Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 68.


__ADS_3

"Azura ... " suara teriakan menggema dari luar kamar Azura. Azura yang masih terlelap tiba-tiba tersentak hingga kepalanya menjadi pusing karena terlalu terkejut.


Bruakkk ...


Arkandra membuka pintu kamar Azura lalu masuk sambil melemparkan pakaian kotor ke wajah Azura.


"Astaga, mas dokter apa-apaan sih! Aku masih ngantuk tau! Terus ini kenapa pakaian kotor di lemparkan kemari emang aku ini keranjang baju kotor." desis Azura seraya memijat pelipisnya yang mendadak pening.


"Masih ngantuk? Kamu nggak liat udah jam berapa ini? Kamu nggak kerja?" ucap Arkandra seraya berkacak pinggang.


"Jam berapa sih?" lalu Azura melihat jam dilayar ponselnya. "Astaga, udah telat!" gumamnya lalu ponselnya tiba-tiba berdering. "Eza." gumamnya lagi lalu ia pun segera mengangkat panggilan itu.


"Hai, Za."


" ... "


"Sorry, gue kesiangan."


" ... "


"Iya, tenang, entar gue traktir deh sebagai gantinya!"


" ... "


"Apa? Nonton? Boleh juga. Siang ini? Oke."

__ADS_1


" ... "


"Bye ... " klik. Panggilan pun ditutup.


"Kau mau pergi? Kau tidak boleh pergi kemanapun sebelum kau membereskan dulu semua pekerjaanmu!" titah Arkandra seperti seorang majikan memerintah bawahannya.


"Pekerjaan apa lagi sih mas dokter? Sarapan? Gampang. Nyapu kan kemarin udah. Pakaian ini? Aku bawa ke binatu aja deh. Tinggal siniin uangnya bereskan!"


"Bukankah aku sudah bilang aku tak suka pakaianku di sentuh orang lain."


"Ya udah, mas dokter cuci sendiri aja, gitu aja kok repot!"


"Bukankah sudah tugas seorang istri mencuci pakaian suaminya? Mengurus makanan dan membersihkan rumah, kenapa aku harus repot-repot? Cepat kerjakan kalau kau masih mau pergi!" titah Arkandra lagi seraya berlalu dari hadapan Azura.


Dengan menghentakkan kaki, Azura membawa pakaian kotor itu ke ruang mencuci.


"Oh gini ya ternyata pekerjaan seorang suami, istrinya capek-capek jadi babu, suaminya malah enak-enakan nonton sambil nyemil." protes Azura.


"Bukankah peran suami istri memang seperti itu. Istri beres-beres rumah dan suami menikmati hasilnya." sahut Arkandra santai sambil memakan kacang kulit miliknya.


"Ada yang orang nyebelin kayak mas dokter. Entah apa salah dan dosaku sampai harus terkena kutukan dapat suami menyebalkan kayak kamu." desis Azura yang sudah menghempaskan bokongnya di samping Arkandra.


Seakan Azura merupakan sebuah virus, Arkandra segera menggeser tubuhnya menjauh dari Azura.


"Dosamu mau-maunya bekerja sama dengan Kencana untuk menaklukkan aku jadi tanggung sendiri risikonya."

__ADS_1


"Jadi mas dokter udah tau?"


"Aku tak sebodoh itu mudah kalian permainkan."


Azura mendesah lirih sambil melirik Arkandra.


"Baguslah kalau mas dokter udah tau, berarti aku bisa melakukan tugasku secara terang-terangan mulai sekarang?" ucapnya sambil menyeringai membuat Arkandra bergidik sendiri.


"Hai, Steven." ucap Arkandra saat ia mengangkat panggilan dari Steven.


Azura yang melihat itu lantas segera merebut ponsel Arkandra dan berteriak.


"Woi pelakor, udah gue bilangin jangan ganggu suami gue lagi! Loe ngerti nggak sih! Atau pisang loe beneran mau gue bonyokin, hah!" teriak Azura.


Arkandra yang melihat itu segera merebut ponsel itu sehingga terjadilah adegan rebut-rebutan hingga keduanya jatuh berguling di atas lantai dengan Azura berada di atas.


"Wah, mas dokter mau lanjutin yang semalam ya!"


"Jangan mimpi! Semalam aku hanya ingin melihat apakah aku sudah mulai tertarik dengan perempuan, tapi sepertinya tidak." lalu Arkandra mendorong tubuh Azura hingga jatuh ke samping.


"Kurang ajar! Awas yang kamu mas dokter! Aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut padaku." pekik Azura saat Arkandra telah berdiri.


"Coba saja kalau bisa. Asal kau tau, aku lebih terangsang melihat tubuh laki-laki dari pada wanita sepertimu." ucapnya membuat Azura kian meradang.


"Baiklah, kita tunggu aja. Saat itu pasti tiba. Jangan panggil aku Azura bila aku nggak bisa membuktikan ucapanku." ucapnya dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2