
Kini Azura dan Arkandra tengah dalam perjalanan menuju kediaman Bachtiar. Siang tadi Kencana menghubungi mereka berdua dan menyampaikan permintaan Bachtiar agar mereka berdua datang untuk makan malam bersama di rumah besar itu.
Arkandra mengemudikan mobil dalam keheningan. Tak ada yang memulai pembicaraan sebab mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Azura sibuk berkirim pesan dengan seseorang, sedangkan Arkandra sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya Arkandra merasa enggan datang ke rumah besar, namun atas desakan Azura, akhirnya ia bersedia walaupun kini mereka harus saling mendiamkan.
"Kau ... bisa diam tidak?" Arkandra mendelik tajam saat mendengar Azura yang sibuk tertawa sendiri sambil berkirim pesan.
"Ck ... jangan galak-galak dong mas dokter, entar gantengnya hilang lho! Nggak mau kan aku berpaling hati ke cowok lain gara-gara kadar kegantengan mas dokter hilang!" goda Azura sambil mencolek pipi Arkandra.
"Ckk ... jangan pegang-pegang wajah, entar wajah tampan saya beneran hilang karena tangan kotor kamu yang banyak kuman." ketus Arkandra membuat Azura tergelak.
"Tenang aja mas dokter, kuman di tangan aku itu hebat bisa menambah kadar ketampanan seseorang, tau nggak kenapa?" tanya Azura tapi Arkandra justru cuek saja. "Sebab kuman di tangan aku itu kuman cinta." seloroh Azura membuat Arkandra mendengus.
"Narsis." ejeknya membuat Azura tergelak.
"Istrinya siapa dulu dong." ujarnya seraya tergelak.
Lalu Azura mengalihkan pandangannya ke langit yang tampak cerah bertabur bintang.
"Mas dokter, langitnya indah ya!" ucapnya seraya tersenyum. "Tapi indahnya langit malam ini masih kalah sama indahnya senyum mas dokter." imbuhnya lagi tanpa menoleh ke arah Arkandra.
"Bisa gombal juga, hm?" cibir Arkandra.
"Idih, mas dokter, aku serius tau. Tapi sayang, mas dokter pelit senyum. Padahal senyum itu kan ibadah. Coba mas dokter kayak Eza, dokter Mario, Leon yang murah senyum, wih bisa-bisa semua cewek jadi klepek-klepek sama mas dokter."
"Aku hanya senyum pada orang yang aku sukai saja."
"Yah, jadi aku nggak termasuk dong mas dokter! Mas dokter kan pelit senyum sama aku." Rajuk Azura.
__ADS_1
"Ya usaha dong supaya aku jadi suka sama kamu."
"Mas dokter mah gitu, masa' sama istri sendiri pelit."
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Arkandra telah memasuki pekarangan rumah kediaman Bachtiar. Di depan pintu telah berdiri pelayan untuk menyambut kedatangan Arkandra dan Azura. Mereka pun langsung dibimbing menuju ruang makan karena memang waktu sudah malam sudah hampir dimulai. Di sana, Azura melihat telah duduk Bachtiar, Bimantara dan istrinya, Kencana dan suaminya serta Alice.
"Om Arkan." seru Alice sumringah saat melihat kedatangan Arkandra.
"Hai cantik, apa kabarmu?" sapa Arkandra pada keponakannya.
"Alice baik, om." jawab Alice seraya tersenyum.
"Malam kek, malam juga ma, pa, kak. Malam juga Alice." sapa Azura lalu ia duduk di samping Arkandra.
Bachtiar hanya mengangguk tanpa tersenyum. Bimantara tersenyum tipis, sedangkan istrinya hanya tersenyum masam melihat kedatangan Arkandra bersama Azura.
"Malam juga pengantin baru. Eh, Alice, sapa juga dong tantenya."
"Huh, anak kecil aja nggak suka melihat kedatanganya. Anak kecil itu jujur, pasti dia bukan gadis baik-baik karena itu Alice tidak menyukainya."
"Sebaiknya Tante simpan komentar Tante untuk diri Tante sendiri. Kalaupun Alice belum menyukai Azura, itu bukan berarti karena Azura memiliki sifat tak baik. Itu hanya karena mereka belum saling mengenal." tegas Kencana tak suka mendengar perkataan istri muda ayahnya itu.
"Kencana, dia itu ... "
"Tutup mulutmu! Aku datang kemari bukan ingin mendengarkan komentarmu tentang istriku."
"Arkan, jaga bicaramu! Dia sekarang ibumu."
__ADS_1
"Kau yang jaga bicaramu! Sudah aku katakan, sampai kapanpun ia takkan pernah menjadi ibuku."
"Kalian bisa diam tidak!" tegas Bachtiar dengan ekspresi dinginnya. "Kalian membuatku kehilangan selera makan saja." imbuhnya lagi kemudian berdiri meninggalkan anak cucunya yang masih berada di meja makan.
"Puas kau!" ketus Kencana seraya berdiri menuntun Alice dan suaminya yang juga sudah kehilangan selera makan.
"Ayo!" Arkandra pun ikut berdiri sambil meraih tangan Azura dan menggenggamnya.
"Kemana?"
"Melihat bintang."
"Hah!"
"Kau bilang langit malam ini indah. Melihat dari kamarku akan lebih indah. Aku yakin, kau pasti suka."
"Benarkah?" seru Azura tak percaya.
"Hmmm ... Ayo!" ajak Arkandra yang mempererat genggaman tangannya.
Azura pun mengikuti langkah Arkandra dengan semangat meninggalkan Bimantara dan Vinandia yang masih duduk di meja makan.
"Sudah puas kau sekarang! Apa kau tidak suka melihat keluargaku berkumpul dengan tenang?"
"Mas, aku hanya ... "
"Sudahlah." Kini Bimantara pun ikut berdiri meninggalkan meja makan yang masih masih dipenuhi lauk pauk karena tak ada yang menyentuhnya malam ini.
__ADS_1
"Sial! Semua ini karena kedatangan perempuan sialan itu! Dasar pengacau!" desis Vinandia yang juga kehilangan selera makannya.
...***...