
"Aku mohon Arkan, izinkan aku bicara sebentar saja!" ucap Vinandia seraya memelas membuat Arkandra jengah. Ia sungguh malas berhadapan dengan Vinandia. Setiap melihatnya, itu akan mengingatkannya pada kenangan buruk sekaligus menjijikkan karena itu ia selalu menghindar bila melihat mantan kekasih yang telah menjadi ibu tirinya tersebut.
"Aku sibuk." ketus Arkandra.
"Sebentar saja, Arkan! Aku mohon!" melasnya dengan amat sangat.
"Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan! Aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu!" sinis Arkandra dengan posisi masih memalingkan wajahnya. Ia benar-benar enggan menatap wajah Vinandia walaupun beberapa detik saja.
"Terima kasih, Kan! Aku tau, kau takkan sekejam itu padaku! Bisakah kita bicara di tempat lain yang lebih nyaman!" ucap Vinandia dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Cepat katakan! Jangan bertele-tele! Atau tidak sama sekali!"
"Baiklah bila itu yang kau mau. Kita bisa bicara di sini. Maaf, bila yang aku bicarakan ini sedikit kurang sopan tapi aku harap kau mengerti. Ini semua demi kebaikan kita semua." ucap Vinandia. Lalu ia menghela nafas panjang dan melanjutkan kata-katanya. "Arkan, bisa kah kau bersikap lebih baik dengan papamu. Tidak cukupkah sanksi sosial yang telah kalian berikan padanya? Kau tau, dia begitu terluka dengan sikap kalian ini. Apalagi saat melihat kak Kencana menatap benci dirinya. Dia hancur, Kan! Bagaimanapun, dia papa kalian dan dia sangat menyayangi kalian." tukas Vinandia.
Arkandra tertawa sumbang mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Vinandia. Ia tak menyangka perempuan yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah yang pernah ia tinggali bisa mengatakan kata-kata manis seperti itu.
Vinandia tau, perbuatannya di masa lalu telah menorehkan luka yang begitu besar di hati Arkandra. Tapi tidak bisakah Arkandra mencoba melupakan semua itu dan mencoba menatap ke masa depan. Tidak mungkin mereka harus selalu saling membenci apalagi kini ia telah menjadi istri sah dari Bimantara, ayah kandung Arkandra sendiri.
Vinandia telah berusaha memerankan perannya sebagai seorang ibu dan istri yang baik, tak bisakah Arkandra melihat itu dan menghargainya? Sekalipun Kencana selalu memberikan tatapan permusuhan yang begitu kentara, bahkan tanpa sungkan ia mempermalukan dirinya di hadapan kolega keluarga Bimantara, tapi ia tetap mencoba bersabar dan menerima, tapi mengapa, tak sedikit pun baik Kencana maupun Arkandra mau menghargai perjuangannya? Ia telah berusaha sebaik mungkin agar ia dapat diterima keluarga itu, tapi semua usahanya tak pernah dihargai.
__ADS_1
"Terserah kau mau mengatakan apa, tapi tolong pikirkan ucapanku tadi. Kau sudah dewasa, Arkan. Jangan terus-terusan bersikap kekanakan dan membenci ayahmu secara berlebihan! Tolong lupakan semua kejadian di masa lalu, hentikan segala sandiwaramu, dan jalanilah rumah tanggamu dengan baik. Berhentilah berpura-pura sebagai gay untuk membalas dendam padaku. Untuk apa? Itu sudah tidak berguna sama sekali sebab aku sudah mencintai ayahmu dan kau harus bisa menerima itu "
Arkandra kehabisan kata-katanya. Ia tak menyangka, ternyata kata-kata yang keluar dari mulut Vinandia jauh lebih menjijikkan daripada adegan yang pernah dilihatnya saat itu.
"Ternyata benar kata Kencana, kau memang perempuan yang tak tahu malu sekaligus tak tahu diri. Tinggi sekali rasa percaya dirimu sehingga bisa mengeluarkan kata-kata tak tahu malu seperti itu. Dengar, apapun yang aku lakukan itu tak ada hubungannya denganmu. Singkirkan jauh-jauh pikiran picik itu karena kau tak ubahnya parasit dalam keluarga ini."
"Aku tau, kau belum move on, Arkan. Aku tau, kau masih sakit hati denganku yang lebih memilih menikah dengan ayahmu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir. Kita tidak berjodoh. Aku justru kini telah menjadi istri ayahmu. Tolong lupakan aku! Jangan siksa kami seperti ini! Tidak cukupkah beban moral yang harus kami tanggung sebagai pasangan selingkuh? Nama kami sudah tercemar di mata semua orang. Kami sudah hampir gila mendapatkan caci maki serta umpatan dari orang-orang."
Arkandra ingin tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan dari Vinandia yang menurutnya sangat lucu itu. Belum sempat Arkandra ingin membalas ucapan Vinandia, tiba-tiba sepasang tangan terentang di hadapannya. Menghalangi dirinya yang ingin membalas kata-kata Vinandia.
__ADS_1