
Gerald dan Melodi kini telah berdiri di depan pintu sebuah rumah yang besar dan mewah. Melodi biasa saja melihat rumah itu sebab rumahnya dulu pun juga besar seperti itu hanya sedikit lebih mewah saja. Baik dari pemilihan bahan, ukiran, dan corak. Seperti pintu utama, terdapat ukiran yang begitu indah serta dilapisi cat berwarna kuning emas. Lantainya pun terdiri atas keramik import yang sangat cantik. Pekarangan rumah itu pun sangat asri. Terdapat banyak tanaman dan bunga-bunga yang membuatnya berkali-kali lebih cantik.
Tangan Melodi terasa dingin. Jantungnya berdegup dengan kencang. Belum masuk ke dalam rumah itu saja ia sudah merasa tak nervous, apalagi saat telah berada di dalam. Melodi takut, ia justru mengacaukan segalanya.
"Kamu gugup?" tanya Gerald saat menatap wajah Melodi yang tampak dialiri peluh.
Melodi mengangguk kaku, lantas tangan Gerald terulur dan menggenggam erat tangan Melodi yang terasa dingin. Wajah yang sempat datar tadi kini berubah sedikit sumringah melihat betapa groginya Melodi saat ini.
"Udah, nggak usah takut. Di dalam nggak ada serigala, cuma ada buaya aja." seloroh Gerald.
"Hah!" mata Melodi melotot membuat Gerald tergelak.
"Maksudnya, buaya darat." ucapnya seraya terkekeh membuat Melodi memberengut masam.
"Kak Gerald ih, bikin Odi takut aja." Melodi mencebikkan bibirnya membuat Gerald mengusap kepalanya. Seketika, jantung Melodi berdegup kencang saat mendapatkan perlakuan manis itu.
"Cie ... kak Gege, romantis banget!" ledek seorang gadis saat melihat Gerald mengusap kepala Melodi. Sontak saja, wajah Melodi bersemu merah.
"Wah, wajah cewek kak Gege merah tu! Malu ya,!" godanya lagi membuat Melodi beringsut ke samping Gerald untuk menyembunyikan wajahnya.
Gadis itupun tergelak kencang membuat yang lainnya ikut keluar.
"Ge, kamu udah datang?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. "Ge, dia ... pacar kamu?" lanjutnya lagi sampai tak mengindahkan Gerald yang belum menjawab pertanyaan sebelumnya.
__ADS_1
Gerald pun mengangguk seraya tersenyum, "Perkenalkan ma, Melodi. Pacar Gege." ujar Gerald membuat Melodi sedikit salah tingkah.
"Ah, ha-halo Tante. Perkenalkan, saya Melodi." ucap Melodi gagap sambil mengulurkan tangan dan mencium tangan wanita yang merupakan ibu Gerald tersebut. Ia begitu gugup. Namun sebuah telapak tangan mengusap punggungnya membuat ia sedikit lebih tenang.
Sontak saja ibu Gerald sangat senang dan menyambut tangan itu dengan wajah berbinar.
"Duh, ayo sayang! Silahkan masuk! Nenek pasti seneng banget liat cucu bandelnya ini bawa pacar ke rumah." ujar wanita paruh baya itu. "Eh, Tante belum kenalan ya! Jadi lupa kan karena terlalu seneng. Perkenalkan, Tante Hanna, mamanya Gege." imbuhnya lagi.
Lalu Hanna pun menyeret tangan Melodi agar mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Sama seperti mama Gerald, semua anggota keluarga Gerald pun menyambut Melodi dengan sangat ramah. Apalagi nenek Gerald ia begitu antusias menyambut kedatangan Melodi membuat Melodi tak enak hati.
"Syukurlah, akhirnya si bandel ini bawa pacarnya juga. Kalau nggak, udah nenek jual cafenya. Nenek senang kamu membawa Melodi ke sini. Bukan hanya cantik, tapi baik, lembut, dan ramah. Kamu memang pinter memilih perempuan, Gue." tukas Nenek Gerald seraya tersenyum lebar pada Melodi.
"Wah, udah ramai nih! Lagi ngomongin apa sih?" ucap seseorang yang baru saja turun dari tangga. Lalu matanya memicing saat melihat seorang gadis yang dikenalnya. "Melodi?" seru seseorang itu.
"Malam juga." sahutnya tersenyum lembut.
"Mas George kenal?" tanya seorang perempuan yang duduk di dekat Hanna. Dia adalah istri George, Kalista.
"Hmmm ... dia salah satu mahasiswiku." tukas seseorang yang ternyata itu adalah George.
"Oh, kamu mahasiswa di kampusnya George mengajar! Berarti kalian pun satu kampus dong, Ge?" terka Hanna.
"Iya, ma. Kami juga satu kampus." jawab Gerald.
__ADS_1
"Wah, kalian ya!" seru Geana, adik perempuan George dan Gerald.
"Kalian?" George menatap Gerald dan Melodi bergantian.
"Mereka pacaran. Melodi pacarnya Gege, kamu nggak tau, George?" tanya Nenek Gerald.
"Nggak nek. Aku nggak tau. Malah gosipnya kamu sama ... "
"Aurora?" potong Gerald cepat dan George mengangguk. Benar dugaan Melodi kalau George pasti sudah mendengar gosip itu. "Dia cuma kenalan. Aku kenal sama kakaknya. Kami nggak ada hubungan apa-apa kok." ucap Gerald cepat tak mau semua orang berasumsi macam-macam padanya.
"Oh, baguslah! Aku tak suka gadis itu. Sombong dan sok berkuasa. Mentang-mentang anak dekan. Tapi hampir semua anggota keluarganya memang seperti itu sih jadi nggak heran." ujar George membuat Gerald tertegun. Bagaimana kalau keluarganya tau kalau ia sebenarnya berpacaran dengan kakak Aurora? Bisa-bisa hubungannya tidak direstui. Gerald dilema.
"Oh ya? Kau benar, George, nenek paling tidak suka orang yang sombong. Beruntung anak-anak dan cucu nenek semuanya memiliki pasangan yang baik dan santun." tukas Nenek Gerald yang makin membuat Gerald salah tingkah.
"Malam cantik." sapa seseorang lagi yang baru datang seraya mencium pipi nenek Gerald membuat semua orang terkekeh melihatnya. Dia adalah Vero, sepupu George dan Gerald.
"Vero, nenek bukan kekasihmu." ketus nenek Gerald yang disambut tawa oleh yang lain.
"Nenek kan memang kekasihku. Tapi kalau nenek tidak mau, si cantik ini juga boleh." ujar Vero sambil mengerling ke arah Melodi yang mendapat pukulan dari Geana.
"Kak Vero, jangan godain calon kakak ipar ku!" seru Geana sambil melototkan matanya.
Lalu mata Vero memicing menatap lekat Melodi, " Pacar Gege?" beonya. Vero tampak berpikir saat menatap lekat Melodi. "Odi ... Kamu Odi kan?" seru Vero dengan mata berbinar dan senyum merekah.
__ADS_1