
"Ra, cabenya jangan banyak-banyak, nanti perut kamu sakit!" peringat Arkandra saat melihat istrinya menyendokkan cabai sudah lebih dari dua sendok sampai-sampai kuahnya pun terlihat mengerikan. Pekat warna kecap, ditambah saos sambal, lalu cabai yang entah sudah berapa sendok Azura tuangkan ke dalam baksonya. Itu lebih pantas disebut makan cabai pakai bakso dari pada bakso pakai cabai. Arkandra sampai bergidik ngeri sendiri melihatnya.
"Nggak akan kok Mas, Mas tenang aja. Aku udah biasa kok." Azura berkilah tak mau kesenangannya dicegah. Ia memang sudah biasa makan bakso seperti itu.
"Ra, ingat, di dalam perut kami itu ada calon baby kita! Selain itu, makan sesuatu yang berlebihan itu nggak baik bagi kesehatan. Kalau kamu lupa, tempo hari kamu pernah dirawat di rumah sakit karena asam lambung kamu naik, kamu nggak mau kan hal itu terjadi lagi? Kamu nggak mau juga kan membahayakan anak kita?" Tukas Arkandra mencoba memberi pengertian agar istrinya itu tidak hanya memikirkan kesenangannya sendiri tapi juga dampak kesenangannya itu.
Azura yang tadinya hendak kembali menyendokkan cabai yang menurut katanya kurang pedas lantas meletakkan kembali sendok cabainya ke tempatnya semula. Ia menghela nafas berat, padahal ia sudah tak sabar ingin menikmati bakso ekstra pedasnya, tapi mendengar kata-kata pak dokter kesayangannya membuatnya berpikir ada benarnya apa yang dikatakan suaminya itu. Apalagi ia adalah seorang dokter, mantan dokter lebih tepatnya, pasti apa yang ia katakan ada benarnya. Ia tak menampik hal itu. Arkandra mengingat sesuatu bukan karena tak suka, tapi demi kebaikannya dan juga calon buah hatinya.
Tangan Azura lantas terangkat dan berpindah mengusap perut datarnya yang mulai mengeras seraya tersenyum.
Melihat hal tersebut, Arkandra bernafas lega artinya istrinya itu dapat menerima nasihatnya.
Namun, senyum penuh kelegaan itu hanya bertahan sepersekian detik karena pada detik berikutnya, mangkok bakso super pedas Azura sudah berpindah ke hadapannya, sedangkan bakso miliknya sudah dikuasai istrinya itu dengan senyum tanpa dosa.
"Ra, itu ... "
"Kita tukaran aja mas, aku takut sakit perut terus dedeknya ikutan mules. Nggak papa kan!" Ujarnya dengan wajah innocentnya.
Arkandra hanya bisa cengo melihat wajah tanpa dosa sang istri. Entah harus menyesal karena sudah menasihati atau tersenyum lega karena Azura menuruti nasihatnya, yang pasti kini ia hanya bisa memakan baksonya sambil berdoa dalam hati semoga perutnya aman-aman saja.
"Kenapa mas?" tanya Azura seperti tak mengerti kegalauannya sama sekali atau memang tak paham sama sekali.
"Ah, ng-nggak papa. Ayo, buruan makan!" Ucapnya sambil menyendokkan bakso ke dalam mulutnya seolah tidak masalah padahal dalam hati ia sudah was-was.
'Astaga, pedasnya! Auto sedia obat diare ini.' desahnya dalam hati.
...***...
Sementara itu, di kampus Melodi, semua orang sedang heboh saat mengetahui pernikahan dadakan antara Melodi dan Gerald. Mereka tidak menyangka idola mereka tiba-tiba saja menikah padahal setahu mereka Gerald tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain Aurora.
Oleh sebab itu, setibanya Melodi di kampus, ia disambut oleh tatapan tak ramah oleh hampir semua pasang mata khusus kaum hawa. Melodi sampai bergidik ngeri melihat tatapan tajam bak sang elang yang telah siap untuk menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Odi," pekik Yuya dan Zia antusias. Mereka pun langsung memeluk Melodi dengan begitu bahagia saat melihat kedatangan sahabatnya itu setelah seminggu lebih tidak bertemu.
"Zia, Yuya, i miss you," seru Melodi antusias.
"Cie yang baru pulang dari bulan madu hummppp ... "
Mendengar ucapan frontal sang sahabat, Melodi lantas segera membekap mulut Yuya dengan kedua telapak tangannya.
"Lepas! Gila loe ya, mau bunuh gue, hm!" desis Yuya saat Melodi telah melepaskan telapak tangannya dari mulut Yuya.
"Loe tu yang gila! Loe nggak liat, dari tadi semua orang liatin gue sinis kayak gitu. Udah kayak mau nelan gue hidup-hidup tau nggak. Eh loe malah datang-datang bilang bulan madu, bisa-bisa gue pulang tinggal nama," desis Melodi sambil bergidik ngeri.
Yuya dan Zia lantas terkekeh mendengarnya, "Nyantai aja keles! Iri bilang, bos, jawab aja gitu kalau mereka berani protes. Ya nggak, Zi?"
"Bener tuh, Ya. Tapi sumpah, Gerald romantis banget ya lamar loe kayak gitu. Loe yang dilamar, kok gue yang baper ya! Ah, loe sama kakak loe emang beruntung banget, Di, bisa dapat cowok ganteng bin tajir kayak mereka. Kira-kira cowok kayak gitu masih restock nggak ya, Di, gue mau request satu aja." seloroh Zia.
"Bukan loe aja, Zi, gue juga mau. Btw, temen loe tempo hari, siapa itu Ve ... Veri eh ... oh iya, Vero, kira-kira dia udah ada gebetan belum ya?" ucap Yuya
"Yah, loe ini oon apa bego' sih!"
"Sama aja, keles." ketus Zia.
Yuya terkekeh, "Odi sih, sok polos padahal ... " Yuya terkikik sambil melirik Melodi yang sudah bersemu merah karena paham apa yang akan diucapkan Yuya.
"Nggak usah ngomong aneh-aneh, Ya!" sergah Melodi.
"Ckkk ... takut banget..Emang kenapa kalau kalian udah saling volos-volosan kan dah halalan bin toyiban juga." Zia tergelak sendiri dengan ucapan yang baru saja dilontarkannya.
"Iya nih, sok volos banget!" timpal Yuya lagi yang sudah tergeletak kencang hingga mengundang tatapan mata semua orang yang ada di taman kampus.
"Udah ih, jangan bahas itu." Rajuk Melodi yang sudah cemberut.
__ADS_1
Yuya dan Zia malah makin terkekeh melihat Melodi yang merajuk dengan wajah merah padam karena malu.
"Iya, iya, udah Ya, entar Odi ngadu ke lakinya,. bisa berabe kalau kakak iparnya, pak Goerge ikut turun tangan, bisa-bisa skripsi kita dibalikkin. Capek gue revisi melulu," sergah Zia.
"Oke, oke, sorry, gue seneng banget soalnya. Bikin jiwa traveling gue meronta-ronta." ucap Yuya sambil menahan perutnya yang terasa kram. "By the way, yang tadi gimana? Vero ... Vero itu udah ada pacar belum? Kalau belum, comblangin gue dong!" Ujar Yuya yang sudah berhasil mengendalikan tawanya.
"Cih, emangnya gue mak comblang! Ogah, deketin aja sendiri. Nih gue send nope nya," ujar Melodi seraya mengirimkan nomor ponsel Vero.
"Loe nggak setia kawan banget sih, Di." gerutu Yuya.
"Bukan nggak setia kawan, Ya, cuma gue kan sudah jadi istri kak Gege sekarang, otomatis gue nggak bisa chat temen cowok sesuka gue." Ucap Melodi menjelaskan berharap Yuya mau mengerti dirinya.
"Bener juga sih, Ya! Apa yang Odi bilang itu benar, selain mencegah kesalahpahaman, untuk mencegah fitnah juga. Apalagi kayaknya si Vero Vero ini ada hati sama loe, iya kan Di?"
Melodi mengedikkan bahunya, "Entahlah. Gue nggak mau mikirin hal itu. Bagi gue, dia nggak lebih dari temen kok. Jadi kalau loe tertarik, Ya, berusaha sendiri, oke! Good luck!" ucap Melodi memberi semangat.
Melodi, Yuya, dan Zia pun melanjutkan perbincangan mereka hingga tiba-tiba ada seseorang yang menginterupsi perbincangan mereka membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.
"Dasar pelakor! Nggak tahu malu. Ja*lang murahan!" seru seseorang tiba-tiba membuat ketiganya terlonjak lalu menoleh ke sumber suara.
...***...
**Maafkeun baru bisa update!🙏🙏🙏
Sebenarnya mau update dari kemarin tapi kepala othor migrain, cenat cenut bgt, malamnya udah migrain, ngantuk berat juga, jadi baru sempat sekarang.
Terima kasih untuk yang masih setia stay di karya othor juga memberikan dukungan. Semoga terhibur.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 🥰🥰🥰
...Happy reading 🥰🥰🥰**...
__ADS_1