Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 54. Saling mengerjai


__ADS_3

Brakkk ...


Setelah kepergian trio icikiwir itu, Arkandra lantas menutup pintu kamar dengan kencang membuat Azura yang sedang membereskan permainan monopoli jadi tersentak.


"Ck ... nutup pintunya kurang kuat pak dokter. Masih utuh itu. Harusnya lebih kenceng lagi, sampai rusak kalo perlu." sarkas Azura dengan satu sudut bibir tertarik ke atas.


Sedangkan Arkandra yang sedang dikuasai emosi, tanpa mempedulikan cibiran Azura langsung masuk ke kamar mandi dan mendinginkan kepalanya di bawah guyuran shower.


"Aaargh ... sial! Aku kenapa sih? Kenapa mesti marah-marah sama mereka?" ucapnya seraya mengusap kasar wajahnya.


Azura yang sedang duduk-duduk di pinggir ranjang seketika menoleh saat mendengar derit pintu yang terbuka. Dari baliknya, munculah Arkandra yang hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya membuat pipi Azura seketika memanas. Padahal ini kali keduanya melihat dada bidang Arkandra, tapi baru kali ini ia dapat menikmatinya tanpa rasa malu. Ngapain malu kan udah sah. Tidak seperti tempo hari tapi berkat itulah mereka kini menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


"Ngapain liat? Nggak pernah liat dada bidang cowok ganteng, hm?" ujar Arkandra dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Cih, PD banget pak! Baru segitu aja udah percaya diri banget. Punya Leon malah lebih wow lagi. Ibarat kalau Leon udah punya anak dia bakal dapat julukan hot papa, kalau pak dokter, apaan tuh! Masih biasa itu mah. Buktinya, aku nggak tergoda tuh." kilah Azura seraya mendekatkan ibu jari dan jari telunjuk


Merasa tertantang, Arkandra pun lantas mendekatkan tubuhnya ke Azura. Azura sampai menelan ludahnya sambil perlahan beringsut mundur. Tapi pergerakannya justru membuatnya makin naik ke tengah kasur.


"Pak ... pak dokter mau ngapain?" cicit Azura yang kini tubuhnya sudah dikungkung Arkandra.


"Apa katamu tadi? Tubuhku biasa aja? Kamu nggak bakal tergoda? Kamu yakin?" desis Arkandra sambil menyeringai.


"Aku yakin." kilahnya lagi. Tapi pergerakan tenggorokan Azura yang menelan ludahnya sendiri membuat Arkandra makin tertantang untuk menggodanya.

__ADS_1


Lalu tangan Arkandra terulur menarik tangan Azura dan meletakkannya di dada bidangnya membuat tubuh Azura seakan tersengat listrik ribuan volt. Sebenarnya bukan hanya Azura yang merasakan itu, tapi juga Arkandra. Tapi ia tetap bersikap tenang untuk mengerjai Azura.


'Huh, sepertinya pak dokter mau ngerjain aku deh! Gimana kalau aku kerjain balik ya? Hihihi ... Awas ya kamu!' desis Azura dalam hati.


Tangan Azura yang telah menempel di dada Arkandra lantas bergerak pelan menyusuri dada bidang itu dengan gerakan sensual. Arkandra sontak saja melotot tajam. Mengapa kini Azura lah yang menggodanya. Lalu tiba-tiba Azura melingkarkan tangannya di leher Arkandra dan menariknya mendekat hingga wajah mereka nyaris tak berjarak.


"Pak dokter mau ngerjain aku ya? Ayo, aku nggak masalah! Kan udah halal, pak! Ayo dong pak dokter, jangan ragu! Pak dokter mau ini kan!" bisik Azura seraya membelai rahang Arkandra tersenyum manis.


Arkandra memejamkan matanya menikmati gelenyar aneh yang menyeruak di dadanya. Apalagi saat Azura mengecup lehernya singkat. Ya, hanya singkat tapi ... efeknya membuat Arkandra panas dingin.


Tak mau sesuatu yang tak diinginkannya terjadi, Arkandra dengan cepat melepaskan diri dari Azura dan segera menuju koper untuk mengambil pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Azura yang melongo di tempat.

__ADS_1


Lalu Azura pun tergelak sambil berseru kegirangan.


"Cie ... cie ... pak dokter kalah ni ye! Zura di lawan!" ucap seraya tergelak.


__ADS_2