Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 90. Aku ... menyerah.


__ADS_3

Sudah 3 hari Arkandra berada di Bandung, sudah 3 hari juga ia tidak berjumpa dengan sang istri. Perlahan, benih-benih rindu itu mulai menggerogoti hati dan pikirannya. Tidur tak nyenyak, makan tak nafsu, bahkan saat duduk di antara para dokter selama mengikuti seminar pun hatinya tak tenang terlebih ia meninggalkan Azura dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Arkandra menghela nafas lelah lalu melempar handuk yang baru saja ia gunakan untuk mengelap rambutnya asal. Ia pun segera menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur kingsize di kamar hotel itu. Arkandra membalik tubuhnya menjadi tengkurap lalu mengacak rambutnya sendiri. Mengapa kini ia selalu terbayang istrinya itu?


Tak bisa menahan rasa rindu yang kian menggebu, Arkandra pun gegas mengambil ponselnya yang terkapar di atas nakas kemudian segera menghubungi Azura. Terserah bila ia bersikap dingin seperti 2 hari kemarin, yang penting ia bisa mendengar suaranya lagi dan meredakan sedikit rasa rindu yang kian meletup-letup di dadanya.


1 kali diabaikan.


2 kali diabaikan.


3 kali masih diabaikan.


Berdiri, Arkandra berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah. Ia takut istrinya melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Ia kembali teringat saat gosip mengenai mereka viral tempo hari. Beruntung saat itu ia berhasil menemukan Azura, bila tidak, mungkin ia takkan pernah merasakan kebahagiaan seperti yang dialaminya akhir-akhir ini. Arkandra takut. Sangat takut. Ia masih mengira tempo hari Azura hendak melompat dari atas jembatan. Ia takut, Azura melakukan hal serupa.

__ADS_1


Ia pun kembali mencoba menghubungi Azura. Entah sudah beberapa kali panggilannya masih diabaikan. Hingga akhirnya terdengar suara lirih dan sedikit serak dari seberang sana, membuat hati Arkandra tiba-tiba merasa nyeri. Ia merasakan sakit, tapi tak berdarah. Azura-nya kini tengah bersedih tapi dirinya tak ada di sisinya saat ia sedang dalam keadaan terpuruk.


Arkandra mencengkram rambutnya frustasi, mengapa jadwal seminarnya harus saat ini. Seandainya ia memiliki kekuasaan untuk menunda, tentu ia akan lebih memilih menemani Azura dan menunda seminar ini.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Arkandra lirih dengan perasaan bersalah yang menggerogoti benaknya.


...***...


Azura bersyukur Arkandra memiliki jadwal seminar di luar kota jadi ia bisa menenangkan diri dan menumpahkan kesedihannya tanpa takut ada yang melihat ataupun ketahuan. Biarlah ia menelan semua pil pahit kehidupan ini seorang diri. Ia bukanlah orang yang dapat secara terang-terangan terbuka pada orang lain meskipun itu orang terdekatnya sendiri. Karena itu, setelah beberapa saat kepergian Arkandra, Azura lantas masuk ke dalam kamar dan menumpahkan segala sesak di dadanya seorang diri


Azura meringkuk di atas sofa sambil memeluk lututnya sendiri. Ia meraung dalam kesendirian, menangisi segala kepedihan dan kemalangan yang menimpanya beberapa tahun ini, tepatnya setelah kepergian kedua orang tuanya.


Mengapa dirinya harus mengalami semua permasalahan ini?

__ADS_1


Mengapa ia harus mengalami segala kesakitan ini ?


Dimulai dari ditinggalkan kedua orang tuanya, lalu menjadi layaknya orang tua tunggal, terjerat hutang yang tidak sedikit hingga membuatnya harus banting tulang siang dan malam untuk mencari uang dan kini ia mengalami pelecehan. Walaupun pelecehan itu tidak sampai ke pemerkosaan, tapi tetap saja, ia merasa kotor dan jijik dengan tubuhnya sendiri.


Azura pun segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan melepas semua kain yang menutupi tubuhnya. Dipandanginya satu persatu jejak menjijikkan yang sempat ditinggalkan pria bajing-an itu di tubuhnya, dari leher, tulang selangka, hingga ke bagian dada.


Azura merasa jijik dengan tubuhnya yang telah dijamah pria lain yang bukan merupakan suaminya. Seumur hidup ia berusaha menjaga tubuhnya dari jamahan tangan-tangan kotor. Namun kini, ia justru mendapatkan pelecehan setelah menikah. Bahkan suaminya saja belum pernah melakukan hal seperti ini. Walaupun ia pernah beberapa menggoda Arkandra, tapi Arkandra seakan menjaga dirinya agar tak berbuat terlalu jauh. Walaupun Arkandra pernah mencumbunya, tapi ia tak pernah meninggalkan jejak menjijikkan seperti ini. Ia merasa kotor, jijik, benci, ia pun mengambil sabun dan spons lalu mengusapnya secara kasar ke bagian tubuh yang sempat dijamah laki-laki breng-sek itu. Ia mengusapnya sekuat tenaga berharap jejak itu segera hilang dari tubuhnya, tapi jejak-jejak itu bukannya menghilang, justru sebaliknya membuat kulitnya merah dan lecet bahkan ada yang berdarah.


Azura mengerang frustasi di bawah guyuran shower. Ia kini merasa begitu rendah diri. Kepercayaan dirinya telah musnah. Hanya ada sesak, malu, dan jijik yang mendominasi.


"Mas Arkan, maafkan aku yang tak bisa menjaga diriku. Maafkan aku yang tak bisa menjaga tubuhku hanya untukmu. Maafkan aku ... Aku memang tak pantas untukmu. Aku telah kotor. Aku telah begitu menjijikkan. Aku tak pantas untukmu. Mungkin sebaiknya aku menyerah. Ya, sudah sepantasnya aku menyerah. Sudah seharusnya aku menyerah. Mas Arkan, maafkan aku, aku ... menyerah," lirih Azura sambil meringkuk di bawah guyuran shower.


...***...

__ADS_1


__ADS_2