh. Paham kalau papa mertuanya itu ingin sekali bicara dengan Arkandra, ia pun menarik pelan lengan Arkandra agar berdiri di sampingnya.
Mata Arkandra melotot saat Azura menariknya mendekat, tak mau kalah, Azura pun balas melotot membuat Arkandra akhirnya terpaksa pasrah.
"Arkan, maafkan papa," ucap Bimantara memulai percakapan. Ia tahu, Arkandra takkan mau bicara dengannya jadi ia berinisiatif memulai terlebih dahulu.
Arkandra hanya menatap datar ayahnya.
"Papa tahu, papa salah. Dosa papa pasti sudah sangat banyak, karena itu papa mohon maafkan kesalahan papa. Papa menyesal, Kan. Seandainya papa bisa lebih setia, pasti semua takkan menjadi seperti ini," imbuh Bimantara lagi yang hanya direspon Arkandra dengan tatapan datar, nyaris tanpa ekspresi.
Geram melihat suaminya justru terdiam tanpa merespon, Azura lantas mencubit lengannya membuat Arkandra mengangkat alisnya seolah bertanya ada apa?
Azura pun melotot kemudian berbisik ditelinga Arkandra.
"Ngomong, nggak boleh diam aja kayak gitu. Mau jadi anak durhaka?"
"Aku nggak pernah jadi anak durhaka yang adanya justru papa durhaka." jawab Arkandra acuh tak acuh membuat Bimantara menghela nafas panjang. Ia tahu kesalahannya begitu besar sehingga sulit untuk dimaafkan. Ia pun pasrah yang penting ia telah menyesalinya dan sudah berusaha meminta maaf kepada putranya itu.
__ADS_1
"Tak perlu meminta maaf padaku, karena kesalahan terbesarmu itu bukan padaku tapi pada mama. Sebenarnya aku pun bersalah dalam hal ini. Andai Arkan tidak pernah membawa perempuan itu ke dalam keluarga kita, mungkin semua takkan menjadi seperti ini. Mama pasti masih ada dan keluarga kita akan tetap utuh. Tapi semua telah terlanjur terjadi. Mungkin inilah takdir keluarga kita, yang penting papa sekarang menyesalinya dan mau berubah." Tukas Arkandra akhirnya setelah mendapat pelototan tajam dari Azura.
Bimantara pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Kencana tersenyum bahagia, akhirnya adiknya sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Bukankah hidup itu untuk masa depan. Namun, jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar kita tidak sembarangan dalam bertindak dan mengambil keputusan.