Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 104. Kejutan tak terduga


__ADS_3

Namun, senyum lebar itu tiba-tiba menghilang saat seorang pria keturunan Prancis keluar dari dalam mobil tadi lalu merangkul pinggangnya mesra. Gerald mengepalkan tangannya. Lalu ia pun segera bersembunyi di balik pilar hotel untuk mengikuti apa yang akan dilakukan Aurelia dengan lelaki itu di sebuah hotel. Walaupun ia bisa menebak apa tujuan mereka, tapi ia berusaha positif thinking. Bisa saja mereka hanya ingin makan di restoran hotel itu. Tapi tetap saja, Gerald tak bisa menepis pikiran buruk di benaknya apalagi dari cara lelaki itu merangkul Aurelia, terlihat posesif dengan sesekali mengecupi pipinya.


Wajah Gerald sudah menghitam menahan emosi yang kian membuncah. Apalagi saat sang pria mendatangi pihak hotel dan menunjukkan kode booking, artinya kedatangan mereka adalah untuk memesan kamar.


Memesan kamar.


Berdua saja.


Untuk apa lagi kalau bukan untuk melakukan hubungan terlarang.


Walaupun di luar negeri dilegalkan, tapi Gerald tidak menerima kekasihnya melakukan hal tersebut terlebih itu dengan lelaki lain. Sedangkan ia saja selama ini selalu berusaha menahan diri. Ia tidak mau menodai kepercayaan keluarganya. Terlebih itu bertentangan dengan norma agama. Walaupun ia bukanlah pria yang taat, tapi setidaknya ia masih bisa menjaga diri dari perbuatan terlarang.


Gerald akui dia bukanlah pria suci. Dia sesekali masih melakukan ciuman yang cukup panas dengan Aurelia saat kekasihnya itu masih di Indonesia. Namun, ia selalu berusaha mengendalikan diri agar tidak melewati batas. Tapi apa yang kini dilihatnya, sungguh di luar dugaan. Kekasihnya yang ia cinta dan jaga, bahkan tanpa malu berciuman mesra sekeluarnya dari dalam lift hingga keduanya menghilang di balik pintu kamar hotel.


Tubuh Gerald luruh ke lantai. Sambil bersandar di dinding, matanya menerawang, ia tak menyangka, kejutan yang seharusnya ia hadiahkan untuk Aurelia justru menjadi kejutan tak terduga untuknya. Dipandanginya kotak beludru berwarna maroon yang baru saja diambilnya dari dalam saku celananya. Ia terkekeh kemudian dengan kasar melemparkan kotak beludru berisi cincin yang sebenarnya hendak ia gunakan untuk melamar sang kekasih.


"Bodoh kau, Ge. Kau memang bodoh. Sia-sia kau kemari. Membuang waktu saja." Gumamnya sambil berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar yang tadi dimasuki Aurelia dan pria itu. Lalu ia mengetuk pintu lama tapi tak kunjung dibuka. Hingga Tak lama kemudian pintu itu dibuka oleh seorang pria berkewarganegaraan Prancis yang masuk bersama Aurelia tadi.


"Cari siapa?" tanya pria itu dalam bahasa Inggris saat dilihatnya wajah Gerald yang sepertinya bukan warga Prancis seperti dirinya.

__ADS_1


"Bisa aku bicara dengan Aurelia sebentar?" tanya Gerald membuat pria itu mengangkat alisnya.


"Siapa sayang?" tanya seorang perempuan yang suaranya sangat familiar di telinga Gerald. Kemudian perempuan itu berdiri di samping laki-laki itu dengan hanya menggunakan kimono tidurnya yang terlihat sangat seksi.


Aurelia melotot tak percaya saat matanya bersirobok dengan mata Gerald. Gerald terlihat begitu santai. Gerald sudah dapat mengendalikan dirinya. Entah kemana rasa cinta itu, semuanya seakan lenyap tak bersisa. Tujuannya kini hanya ingin memperjelas hubungannya dengan Aurelia saja, tidak lebih. Setelah ini, ia harap tidak bertemu lagi dengan perempuan murahan itu.


"Ge ... Gege, ke-kenapa kau ada di sini?"


Gerald tersenyum sinis, membuat Aurelia gugup bukan kepalang.


"Kau mengenalnya?"


"Dia ... dia ... "


"Nggak Ge, aku nggak mau. Kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku? Ge, kamu mau kemana? Jelaskan ke aku kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku?" cecar Aurelia sambil mengejar langkah Gerald.


"Kau masih mau bertanya? Aku yakin kau sadar akan kesalahanmu, bukan!"


"Ge, itu tidak seperti yang kau bayangkan! Aku bisa jelasin semua. Dia ... dia pemilik agency terbesar di sini. Aku hanya ingin ...."

__ADS_1


"Menjual tubuhmu demi cita-cita mu itu? Bullshitttt! Hanya demi jadi seorang model dunia kau rela menggadaikan tubuhmu? Kau pikir aku masih mau menerimamu setelah apa yang kau lakukan? Cih, menjijikkan! Kejarlah cita-cita bodohmu itu dan lupakan aku! Seharusnya itu sudah aku lakukan sejak lama. Membuang-buang waktuku saja " Gerald berdecih sinis meninggalkan Aurelia yang mematung di tempatnya.


Selepas memutuskan hubungannya dengan Aurelia, Gerald pun kembali ke kamarnya. Ia berencana segera kembali ke Indonesia keesokan harinya. Ia pun segera membooking tiket pesawat dan mencari penerbangan tercepat. Ia sudah tidak betah berada di negara itu berlama-lama.


Baru saja ia ingin melakukan pembayaran tiket pesawat yang dipesannya, tampil di layar ponselnya sebuah panggilan dari sang nenek. Tanpa banyak berpikir, ia pun segera mengangkat panggilan itu.


"Gerald," teriak nenek Gerald saat panggilan itu ia angkat. Sontak Gerald pun terkejut, seumur hidupnya, Gerald belum pernah mendapat teriakan seperti itu dari neneknya.


"Ada apa, nek? Kenapa nenek berteriak? Telingaku sampai sakit karena teriakan nenek." Protes Gerald.


"Tak usah banyak bicara, apa benar kau sekarang sedang berada di Prancis menemui kekasihmu yang model itu, hah?" teriak sang nenek membuat Gerald terkejut setengah mati. Bagaimana neneknya bisa tahu? Bagaimana neneknya tahu ia memiliki kekasih di Prancis?


"Nenek jangan bercanda! Aku ada urusan jadi pergi ke luar kota. Lagipula bukankah Melodi ada di Jakarta, bagaimana bisa ia tiba-tiba ada di Prancis." kilah Gerald.


"Tidak usah mencoba membodohi nenek lagi, Gerald. Kebohonganmu kini sudah terbongkar. Tega-teganya kau menipu kami, Gerald. Padahal nenek sudah sangat menyukai Melodi tapi kau hanya menjadikannya pacar sewaan. Apa kau pikir kau bisa terus-terusan membohongi keluargamu, hah!" teriak nenek Gerald murka. "Nenek tidak tahu menahu. Nenek sangat menyukai Melodi. Karena kau hanya menjadikannya kekasih bayaran, maka kami akan menjodohkannya dengan Vero. Vero sudah bersedia. Apalagi mereka sudah saling mengenal dan Vero juga sangat menyukainya. Kau susul saja kekasihmu itu, nenek sudah tak peduli lagi dengan pembohong sepertimu." seru Nenek Gerald membuat Gerald memaku.


Kejutan tak terduga yang bertubi-tubi membuatnya terduduk di lantai dalam keadaan bingung.


"Tidak ... tidak ... Melodi hanya milikku. Takkan ku biarkan Vero memilikinya." seru Gerald yang kini segera membatalkan pembayaran pembelian tiketnya dan mencari penerbangan yang tercepat untuk hari itu juga. Gerald bahkan tak terpikir bagaimana neneknya bisa tahu perihal kalau Melodi hanya kekasih bayarannya saja? Sebab yang ada dipikirannya saat ini hanyalah sosok Melodi.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2