Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 102.


__ADS_3

Di rumah sakit, Arkandra hanya memasang wajah datar, tanpa ekspresinya. Ia sempat melirik bayi yang tertidur pulas di samping Vinandia tanpa berniat mendekat apalagi menggendong. Entah, ia merasa tidak memiliki ikatan batin sedikit pun dengan bayi yang bahkan baru belum genap berusia 48 jam tersebut. Perasaannya biasa saja, seperti melihat orang asing. Ia tidak membenci bayi itu, tidak. Ia hanya enggan mendekatinya yang kemungkinan akan kedua orang itu jadikan alat untuk mendekati dirinya.


Begitu juga dengan Azura, semenjak terakhir kali Vinandia mendatangi dirinya, ia juga makin enggan memberikan muka. Tapi demi menghormati keberadaan sang kakek juga ayah dari Arkandra, ia terpaksa memasang senyum ramah.


"Arkan, Azura, terima kasih atas kunjungan kalian. Lihatlah, adik kalian sangat lucu. Apa kalian tidak ingin merasakan menggendongnya, siapa tahu setelah menggendongnya, Azura juga segera hamil," ucap Vinandia sumringah. Bila orang lain melihat, pasti mengira kalau sosok Vinandia sangat sempurna sebagai seorang istri. Vinandia juga selain pintar, ia juga baik dan lembut. Sungguh akting yang sempurna, batin Azura mencibir.


"Tak perlu basa-basi. Kau pasti sudah tahu, bukan kalau kedatangan kami kesini hanya karena menghargai permintaan kakek dan ingin menjaga nama baik keluarga. Jadi jangan berkhayal terlalu tinggi aku akan menerimamu sebagai bagian dari keluarga kami." tegas Arkandra.


"Arkan ... " bentak Bimantara mendengar kata-kata Arkandra tajam Arkandra.


"Kenapa? Kau tidak suka dengan kata-kata ku?"


"Kau ... "


"Mas, sudah. Apa yang dikatakan Arkan ada benarnya. Aku tahu, kesalahanku sangat besar sampai-sampai hiks ... hiks ... " Vinandia terisak membuat Bimantara segera memeluknya.


'Cih, dasar drama queen!' cibir Azura dalam hati.

__ADS_1


"Kakek, kami pamit dulu! Permisi." Pamit Arkandra yang mulai jengah melihat sandiwara yang tengah dilakoni Vinandia di dalam sana.


Setelah dari rumah sakit, Arkandra membawa Azura pulang ke apartemen miliknya. Mereka baru akan mengunjungi Melodi esok hari sebab hari itu sudah terlalu larut untuk menemui Melodi. Selain itu, Azura juga sudah terlalu kelelahan. Karena it, sepulang dari rumah sakit, mereka pun bergegas beristirahat setelah membersihkan diri setelah sebelumnya menyempatkan diri makan malam.


Sementara itu, di Paris, Prancis, setelah mengudara selama 17 jam 35 menit, pesawat yang ditumpangi Gerald baru saja mendarat dengan selamat di waktu setempat. Gerald pun turun dari pesawat dengan wajah yang sudah terlihat sangat kusut. Lalu tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan dirinya. Mobil itu bertugas menjemput dan mengantarkan Gerald menuju hotel yang telah Gerald reservasi sebelum tiba di sana.


Hanya butuh waktu 25 menit, kini mobil yang membawa Gerald telah tiba di sebuah hotel yang cukup mewah. Ia pun masuk ke dalam sana setelah sebelumnya mengambil kunci kamar.


"Hah, leganya!" gumam Gerald lalu ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo." Ucap Melodi dari seberang sana dengan suara seraknya membuat Gerald terkekeh.


"Hei, apa kamu ingin aku hanya melihat lubang telingamu?" goda Gerald saat Melodi justru menempelkan ponselnya di telinga.


"Ah, maksudnya? Ini kak Gege? Maksud kak Gege apa?" tanya Melodi bingung.


"Ini panggilan video, Odi. Kenapa kau malah menempelkan ponselmu di telinga, hm?"

__ADS_1


"Ah, astaga ... " seru Melodi dengan wajah memerah. "Maaf kak, nggak tahu. Kakak sih video call jam segini, lagi enak-enak mimpi ketemu pangeran ganteng, jadi buyar deh mimpinya," sahut Melodi seraya mencebikkan bibirnya.


"Hah, jadi tadi kamu masih tidur? Emang di sana baru jam berapa?" tanya Gerald seraya menatap langit dari balkon kamar hotelnya. Cuaca di sana cukup cerah, posisi matahari pun sudah cukup tinggi.


"Ini udah hampir jam 4 subuh."


"Apa? Duh, maafin kakak ya! Kakak lupa soalnya di sini udah hampir tengah hari. Kakak benar-benar lupa perbedaan waktu Jakarta-Paris," ucapnya penuh penyesalan. "Kalau begitu, kamu lanjut tidur aja!" imbuhnya lagi merasa bersalah karena mengganggu tidur Melodi.


"Kakak baru tiba di Paris?"


Gerald menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, kakak istirahat aja dulu. Jangan lupa makan, oke! Bye kak, semoga segala urusan kakak segera selesai."


"Tapi Di ... "


Belum sempat Gerald melanjutkan kata-katanya, panggilan telah ditutup membuat Gerald tercenung sambil menatap nanar ke arah layar ponsel yang telah menggelap.

__ADS_1


__ADS_2