Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 110. Aku tidak mau bertunangan denganmu


__ADS_3

Rumah keluarga Gerald kini sudah tampak ramai dipenuhi para tamu undangan. Dengan langkah panjang dan penuh percaya diri Gerald keluar dari kamarnya dan berjalan menuju lantai bawah menggunakan tangga. Sontak kemunculannya mengalihkan perhatian para tamu undangan. Gerald memang sangat tampan, jadi sangat wajar bila ia menjadi bahan perhatian para tamu undangan.


Begitu pula Melodi, tiba-tiba jantungnya berdebar tidak karu-karuan saat matanya tanpa sengaja bersirobok dengan mata Gerald. Apalagi saat itu tiba-tiba Gerald tersenyum manis, bahkan sangat manis sampai membuat para gadis yang melihatnya langsung bergunjing memuji dan memuja penuh kekaguman.


Namun senyum Gerald tak bertahan lama sebab ia melihat Vero telah berjalan menuju Melodi dengan bunga mawar di tangannya. Tangannya mengepal, seharusnya ia yang membawakan Melodi bunga, bukan Vero. Seandainya sang mama telah menasihatinya sejak sebelumnya atau minimal malam tadi, mungkin dirinya akan melakukan persiapan yang lebih baik. Tapi tak apalah, yang penting ia berusaha menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Untuk melakukan hal-hal romantis, bisa ia lakukan setelahnya. Ia hanya berharap, Melodi mau menerimanya menjadi pasangannya.


Gerald berjalan membelah kerumunan menuju sebuah taman tempat Melodi berdiri saat ini. Azura yang melihatnya lantas tersenyum sambil menyenggol lengan adiknya seraya menggoda.


"Cie ... cie ... pangerannya datang nih!" ucapnya seraya berbisik. Melodi tersipu malu lalu menundukkan wajahnya, tak ingin rona pipinya sampai terlihat oleh orang-orang. "Wah, ganteng banget ya mas!" pujinya sambil tersenyum lebar membuat Arkandra tersenyum masam.


"Nggak usah muji-muji cowok lain!" Arkandra mendelik tajam membuat Azura menyeringai.


"Emang kenapa? Kan emang beneran ganteng," ucap Azura polos membuat Arkandra mendelik tak suka.


"Tapi mas nggak suka kamu muji lelaki lain. Lagipula masih gantengan mas kok kemana-mana. Atau kamu mau bukti?" goda Arkandra seraya menyeringai.


"Ah, masa'! Gimana coba caranya?" tantang Azura.


Arkandra tersenyum lantas berjalan hendak menuju ke kerumunan para gadis membuat Azura membelalakkan matanya. Berpasang mata mulai mengalihkan perhatiannya pada Arkandra, tak mau suaminya jadi santapan lapar para tamu undangan khususnya ciwik-ciwik, Azura pun bergegas bergerak dan merangkul lengan Arkandra posesif. Tatapan matanya nyalang, seolah berkata 'Jaga mata kalian! Ini laki gue ya!'


Arkandra terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang mulai posesif.


"Cemburu, hm?" goda Arkandra sambil berbisik di telinga Azura.


"Cemburu? Jangan ke'GR'an dulu ya mas dokter galak! Aku ngelakuin ini semata-mata nggak mau perhatian para tamu beralih ke kamu. Ingat, calonnya Odi yang harus jadi bintangnya malam ini." sanggah Azura tak ingin mengakui kalau ia cemburu bila Arkandra jadi bahan perhatian orang lain.


"Oh, kalau begitu kamu ngakuin dong kalau mas lebih ganteng dari Gerald," ujarnya seraya terkekeh. "Buktinya kamu takut perhatian para tamu beralih ke aku, hayo ngaku!" goda Arkandra membuat Azura mencebikkan bibirnya.


"PD. Weeekkk ... " Azura menjulurkan lidahnya membuat Arkandra makin senang menggodanya.

__ADS_1


Tiba-tiba perhatian para tamu undangan teralih ke arah Gerald yang ternyata telah berdiri di atas panggung yang ada di taman belakang rumah itu. Para tamu memang tidak begitu banyak, semuanya merupakan bagian dari keluarga besar Gerald.


Semua orang bertepuk tangan saat Gerald tengah menyampaikan perasaannya pada Melodi yang tengah berdiri di samping Vero.


"Selamat pagi menjelang siang semua. Maaf bila kehadiran saya di atas sini sedikit mengganggu. Saya di sini hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milik saya. Maksudnya saya ingin memperjuangkan orang yang saya cintai, Melodi Kiranina." sontak saja apa yang dikatakan Gerald membuat semua tamu undangan bertepuk tangan. Gerald sebenarnya sedikit bingung, kenapa mereka justru mendukung hingga bertepuk tangan dengan semangat. Bukankah seharusnya mereka mencelanya karena ingin merebut calon tunangan Vero?


'Aneh!' gumamnya dalam hati.


Namun, Gerald tak mau banyak berpikir saat ini, yang menjadi tujuan utamanya berdiri di atas panggung ini adalah untuk menyatakan perasaannya pada Melodi.


"Melodi Kiranina, maaf bila pernyataan ini sedikit mengejutkanmu. Apalagi hari ini merupakan momen spesialmu dengan seseorang. Namun, aku tak mau melepaskan kesempatan yang kemungkinan sangat kecil ini. Melodi, katakanlah aku bodoh karena baru menyadari artimu saat kau tak ada di sisi. Ternyata hadirmu sungguh berarti dalam hati dan jiwa ini. Melodi, aku mencintaimu, sungguh. Aku sungguh-sungguh mencintai dan menyayangimu. Entah sejak kapan rasa ini mulai memenuhi ruang hatiku, tapi yang ku yakin pasti, aku tak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu, mau kah kau menerimaku menjadi pasanganmu?" tanya Gerald dengan dada berdebar.


Sungguh, sebenarnya ia merasa sangat malu berdiri di sana, di bawah tatapan para tamu yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan keluarganya. Tapi, ia tidak memiliki cara lain. Ia yakin, ini merupakan cara terbaik untuk menyatakan perasaannya. Apalagi ini adalah kesempatan terakhirnya, mungkin bila ia menunda beberapa menit saja, maka Melodi akan menjadi milik orang lain.


Detik demi detik telah berlalu, tapi Melodi masih terpaku melihat Gerald yang dengan lantangnya menyatakan perasaannya padanya dari atas panggung.


Suara di taman itu kini kian riuh. Pandangan mereka semua tampak terpaku pada sosok Melodi yang malam ini terlihat kian bersinar dengan gaun putihnya. Sebuah hair piece mutiara melekat di kepalanya memberikan kesan seorang putri pada Melodi.


Wajah Gerald seketika murung saat Melodi tak kunjung menjawab pertanyaannya. Dengan wajah lesu, Gerald mengembalikan microphone kepada pembawa acara. Lalu dengan langkah lesu, ia menuruni tangga.


'Sepertinya aku telah benar-benar terlambat.' gumamnya dalam hati dengan tersenyum miris.


Melihat wajah lesu Gerald, Melodi tersenyum tipis lalu menghampirinya.


"Mau kemana?" tanya Melodi seraya tersenyum manis.


"A-aku ... "


"Kok tega sih ninggalin aku di sini sendirian? Nggak takut aku diambil Vero beneran?" tanya Melodi sambil mencebik membuat Gerald mengerutkan keningnya karena bingung.

__ADS_1


"Nggak mau tunangan sama Odi ya kak?" tanya Melodi lagi membuat Gerald makin kebingungan.


Lantas Melodi membalik tubuhnya menjauhi Gerald dan mendekati Vero, "Yuk Ver, kayaknya kak Gege pingin banget liat aku tunangan sama kamu," ucap Melodi membuat Vero tersenyum lebar.


"Bang, beneran nih? Nggak jadi nih mau tunangan? Kalau nggak, aku bersedia dengan senang hati dan suka rela kok menjadi pengganti Abang," ucap Vero sambil menyeringai.


Tahu Gerald masih kebingungan memahami apa yang dimaksud Melodi dan Vero, sang nenek pun segera beranjak mendekati Gerald dan membisikkan sesuatu.


Seketika matanya membola tak percaya dengan apa yang baru saja dibisikkan sang nenek.


Tak mau kehilangan sang pujaan hati, Gerald pun segera berlari menarik tangan Melodi dan memeluknya erat tanpa mempedulikan para tamu undangan yang telah bersorak.


"Di, jadi ini ... ini sebenarnya pertunangan kita? Kakak ... nggak lagi mimpi kan?" tanya Gerald gelagapan tak percaya kalau keluarganya bisa melakukan sandiwara sehebat ini.


"Jadi masih mau dilanjut atau ... "


"Aku tidak mau bertunangan denganmu," ucap Gerald tiba-tiba membuat Melodi membelalakkan matanya.


Melodi sampai mundur dua langkah saat mendengar perkataan tersebut. Matanya bahkan telah memanas dan bersiap menumpahkan tirtanya.


"Ge ... " seru keluarganya yang juga terkejut.


"Kau apa-apaan, Ge!"


"Ya, aku tidak mau bertunangan dengan Melodi karena aku ... ingin langsung menikahinya," ucapnya tanpa keraguan membuat semua orang yang mendengarnya terkaget-kaget lalu bersorak gembira.


...****...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2