
Lalu mata Vero memicing menatap lekat Melodi, " Pacar Gege?" beonya. Vero tampak berpikir saat menatap lekat Melodi. "Odi ... Kamu Odi kan?" seru Vero dengan mata berbinar dan senyum merekah.
"I-iya, Ver." ujarnya sambil tersenyum kikuk.
"Astagaaaa, i miss you, Di. Gue seneng bisa ketemu sama loe lagi. But, wait, wait, apa tadi Gea bilang? Loe ... serius loe pacaran sama Gege?" tanyanya tak percaya.
Melodi hanya bisa mengangguk kikuk.
Lalu mata Vero memicing tajam pada Gerald.
"Kenapa loe?" sinis Gerald saat ditatap tajam oleh Vero. "Sayang, kamu kenal sama anak Badung ini?" tanya Gerald.
"Kenapa?" potong Vero. "Tentu gue kenal. Kenal banget malah sebab gue ... "
"Temen SMA aku." potong Melodi membuat Vero menghela nafas berat sambil melirik Melodi.
"Udah dulu ngobrolnya, yuk kita makan malam dulu." tukas Hanna memberitahukan keluarganya yang tengah berkumpul.
Keluarga besar Gerald kini tengah berkumpul di ruang makan. Setelah sang tuan rumah, Gestano mempersilahkan makan, semua orang pun mulai makan. Melihat bagaimana Hanna melayani Gestano, Melodi pun mencoba melayani Gerald dengan mengambilkan nasi dan lauk pauk. Semua itu tak lepas dari tatapan sang nenek juga Vero.
Saat Melodi sedang makan, Gerald bermaksud memberi bistik tempe, salah satu makanan kesukaannya pada Melodi, tapi Vero langsung menghentikannya.
"Apaan sih loe?" ketus Gerald saat Vero menghentikannya.
__ADS_1
"Odi alergi kacang-kacangan." ucap Vero santai membuat Gerald mengernyitkan dahinya.
"Benar kata Vero?" Gerald meminta jawaban.
Melodi mengangguk pelan, "Iya kak. Vero benar, aku alergi kacang-kacangan." cicit Melodi.
"Ya ampun. Makasih ya, Ro, kamu udah kasi tau. Hampir saja." seru Hanna. "Kamu ini gimana sih, Ge, masa' hal seperti itu nggak tau. Kamu itu pacarnya bukan sih!" kesal Hanna.
"Bukan salah Kak Gerald, Tan. Melodi emang belum sempat cerita soalnya." bela Melodi membuat Vero mendengus ke arah Gerald.
Merasa dibela, Gerald pun tersenyum menyeringai ke arah Vero.
...***...
Karena terlalu sibuk, Azura tidak menyadari ada dua pasang mata yang semenjak tadi mengawasinya.
"Loe sekarang ganti pekerjaan jadi bodyguard, Ar?" ejek William sambil terkekeh. "Takut calon bini loe digondol maling, hah?" lanjutnya lagi membuat Arkandra mendengus.
"Gue cuma jaga-jaga takut dia ngelakuin sesuatu yang bisa mempermalukan gue dan keluarga besar gue " kilahnya sambil meminum mocktail miliknya.
"Halah, alasan loe, Ar!" ledek William.
"Kalo loe nggak mau temenin gue, pulang aja sana." usir Arkandra jengah karena selalu diledek.
__ADS_1
"Whoaaa, jangan marah, Ar! I wasjust kidding. Tapi Ar, serius loe mau nikahin dia? Kata loe, loe nggak suka dia jadi kenapa loe mau nikahin dia? Kalau loe nggak mau nikah sama dia, gue bersedia kok. Jujur nih, gue suka sama dia. Jadi daripada loe nikahin dia cuma buat nyakitin, mending loe oper ke gue. Dengan senang hati gue jadiin dia bini." ujar William santai sambil menghembuskan asap rokok dari hidungnya.
Arkandra mendengus dengan tangan mengepal di dalam saku celana. Lalu ia berjalan dengan santai ke arah Azura yang tengah berbincang sambil tertawa dengan Leon sembari menunggu minuman yang dipesan pelanggan.
Greppp ...
Bugh ...
"Stop, ini aku!" seru Arkandra saat Azura hendak melepaskan pukulan kedua ke perutnya.
Mata Azura melotot saat tau siapa yang telah dipukulnya.
"Pak dokter?" serunya tak percaya. Ia pikir, orang yang memegang tangannya itu adalah pria hidung belang, namun ternyata ...
"Maaf, sakit ya pak dokter?" cicit Azura merasa bersalah
"Pokoknya saya nggak mau tau, antar saya pulang sekarang!" titahnya tegas membuat Azura dan Leon bengong. Pun Wiliam yang sudah berjalan mendekat ke arahnya ikut melongo mendengarnya.
'Steve pasti bakal mengejek Arkan habis-habisan kalo liat apa yang dilakukan temannya satu ini.' gumam William sambil menggelengkan kepalanya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1