Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 82. Kegetiran seorang Azura


__ADS_3

Puas bermain di arena bermain, Alice meminta Arkandra membawa mereka ke taman bermain sembari makan es krim. Arkandra pun menyetujuinya, tapi sebelum itu Arkandra membawa kedua perempuan berbeda usia itu makan di salah satu gerai makanan cepat saji berlogo kakek tua. Alice dan Azura pun berseru dengan riang gembira. Bahkan mereka secara bergantian mencium pipi Arkandra sebagai ungkapan terima kasih. Hal itu sontak saja membuat wajah Arkandra memerah. Mereka sudah seperti keluarga kecil bahagia. Bahkan tak sedikit orang yang mengira mereka memang keluarga kecil dengan Arkandra sebagai ayah, Azura ibu, dan Alice sang anak. Arkandra tak memungkiri itu, mereka memang terlihat seperti pasangan bahagia dengan satu orang anak.


"Mas dokter, ayo buka mulutnya! Aaa ... " Azura ingin menyuapi Arkandra dengan ayam goreng yang telah ia beri saus sambal sebab Arkandra hanya memesan mocha float. Baginya makanan cepat saji kurang sehat. Ia mau ke sana pun karena termakan bujukan dan rayuan Azura dan Alice.


Arkandra menggeleng tapi Azura tetap memaksa. Dengan berat hati, Arkandra membuka mulut dan mengunyah ayah goreng krispi yang sebenarnya rasanya enak itu. Lalu Azura juga menyuapi Arkandra dengan nasi yang kini justru disambut Arkandra dengan santai. Bahkan tanpa sadar, ia telah memakan satu porsi ayam dan nasi melalui tangan Azura. Azura dan Alice sampai senyum-senyum sendiri melihat tingkah dokter galak itu.


"Om Arkan keenakan disuapi sama Tante." ejek Alice seraya terkekeh.


"Mau gimana lagi Lice, makanan yang disuap pake tangan Tante itu bisa jadi berkali-kali lipat nikmatnya. Karena itu, om kamu yang awalnya nolak malah jadi keenakan sampai nggak sadar punya Tante udah dihabiskan sama om galak kamu itu." timpal Azura yang ikut terkekeh.


Arkandra mendelik tajam, lalu mengalihkan pandangannya sambil mengulum senyum. Ia benar-benar tak sadar akan tindakannya sendiri. Benar kata Azura dan Alice, ia terlalu keenakan jadi tidak sadar kalau sudah makan satu porsi. Ternyata makan disuapi itu enak juga batinnya bermonolog tanpa sadar. Bahkan tadi tanpa sadar, ia mengecupi jari Azura yang berlumuran saos. Arkandra merutuki dirinya sendiri mengapa bisa sampai terbawa suasana seperti itu.


Diam-diam dipandanginya wajah Azura yang terlihat makin cantik saat tertawa lepas. Tanpa sadar, ia turut tersenyum memandangi wajah gadis yang telah menjadi istrinya itu. Ya, dia memang sudah menjadi istrinya, tapi ia masih gadis karena Arkandra belum berani menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya. Ia masih butuh waktu. Ia ingin memantapkan hatinya terlebih dahulu sebelum semuanya terlanjur terjadi. Ia tak mau ada penyesalan. Selain itu, ia ingin menghapuskan bayang-bayang kelamnya terlebih dahulu agar tidak mengecewakan Azura.


Kini ketiga orang itu telah berada di sebuah taman bermain yang lokasinya tidak jauh dari apartemen mereka. Arkandra memilih di sana sebab hari sudah menjelang sore jadi ia tidak mau mengajak Azura dan Alice pergi terlalu jauh.


"Mas dokter ternyata orangnya baik banget dan penyayang ya!" puji Azura yang kini duduk di samping Arkandra seraya memandangi Alice yang sedang bermain ayunan.


"Aku memang baik. Tapi sayang, nasibku saja kurang baik apalagi semenjak bertemu dengan gadis menyebalkan seperti kamu." ketus Arkandra, namun itu tidaklah sungguh-sungguh. Ia hanya senang saja membuat Azura kesal.

__ADS_1


"Cck ... mas dokter ih. Harusnya mas dokter bersyukur bisa punya istri cantik, pintar, dan mandiri kayak aku." ujarnya membanggakan diri.


"Narsis." cibir Arkandra.


"Semoga mas dokter nanti bisa bahagia ya setelah berpisah dengan aku. Bisa menemukan perempuan yang baik, perhatian, dan bisa tulus sayang sama mas dokter. Nggak bikin mas dokter sedih lagi kayak mantan mas dokter yang udah-udah. Eh satu lagi, nggak parasit dan menyebalkan kayak aku juga," ujar Azura tiba-tiba sambil terkekeh membuat Arkandra mengernyitkan dahinya. Lantas ia menoleh ke arah Azura yang tatapannya terlihat sendu. Ia tak pernah melihat sosok Azura yang seperti ini. Terlihat rapuh dan menyedihkan.


"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gini?"


"Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma pingin doakan mas dokter yang terbaik aja. Jangan terlalu terlarut dengan masa lalu, dok! Masa depan mas dokter itu masih panjang. Aku ngomong gini cuma karena pingin liat mas dokter bahagia aja. Nggak terluka lagi."


Arkandra terkekeh, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari gadis di sampingnya. Baru kali ini mereka bisa bicara dengan santai tanpa ada hal-hal yang konyol.


"Mau apa ya? Mmm ... mau jadi kakak yang lebih baik lagi buat Melodi. Mau memastikan dia lulus dengan baik lalu bekerja di tempat yang bagus. Terus memastikan Melodi mendapatkan jodoh yang baik yang bisa membahagiakan dia, mencintainya apa adanya." ujar Azura dengan tatapan kosong.


Arkandra tertegun di tempat.


"Kenapa semuanya tentang Melodi?


Bagaimana dengan kamu? Apa kau tidak berniat menikah di kemudian hari?" tanya Arkandra penasaran.

__ADS_1


Azura lantas menoleh, menatap lekat wajah suaminya itu sambil tersenyum getir.


"Memangnya ada lelaki baik yang mau sama perempuan kayak aku?" ujar Azura seraya menunjuk dirinya sendiri. "Gadis yang rela menggadaikan harga dirinya demi sejumlah uang. Yang bahkan rela berbuat hal-hal yang merendahkan harga dirinya sebagai perempuan di hadapan seorang pria." ujarnya seraya terkekeh. Tapi justru air mata mengalir dari pelupuk matanya. Arkandra yang melihat itu merasa sesak. Hatinya bagai diiris sembilu. Dari sorot matanya, Arkandra dapat melihat kalau sebenarnya Azura tertekan melakukan segala hal absurd itu. Ia terpaksa.


"Orang seperti aku ini nggak ada harganya di hadapan orang lain. Nggak pantes juga buat ketemu pria baik-baik. Jadi aku nggak mau neko-neko, bisa liat Melodi sukses dan bahagia serta menemukan pasangan hidupnya, udah bisa buat aku bahagia." imbuhnya lagi.


Air mata Azura turun makin deras. Azura tetap berusaha tersenyum, tapi terlihat pedih. Reflek, tangan Arkandra terangkat dan menghapus lelehan air asin itu. Arkandra tak pernah tau seberat apa perjuangan Azura selama ini. Ia hanya tau, gadis itu selama ini hanya tinggal berdua dengan adiknya, tak lebih.


"Aku nggak nyangka perempuan kayak kamu bisa merasa rendah diri juga. Aku pikir, gadis kayak kamu cuma tau tinggi hati dan tinggi percaya diri aja."


"Aku juga manusia, mas dokter, jadi wajar dong bisa nangis dan sedih." ujarnya mencebik. Lalu pandangannya menerawang, mengingat kilasan perjuangannya beberapa tahun ini hingga ia akhirnya harus mengubur mimpi-mimpinya dan menjalani hidup dengan penuh kegetiran. Berusaha tegar padahal rapuh. Berusaha terlihat kuat padahal lemah. Tidak mudah menjadi dirinya. Tak ada sanak keluarga tempat untuk mengeluh dan memohon bantuan. Hanya mengandalkan diri sendiri tanpa bisa berbagi. Walaupun ia memiliki Melodi, tapi tak pernah satu kali pun ia berkeluh kesah dengannya. Cukuplah dirinya yang berjuang mati-matian. Cukuplah dirinya yang menderita, jangan adiknya. Ia tak rela.


...***...


Ada yang bertanya-tanya nggak kenapa tiba-tiba Azura sedih?


Hayo, tebak kenapa? 🤔☺️✌️


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2