
Sesuai perkataannya, pagi-pagi Arkandra telah datang ke rumah Azura untuk menjemput gadis menyebalkan itu dan mengajaknya ke rumah. Ia sengaja menjemput pagi-pagi sekali khawatir Azura ternyata telah pergi kerja. Ingin menghubunginya, tapi Arkandra tidak memiliki nomor ponsel gadis itu.
Tok tok tok ...
"Ah, siapa sih! Hoaaammm ... Kayak nggak boleh banget orang mau rebahan. Eh, apa itu si bandot tua ya! Eh, tapi kan yang bulan ini udah aku bayar." gumamnya sambil beranjak dari atas sofa. Selepas mandi tadi Azura memang kembali merebahkan diri. Tepatnya saat Melodi pergi ke kampus. Hari ini Azura sengaja meliburkan karena untuk memenuhi permintaan dokter galak kesayangannya yang akan mengajaknya melakukan konferensi pers sekaligus menemui kakeknya.
Dengan langkah gontai, Azura pun melangkahkan kakinya menuju pintu depan dan Azura pun seketika membelalakkan matanya saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Mata Azura mengerjap hingga beberapa kali, memastikan yang berdiri di hadapannya memang dokter galak kesayangannya.
"Pak dokter? Ini seriusan pak dokter? Aku nggak lagi halu atau mimpi kan?" seloroh Azura membuat Arkandra berdecih sinis.
__ADS_1
"Nggak usah bercanda, nggak lucu." ketus Arkandra dengan mata yang sibuk memindai kondisi rumah Azura dari luar pintu.
"Pak dokter kenapa? Mau ngatain rumah saya jelek?" sinis Azura membuat Arkandra tak enak hati.
"Nggak. Saya cuma sekedar lihat-lihat saja. Ngomong-ngomong di rumah nggak ada orang? Orang tua kamu mana?" tanya Arkandra saat ia telah dipersilahkan masuk.
Azura yang hendak melangkah ke dapur membuatkan Arkandra minum, lantas terdiam di tempat. Arkandra hanya menatapnya datar sebab ia pikir tak ada yang salah dengan pertanyaannya.
Saat mendengar suara langkah kaki Azura, Arkandra segera duduk kembali ke tempatnya semula.
"Kok pak dokter nongol pagi-pagi gini sih? Emang jam berapa konferensi pers nya?" tanya Azura sambil mendudukkan bokongnya di sofa yang bersebrangan dengan Arkandra.
__ADS_1
Arkandra akui, Azura memang gadis yang cantik. Kulitnya putih, walaupun tanpa make up, wajahnya tetap terlihat bersinar. Padahal Azura hanya memakai pakaian sederhana, kaos oblong dan celana pendek tepat di atas lutut, rambutnya diurai, membuat auranya begitu memesona. Tapi tetap hal itu tak cukup untuk membuat seorang Arkandra bertekuk lutut.
Arkandra pun berdeham sebelum berbicara.
"Bukannya saya sudah bilang kakek ingin bertemu kita dahulu sebelum melakukan konferensi pers?" ucap Arkandra membuat Azura teringat kemudian tersenyum lebar.
"So sorry pak dokter, saya lupa." ujarnya sambil cekikikan.
Azura pun segera berlari menuju kamarnya. Dengan gerakan cepat, Azura membongkar pakaian lamanya berharap menemukan pakaian yang pantas untuk ia kenakan ke rumah kakek dari pak dokter galak. Beruntung gaun-gaun yang ia beli saat keluarga mereka masih utuh dan berada.
Hingga pilihan Azura jatuh pada gaun selutut berwarna mustard. Gaun itu terlihat simpel namun elegan. Lengannya hanya 3/4 tetapi terdapat belahan membuat lengan putih Azura jadi makin terekspos. Bagian pinggang terdapat sabuk membuat pinggang ramping Azura membentuk lekukan indah hingga menonjolkan beberapa titik yang memukau.
__ADS_1
Tak lupa, Azura memulas make up tipis ke wajah cantiknya hingga kecantikannya makin memukau mata. Setelah siap dengan segala keperluannya, Azura pun keluar menghadap Arkandra membuat Arkandra mendongak dan terpukau tanpa sadar.