Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM.50 Pertengkaran pertama


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya sang penghulu pada saksi yang duduk mengelilingi pasangan pengantin itu.


"SAH."


"SAH."


"SAH."


Seru para saksi dan tamu undangan menggema di sebuah ruangan yang merupakan bagian dari hotel berbintang lima itu.


"Alhamdulillah." ucap sang penghulu sambil tersenyum lebar karena Arkandra berhasil mengucapkan kalimat sakral ijab kabul dengan satu tarikan nafas. Bukan hanya sang penghulu, tapi juga keluarga dan para kerabat yang menjadi tamu undangan pun tersenyum bahagia. Namun, tak sedikit juga yang justru berwajah masam, khususnya orang-orang yang termasuk barisan patah hati. Siapa mereka? Tebak sendiri.


"Ck ... apa bagusnya gadis itu? Mengapa Arkan mau-maunya menikah dengan gadis seperti itu. Pasti dia hanya mengincar harta kekayaan keluarga Satya saja." gumam seorang yang perutnya tampak membuncit. Gumaman ketidaksukaan itu sangat pelan dan nyaris tak terdengar. Wajahnya pun sungguh masam, seperti seperti jeruk purut.


"Ada apa?" tanya sang suami saat melihat wajah istrinya terlihat masam.


"Nggak, mas. Nggak papa kok." kilah sang wanita.


"Kalau nggak papa kenapa wajah kamu ditekuk gitu? Ini bukan karena kamu masih ... " Lelaki itu mengerutkan keningnya. Berbagai praduga melintas di benaknya.


"Nggak, mas. Aku tuh cuma lagi begah aja perutnya. Mas kan tau, semenjak hamil aku suka kram dan begah gitu. Nih, kalau mas nggak percaya, pegang perut aku? Kencang banget kan!" tukas sang wanita sambil menempelkan telapak tangannya di atas perutnya yang membukit.


"Baguslah. Ingat dengan statusmu saat ini. Aku tak mau orang berpikiran macam-macam tentangmu." tukas sang lelaki dengan wajah datarnya.


Wanita itu hanya terdiam sambil mendengus dalam hati. Namun, ia tetap berusaha tersenyum manis di hadapan orang-orang. Bagaimana pun, ia harus ingat statusnya saat ini.


Setelah selesai mengucapkan ijab kabul, Arkandra pun diminta memasangkan cincin kawin di jari manis Azura. Dengan bergetar, Azura mengulurkan tangannya ke depan lalu dengan perlahan Arkandra memasangkan cincin itu. Kilatan kamera pun berpendar untuk mengabadikan momen spesial itu. Setelah memasangkan cincin, Azura mencium punggung tangan Arkandra dengan takdzim. Walaupun pernikahan ini sementara, ia berharap, ia bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Namun, kenapa tiba-tiba hati Azura merasakan berdenyut nyeri saat membayangkan ia harus meninggalkan Arkandra beberapa bulan kemudian. Tanpa sadar, setitik air mata jatuh di telapak tangan Arkandra membuat Arkandra mematung.


Setelah Azura mencium punggung tangan Arkandra, kini giliran Arkandra mencium dahi Azura. Ciuman itu cukup lama. Seketika, kehangatan tiba-tiba menjalar di dada Arkandra. Ia tak mengerti perasaan apa itu. Namun ia tak mau terlalu memikirkannya sebab ia tau tujuan pernikahan ini tidaklah seperti pernikahan lainnya.

__ADS_1


Pernikahan adalah sesuatu yang tak pernah Arkandra inginkan. Pernikahan ... keinginan itu telah lama mati. Bilapun kali ini ia terpaksa menikah, itu bukan karena keinginannya melainkan untuk memuaskan keinginan orang-orang yang selalu saja ikut campur dengan segala urusannya. Dia berharap, setelah menikah, ia mendapatkan kebebasannya lagi. Ia sudah jengah dengan segala macam teror pernikahan yang dilancarkan orang-orang terdekatnya. Mungkin, mewujudkan satu keinginan mereka tak ada ruginya, bukan. Setidaknya itu yang ada di benak Arkandra saat ini.


"Tanganmu kenapa?" bisik Arkandra saat para tamu sudah dipersilahkan makan. Sedangkan mereka berdua, telah duduk di kursi pengantin yang khusus disediakan untuk mereka.


"Nggak tau, tiba-tiba aja gemetar kayak gini." jawab Azura jujur membuat Arkandra tersenyum miring.


"Ternyata kau bisa gugup juga." ejeknya.


Azura mendengus, "Hei pak suami, aku ini wanita, ada kalanya gugup juga apalagi ini pernikahan pertamaku." jawabnya sambil melengos.


Kening Arkandra berkerut dalam, "Memangnya kau mau menikah sampai berapa kali, hah?" delik Arkandra dengan sorot mata tajamnya.


"Mau berapa kali, terserah aku dong. Aku kan cantik, jadi mau berapa kali pun suka-suka aku apalagi kalau suamiku ketus terus kayak gini, bisa-bisa bulan depan udah ganti suami. Apalagi calon suami cadangan aku banyak." jawab Azura santai membuat sorot mata Arkandra makin tajam, bahkan lebih tajam dari scalpel.


"Baru beberapa detik lalu kita menikah, kamu udah ada rencana mau ganti suami?" desis Arkandra tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Mimpi." desisnya.


"Ya udah, siap-siap aja jadi duren." ejek Azura sambil menyeringai.


"Wah, baru aja nikah udah diancam jadi calon duren nih!" ejek Mario yang kini telah naik ke atas pelaminan.


"Wah, pak dokter Mario, kirain nggak datang!" seru Azura dengan tersenyum lebar. Arkandra mendengus melihat ekspresi itu.


"Mana mungkin aku nggak datang kan aku juga pingin liat kamu. Ternyata sesuai dugaan aku, kecantikan kamu jadi berkali-kali lipat dengan gaun pengantin ini. Sayangnya ... " Mario melirik Arkandra.


"Sayangnya apa?" tanya Azura polos.


"Sayangnya pengantin prianya bukan aku." lirih Mario sambil mendesah berat. Berbeda dengan Mario, Arkandra justru mendengkus mendengar gombalan receh Mario.

__ADS_1


"Ra ... " panggil seseorang dari balik punggung Mario.


"Eh, loe Za!"


"Selamat, ya! By the way, omongan gue tempo hari masih berlaku. Selama loe nggak bahagia sama dia, gue siap tunggu janda loe, Ra." tukas Eza santai membuat dada Arkandra serasa meletup-letup. Berbeda dengan Arkandra, Azura justru tergelak karenanya.


"Ck Ck Ck ... baru nikah aja udah didoain jadi janda, keterlaluan banget loe!" sarkas Leon yang tiba-tiba saja muncul sambil melirik wajah Arkandra yang sudah semerah kepiting rebus.


Baru saja Eza ingin menimpali, Arkandra langsung saja mencengkram tangan Azura dan menyeretnya menuju keluar ruangan itu. Baru saja Eza dan Leon hendak memekik, tapi Mario sudah mencegahnya. Bagaimana pun, mereka baru saja menikah. Ia tak ingin mempermalukan temannya itu di hari sakralnya ini.


"Ck ... pak dokter, lembut sedikit kenapa sih? Nggak enak diliatin para tamu." bisik Azura yang berusaha mensejajari langkah Arkandra. Sadar akan hal itu, Arkandra segera memelankan langkahnya dan melepaskan cengkramannya menjadi sebuah rangkulan di pinggang. Akhirnya, Azura bernafas dengan lega.


Tapi itu hanya sementara, pada saat di lift, Arkandra justru langsung menekan tubuhnya ke dinding. Saat itu hanya ada mereka berdua di dalam lift.


"Kau merasa bangga, hah? Kau bangga dikelilingi pria-pria itu? Apa kau seorang wanita murahan yang begitu mudahnya berdekatan dengan lelaki lain?" bentak Arkandra tepat di depan wajah Azura.


Plak ...


Tangan Azura melayang dan tepat mengenai pipi kiri Arkandra. Tamparan itu begitu kuat hingga menimbulkan suara nyaring di dalam kotak persegi itu.


"Jaga mulutmu, tuan Arkandra yang terhormat! Aku emang dekat dengan mereka tapi aku bukan wanita murahan yang dengan mudahnya mengumbar tubuhnya di depan pria lain. Kalau aku mau jadi ja*lang, sudah sejak dulu aku lakukan. Bukankah kau tau, aku bekerja di club malam." desis Azura murka. Bahkan matanya telah memerah. Ia tak pernah semarah ini sebelumnya. Tapi kata-kata Arkandra terasa begitu menusuk hatinya. Ia merasa harga dirinya dicabik-cabik. Haruskah ia mendengarkan kata-kata itu di hari pernikahannya. "Seharusnya kau berpikir, mengapa mereka sampai berani bertindak seperti itu? Apalagi kalau bukan karena sikapmu ini. Mereka hanya tak ingin aku tersakiti dan benar dugaan mereka bahkan di hari pertama pernikahanku saja, kau telah menyakitiku." imbuhnya lagi.


Arkandra terkekeh mendengarnya, "Menyakiti? Seharusnya kau sadar ini adalah risiko kau mau menikah denganku." desisnya membuat alis Azura berkerut. "Aku hanya mengikuti permainan kalian. Aku akan lihat, sampai sejauh mana kau bisa bertahan hidup denganku. Menaklukkan ku? Jangan mimpi!" desis Arkandra dan tepat saat pintu lift terbuka, Arkandra pun keluar meninggalkan Azura yang masih mematung.


"Apakah dia telah mengetahui kalau semua ini adalah rencana kakaknya?" gumam Azura yang masih mematung di dalam lift.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🙏...

__ADS_1


__ADS_2