Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 67.


__ADS_3

Dengan tangan yang masih saling menggenggam, Arkandra mengajak Azura masuk ke kamarnya. Azura cukup terkejut saat memasuki ruangan serba abu-abu putih itu. Kamar itu begitu luas bahkan 2 kali lebih luas dari kamar Arkandra di apartemennya. Perabotan di dalamnya juga sangat komplit, sudah seperti rumah terpisah. Televisi, sofa, bahkan ada minibar di dalamnya jadi Arkandra tidak perlu bersusah payah turun ke dapur untuk mengambil minum karena di sana segalanya telah tersedia.


"Mas dokter, ini beneran kamar mas dokter?" tanya Azura dengan mata terbelalak.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Luas banget. Udah kayak rumah kontrakan aku aja luasnya."


Lalu Arkandra membuka lemari pendingin dan mengambil 2 botol minuman bersoda dari dalamnya.


"Ini." Arkandra mengerahkan sebotol pada Azura.


"Aman nggak nih? Entar udah kadaluarsa kan mas dokter jarang ke mari."


"Ck ... aman. Tenang aja, mbok Sari suka menggantinya setiap 2 Minggu sekali."


"Rajin banget!"


"Udah tugasnya gitu. Emang aku juga udah pernah berpesan sama mbok Sari jadi walaupun aku nggak pulang-pulang, isi kamarku tetap terawat dari dibersihkan dan diganti minumannya secara berkala. Cuma mbok Sari yang aku percaya mengurus kamar ini." ujar Arkandra. "Ayo, katanya mau lihat bintang!" ajar Arkandra.

__ADS_1


Lalu Arkan menarik tangan Azura menuju balkon kamarnya. Seperti yang dikatakan Arkandra, memang melihat bintang-bintang dari kamar Arkandra jauh lebih menyenangkan dan menarik. Bintang-bintang terlihat lebih jelas.


"Wah, bener kata mas dokter, liat bintang dari sini lebih menarik!" seru Azura seraya berdecak kagum.


"Mau lihat bintang lebih jelas?" tawar Arkandra.


"Emang bisa?" tanyanya dan Arkandra mengangguk dan memintanya menunggu sejenak.


Lalu Arkandra kembali lagi dengan membawa perlengkapan teleskop reflektor miliknya membuat mulut Azura menganga tak percaya bisa melihat alat-alat canggih seperti itu.


"Ini ... "


"Benarkah?" tanya Azura antusias.


Arkandra mengangguk lalu ia membimbing Azura untuk berdiri di samping karena peephole teleskop reflektor terletak di samping. Lalu Arkandra mengarahkan arah pandangan Azura dan membimbingnya cara mengamati bintang-bintang di langit menggunakan teleskop reflektor itu. Keunggulan menggunakan teleskop jenis ini, orang-orang dapat mengamati objek-objek dengan intensitas cahaya kecil sekalipun.


Karena sambil membimbing Azura, posisi mereka jadi begitu intim. Arkandra berdiri tepat di belakang Azura hingga tanpa sadar Arkandra dapat menghirup aroma tubuh Azura yang terasa begitu menenangkan.


"Wah, bagus banget! Mas dokter hebat bisa punya teleskop kayak gini. Mas dokter juga suka liat bintang ya?" tanya Azura dengan mata masih fokus mengamati objek-objek yang terproyeksi di cermin teleskop.

__ADS_1


"Hmmm ... kamu juga?"


"Iya, dulu waktu mendiang papa masih ada, papa suka ngajakin ke bukit gitu buat liat bintang-bintang. Kadang kalau beruntung, kami bisa liat bintang jatuh."


"Kamu make a wish?"


"Nggak lah. Minta kok sama bintang." sahut Azura seraya tersenyum lalu ia menoleh ke belakang. Karena Arkandra masih berada di belakang Azura, membuat wajah mereka nyaris berbenturan. Azura dan Arkandra terpaku di tempat , tak bisa bergerak, seakan sedang saling menyelami kedalaman mata masing-masing. Hidung mereka saling beradu, bahkan nafas mereka pun saling menerpa wajah masing-masing. Hingga entah siapa yang lebih dulu memulai, wajah mereka kian mendekat, keduanya saling memiringkan wajah, kemudian bibir mereka pun saling beradu.


Tangan kanan Arkandra terulur menarik pinggang Azura hingga tubuh mereka saling merapat, lalu telapak tangan kirinya menarik tengkuk Azura membuat keduanya makin memperdalam ciuman itu.


Tangan Azura kini mengalungi leher Arkandra. Ciuman kian terasa panas. Saling mengecup, memagut, menyesap, dan melu*mat. Suara decapan kini memenuhi balkon kamar Arkandra.


Kaki Azura tanpa sadar telah melingkar di pinggang Arkandra. Dan entah bagaimana caranya, kini keduanya telah berada di atas ranjang king size milik Arkandra. Mereka berdua terbuai dalam ciuman panjang dan dalam. Ciuman itu sempat terlepas untuk meraup oksigen, kemudian kembali berlanjut bahkan kini bibir Arkandra telah meninggalkan jejak basah disepanjang rahang, leher, dan tulang belikat Azura.


Nafas Arkandra kian memburu saat tangannya tanpa sadar telah meremas salah satu gundukan kenyal milik Azura. Azura pikir mungkin inilah saatnya. Ia pikir, malam ini ia akan memberikan segalanya pada Arkandra. Azura pikir, ia akan menjadi istri seutuhnya mulai malam ini. Tapi ...


Tiba-tiba Arkandra tersentak saat mendengar desa*han keluar dari bibir tipis Azura. Arkandra terkejut bukan main saat melihat dress milik Azura telah tersingkap ke atas hingga mempertontonkan bukit kembarnya yang masih aman berada dalam sangkarnya. Benaknya tiba-tiba terguncang. Sekelebat bayangan kelam melintas membuatnya sontak berlari tunggang langgang menuju kamar mandi meninggalkan Azura yang terpaku tidak mengerti.


"Mengapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ... apakah aku semenjijikkan itu baginya sehingga membuatnya enggan menyentuhku lebih dalam?" gumam Azura yang masih dengan posisi seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2