Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 36. Bukan pernikahan impian


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Amel's Butik, wajah Arkandra terlihat ditekuk masam. Hening. Tak ada perbincangan sama sekali. Kedua orang itu sudah seperti sepasang orang bisu.


Tak butuh waktu lama, kini keduanya telah tiba di Amel's Butik. Tanpa mempedulikan Azura, Arkandra justru dengan langkah tegap yang sudah seperti pemimpin upacara masuk ke dalam butik meninggalkan dirinya di luar sendirian. Kesal seakan tidak dipedulikan, Azura pun bersikap acuh tak acuh dan berdiri santai sambil bersandar di pintu mobil.


"Selamat datang tuan di Amel's Butik. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang karyawan butik pada Arkandra.


"Saya ingin bertemu Tante Amel, apa dia ada?" tanya Arkandra.


"Maaf tuan, Bu Amel sedang berada di Australia. Tapi putrinya ada bila ada yang ingin Anda bicarakan." ujar karyawan itu seraya menunjuk seorang wanita hamil yang tengah bergelayut manja di lengan seorang pria sambil makan buah disuapi laki-laki itu. (Hayoooo, ada yang ingat siapa itu Tante Amel? Bagi pembaca setia karya othor pasti tau itu siapa Tante Amel. Dan bagi yang masih ingat, pasti bisa nebak kan kira-kira siapa pasangan koplak yang barusan othor sebutin. 😄)


Dalam hati Arkandra mencibir pasangan yang dianggapnya lebay itu. Ia pun membatalkan keinginannya bertemu sang pemilik butik dan langsung mengutarakan tujuannya datang ke butik itu.


"Tidak usah. Langsung saja, saya minta carikan gaun pengantin yang cocok untuk wa .... " Arkandra menoleh ke belakang tapi orang yang dikiranya mengikutinya justru tidak ada membuatnya kesal setengah mati.


"Untuk siapa tuan?" tanya karyawan itu bingung karena tidak melihat seorang pun dibelakang Arkandra.

__ADS_1


*Sial! Mana gadis menyebalkan itu?' geram Arkandra sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ia pun segera melangkahkan kakinya keluar butik


Rahangnya mengeras saat melihat Azura justru bersantai di luar sambil menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Kau!" tunjuk Arkandra geram.


"Kenapa?" tantang Azura.


Lalu tanpa banyak bicara, Arkandra memanggul Azura layaknya karung beras membuat Azura menjerit sambil memukul-mukul punggung Arkandra.


Tapi Arkandra justru acuh tak acuh saja dan tetap memanggulnya masuk kedalam butik membuat semua mata karyawan butik juga para pelanggan menatap bingung pada kedua orang itu.


"Mas Obi, kayaknya gadis itu mau dipaksa kawin sama laki-laki itu deh." bisik putri pemilik butik itu di telinga suaminya.

__ADS_1


"Bukan dipaksa kawin, sayang, tapi dipaksa nikah. Terpaksa Jadi pengantin judulnya." sahut sang suami. Wanita itupun mengangguk membenarkan.


"Ck ... makin hari sikap dokter ini makin aneh. Jangan-jangan dokter ini punya penyakit kejiwaan ya? Tadi aku ditinggalin begitu aja di luar. Sekarang dipikul kayak karung beras. Ini sebenarnya mau ngajak fitting gaun pengantin apa fitting gaun kematian alias kain kafan sih sebenarnya?" protes Azura saat ia sudah diturunkan. Nafas Azura sudah tersengal-sengal seperti sudah mau sakratul maut karena diangkat seenaknya oleh Arkandra. Oleh sebab itu, ia menganggap ini seperti ingin fitting gaun kematian.


Masa bodoh, Arkandra justru langsung karyawan butik mencarikan gaun yang sekiranya cocok untuk Azura. Dia bahkan tidak mengizinkan Azura memilih sendiri apalagi membantu mencarikannya membuat Azura sangat kesal hingga rasanya ingin sekali mencakar-cakar wajah ganteng itu.


"Untung ganteng, kalau nggak udah aku cakar-cakar tuh muka." kesal Azura sambil mencoba gaun pengantin yang disodorkan karyawan Amel's Butik.


Karyawan Amel's Butik hanya bisa terkikik geli sambil menutup mulut mereka saat melihat tingkah konyol kedua calon pengantin itu.


Azura tercenung menatap dirinya yang sudah memakai gaun pengantin di depan cermin. Gaun berwarna putih gading itu begitu indah. Tapi tetap saja membuat Azura sedih saat melihat dirinya sendiri di dalam sana.


Ini bukan pernikahan impiannya. Sebagai seorang perempuan, tentu ia memiliki pernikahan impian tersendiri. Tapi semua kini harus ia kubur dalam-dalam. Ia tak mungkin bisa meminta impiannya diwujudkan. Memangnya siapa dirinya, pikirnya. Dirinya hanyalah calon pengantin dadakan yang dipaksa oleh keadaan. Bahkan tak ada seorang pun yang mau menanyakan dirinya, seperti apa pernikahan impiannya atau minimal bertanya apa keinginannya?


'Terpaksa menikah kemudian dipaksa bercerai. Astaga, mengapa hidupku begitu rumit!' gumam Azura dalam hati.

__ADS_1


Tanpa sadar, air matanya mengalir. Semua itu tak luput dari sepasang mata yang menatapnya dengan sorot mata tak terbaca dari sudut pintu ruang ganti.


...***...


__ADS_2