Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 37. Mari kita bermain


__ADS_3

Sepulangnya dari butik, Arkandra langsung pulang ke apartemen setelah terlebih dahulu mengantarkan Azura sampai ke rumahnya. Tanpa berganti pakaian, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa dengan berbantalkan kedua tangannya yang terlipat di bawah kepala. Entah mengapa, ia seakan sangat terganggu dengan air mata sialan yang mengalir di mata Azura. Biarpun ia belum lama mengenal Azura, tapi selama itu juga ia melihat Azura sebagai sosok yang tangguh. Sangat berbeda dari gadis lainnya.


"Sialan! Kenapa wajah sedihnya begitu mengganggu? Ada apa denganku? No, aku nggak boleh terpengaruh dengan dirinya! Pernikahan ini harus tetap dilanjutkan agar aku bisa membalasnya. Salah siapa mencoba bermain-main denganku. Dia pikir aku tak tahu siapa yang menyuruhnya memata-matai ku. Kalian ingin bermain-main denganku? Okey. Mari kita bermain! Kita lihat, siapa yang mampu bertahan sampai akhir dan siapa yang akan terlebih dahulu menyerah." gumam Arkandra sinis sambil memejamkan matanya.


...***...


Hari sudah mulai malam, Azura pun telah bersiap pergi ke club' malam Miracle seperti biasanya apalagi kalau bukan untuk bekerja. Toh, ia belum resmi menjadi istri dari seorang dokter tampan Arkandra Satya Nugraha jadi ia masih bisa bekerja di sana. Apalagi beberapa hari lagi ia akan gajian, rugi dong bila ia tidak menuntaskan pekerjaannya. Minimal ia akan bekerja sampai gajinya bulan ini dibayarkan setelah itu ia akan resign.


"Wow, calon istri horang kaya masih kerja aja! Gue pikir loe udah enak-enakan ngadem kayak tuan putri gitu di istana keluarga Satya itu." seloroh Leon saat melihat Azura masuk ke dalam club' malam.

__ADS_1


Azura mendelik kesal lalu memukul kepala Leon dengan tasnya.


"Mulut loe itu kayaknya perlu empani sama cabe jalapeno 1 kilo ya! Nggak bisa jaga mulut, kalau ada yang dengar gimana?" delik Azura dengan mata melotot.


"Wow, santai sayang! Nggak perlu loe peringatkan aja semua orang pasti udah tau apalagi loe kan udah konferensi pers."


"Pake masker aja atau dandanan loe dibedain dikit kayak pake kacamata gede gitu atau make up tebal." saran Leon membuat Azura berpikir.


"Kalo pakai masker rasanya malah aneh kerja sambil maskeran. Make up tebal? Ih, amit-amit deh! Nggak doyan gue. Kalau pakai kacamatanya? Kayaknya ide itu nggak buruk tapi siapa yang bisa pinjemin?" ucap Azura seraya bertanya pada dirinya sendiri dengan ujung jemari mengetuk-ngetuk dagunya.

__ADS_1


"Hohoho ... karena gue sohib terbaik loe, nih, udah gue siapin." ujar Leon seraya mengeluarkan kacamata bulat. Kacanya juga tebal membuat penampilannya sedikit tersamarkan. Sepertinya ide Leon ada bagusnya. Apalagi pencahayaan club' malam kan agak temaram jadi pasti wajahnya tidak akan mudah dikenali.


"Whoaaa, emang bener! Loe itu sohib terbaik gue! Thanks banget ya! Entar gue ganti deh duitnya." tukas Azura dengan senyum merekah. Ia pun berlalu dari hadapan Leon sambil menepuk pundaknya.


Tidak salah bila Azura menganggap Leon sahabat terbaiknya sebab Leon selalu memahami Azura. Bahkan ia selalu siap sedia membantu Azura kapanpun ia dibutuhkan.


Sedangkan di lain tempat, lebih tepatnya di kediaman Azura, tampak Melodi sedang memulas wajahnya dengan make up tipis. Setelah selesai, ia pun berdiri di depan cermin sambil memutar-mutar tubuhnya yang dibalut gaun mahal pemberian Gerald. Melodi tak menyangka, gaun itu begitu pas dan cocok di tubuhnya. Gaun selutut berwarna soft pink dan berkerah sabrina membuat penampilannya terlihat manis dan anggun. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk, Melodi pun segera beranjak untuk membuka pintu. Sesuai dugaannya, kini Gerald lah yang telah berdiri gagah dengan memakai kemeja berwarna navy dan celana jeans berwarna coklat membuat penampilannya terlihat cool. Melodi sampai terbengong di depan pintu, begitu pula Gerald yang mematung saat melihat penampilan Melodi yang bukan hanya terlihat lebih cantik, tapi juga manis dan anggun.


...***...

__ADS_1


__ADS_2