
"Karena itu pak dokter berpura-pura jadi gay?" tanya Azura polos sambil kembali menatap wajah sang suami.
Arkandra balik menatap mata Azura kemudian terkekeh. Azura terkejut melihat kekehan suaminya. Suaminya jadi terlihat makin tampan. Jantung Azura kembali berdebar kencang saat ditatap balik Arkandra dan melihat kekehan langka itu.
"Aku nggak pernah berpura-pura jadi gay, awalnya. Tapi karena semua orang mulai membicarakannya, akhirnya aku mengabulkan keinginan mereka. Kencana awalnya marah besar saat mengetahui berita tersebut. Tapi terserahlah, aku tak peduli. Aku malah jadi semakin menjadi mengusili perempuan kepo itu,"
"Tapi apapun yang kak Kencana lakukan itu kan demi kebahagiaan pak dokter. Nggak terbayang kalau pak dokter jadi nikah sama perempuan itu dan dia masih menjalin hubungan sama papa mertua, pasti pak dokter akan makin hancur," ucap Azura sambil geleng-geleng kepala.
"Dan satu lagi, kita nggak bakal mungkin menikah," sahut Arkandra cepat.
Azura memalingkan wajahnya saat Arkandra mengucapkan itu. Ia tak boleh terpengaruh dengan kata-kata manis suaminya itu, tekannya dalam hati.
"Jahat banget sih perempuan itu. Nggak bersyukur banget jadi orang. Udah punya suami tampan, kaya, sayang sama dia, punya pekerjaan bagus, nggak ada kekurangan. Kalau aku ada di posisinya seperti saat itu, pasti aku akan setia mati-matian. Kalau perlu aku pelukin tiap hari supaya nggak ada yang bisa ambil pak dokter dari aku. Dapetin pak dokter itu susah banget, butuh perjuangan dan pengorbanan besar. Rugi banget lepasin orang kayak pak dokter, dasar perempuan bodoh. Aku yakin, dia pasti nyesel sekarang karena itu dia temuin aku biar aku menjauh dari pak dokter, eh ... " Azura dengan cepat membekap mulutnya yang keceplosan.
Arkandra mengangkat alisnya, seolah meminta penjelasan dari Azura membuat gadis itu jadi gelagapan.
"Eh, nggak, maksudnya pas dia ngomong sama pak dokter tempo hari itu lho," kilahnya tak ingin memberitahukan perihal kedatangan Vinandia ke apartemen mereka.
Arkandra menari telapak tangan Azura dan menggenggamnya erat sambil menatapnya lekat.
"Ra, abaikan saja perkataannya! Jangan kamu simpan dalam hati! Dia itu hanya iri. Jangan pergi ... "
Azura membolakan matanya saat mendengar penuturan itu.
"Pak dokter ... tau ... "
Arkandra mengangguk, "Aku udah cek rekaman CCTV. Aku juga liat kamu nangis sendirian. Kenapa kamu pendam kesedihanmu sendiri?"
__ADS_1
"Aku ... aku ... "
Arkandra lantas menarik pundak Azura dan mendekapnya erat sambil mengusap punggungnya.
"Menangis lah, jangan pendam segala kesedihanmu. Menangis lah, ada aku di sini."
Mendengar itu, Azura lantas kembali menumpahkan tangisnya. Ia butuh bahu untuk bersandar. Ia butuh pelukan erat yang menguatkan. Ia butuh usapan untuk menenangkan. Ia butuh seseorang yang mampu mendengarkan.
Setelah tangis Azura agak mereda, Arkandra pun menyeka sisa-sisa air mata itu dengan ibu jarinya.
"Terima kasih pak dokter. Maaf, bajunya jadi basah," cicit Azura seraya menunduk dan memilin jemarinya.
"Tak perlu minta maaf, kan yang basahin tukang cucinya sendiri," canda Arkandra.
Azura mencebik disebut sebagai tukang cuci.
"Hmmm ... "
"Beneran kamu bisa setia?"
"Maksudnya?"
"Itu tadi, kamu bilang kalau kamu di posisi dia saat itu, kamu bakal setia mati-matian, apa itu benar?" tanya Arkandra sambil memegang dagu Azura hingga mata mereka saling bersirobok.
"Iya, kalau aku jadi dia, aku bakal setia sama pak dokter."
"Yang aku tanya itu kamu, Ra, istri aku, Azura Karenina. Apa istriku ini akan benar-benar setia bila berada di posisi seperti itu?" ucap Arkandra lagi.
__ADS_1
Jantung Azura tersentak, apalagi saat perlahan tangan Arkandra merayap di belakang tubuhnya lalu menariknya hingga tubuh mereka berdua merapat.
"Pak ... pak dokter ... " Azura kikuk sendiri dengan posisi mereka saat ini. Apalagi nafas Arkandra tepat menerpa wajahnya membuat Azura nyaris kehabisan oksigen karena menahan nafas.
"Jangan panggil saya pak dokter, saya bukan dokter kamu, tapi suami kamu," tekan Arkandra dengan sorot mata teduh.
"Pak dokter, tolong jangan permainkan saya!" cicitnya dengan wajah tertunduk dalam. "Pak dokter, tolong jangan permainkan saya! Saya tahu, pak dokter tak pernah menginginkan saya. Jadi jangan beri saya harapan kalau hanya demi menghibur saya, saya mohon," imbuh Azura lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sok tahu! Memangnya kamu bisa membaca hati dan pikiran saya? Siapa yang bilang saya tidak menginginkan kamu?"
"Dokter sendiri yang bilang kalau dokter tidak akan mungkin menyukai saya apalagi tertarik dengan saya meskipun saya telan*jang sekalipun," ujar Azura mengingatkan perkataan Arkandra tempo hari. "Dokter takkan mungkin mau tidur sama saya apalagi saya ... " nafas Azura tiba-tiba tercekat saat teringat peristiwa pelecehan yang ia alami.
"Aku tarik kembali semua omong kosong itu. Aku mau kamu sekarang, apa kamu siap?" bisik Arkandra lirih di samping telinga Azura membuat gadis itu meremang.
...Dr. Arkandra...
...Azura...
...***...
...Hayo Ra, apa kamu siap? 😁😁😁...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1