
Setelah memastikan Bimantara keluar dari kamar mereka, Vinandia pun mulai beraksi dengan mengambil sebuah tas yang tidak begitu besar. Ia hanya akan membawa barang-barang berharganya seperti perhiasan koleksinya. Ia memang lebih gemar mengoleksi perhiasan dibanding membeli barang-barang branded, tentu tujuannya selain lebih mudah dijual bila ia membutuhkan uang, perhiasan juga lebih mudah dibawa. Untuk pakaian atau barang lainnya bisa ia beli nanti, yang terpenting saat ini ia harus pergi sesegera mungkin.
"Ooek ... ooek ... ooek ... " terdengar tangisan sang putra, Vinandia pun mempercepat pekerjaannya. Setelah selesai, ia segera menghampiri bayinya dan menyusuinya terlebih dahulu. Ia memang jahat, tapi ia juga sangat menyayangi anaknya. Apalagi yang orang-orang tahu, bayi itu merupakan keturunan Satya, putra dari Bimantara, jadi sudah tentu keberadaannya dapat ia manfaatkan kelak.
"Sssst ... jangan nangis dong sayang, kita akan segera bertemu dengan papa kamu. Kita harus segera pergi dari sini. Jangan nangis ya, cup cup cup!" Ucap Vinandia seraya menyusui bayinya. Setelah dirasa cukup, Vinandia segera melepaskan ujung pu*tingnya dari dalam mulut putranya dan kembali merapikan pakaiannya. Vinandia segera memakaikan bayinya selimut dan menggendongnya setelah itu ia segera mencangklong tasnya yang sudah penuh berisi perhiasan.
Aku udah di depan, buruan!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Vinandia. Ia pun segera keluar dari dalam kamar.
"Mau kemana kamu?" tiba-tiba suara bariton keluar membuat Vinandia yang baru saja melangkahkan kakinya keluar kamar tersentak singgah jantungnya berdebar tidak karuan.
"A-ku ... aku kan tadi udah bilang, mas, mau ketemuan sama temen. Dia pingin banget ketemuan sama aku dan lihat anak kita. Tempatnya nggak jauh kok, di cafe yang ada di tikungan jalan sana," dusta Vinandia. Kakinya sudah berada lemas saat melihat keberadaan Bimantara yang tiba-tiba berdiri tak jauh dari tempatnya. Sepertinya ia baru keluar dari ruang kerjanya.
"Kalau dia mau ketemu kamu dan anak kita, kenapa nggak dia aja yang datang ke sini?" tanya Bimantara dengan sorot mata penuh intimidasi.
"Oh itu, tadi aku sudah mengatakan kayak gitu sih, Mas, tapi dianya nggak mau. Katanya nggak nyaman, dia kan cewek, Mas, dia malu sama kamu." Sahut Vinandia yang terus saja beralasan.
"Ya sudah, nggak perlu ajak Betrand. Tinggalkan aja dia sama aku. Kasihan, usianya belum genap 40 hari, nggak bagus buat kesehatannya." Bimantara mencoba mendekati Vinandia untuk mengambil bayi mereka, tapi Vinandia justru berjalan mundur ke belakang. Hatinya sudah panik. Ia ingin segera pergi dari sana sebelum polisi benar-benar datang.
"Jangan, mas! Teman aku udah nungguin, aku pergi dulu ya!" Vinandia mencoba segera pergi tapi tangannya justru dicekal oleh Bimantara.
__ADS_1
"Vina, jangan keras kepala! Aku cuma tidak ingin terjadi apa-apa pada Betrand." tegas Bimantara dengan sorot mata geram. Sebisa mungkin ia menahan emosi karena tidak ingin membuat Betrand terganggu dan menangis.
"Mas, aku cuma sebentar kok! Kamu nggak usah terlalu parnoan kayak gitu lah!" Ucap Vinandia dengan suara meninggi.
"Tapi aku ini ayahnya, wajar kalau seorang ayah mengkhawatirkan anaknya. Usianya baru beberapa hari, kenapa nggak temanmu aja ajak ke sini. Kalau nggak mau, ya udah. Jangan maksa! Jangan egois, pikirin kesehatan anak kamu?"
"Karena ini anak aku jadi suka-suka aku dong!"
"Vina, kau ... "
"Vina benar, pa, itu anak dia jadi suka-suka dia," ujar Arkandra yang tiba-tiba saja ikut menimpali membuat Bimantara mengerutkan keningnya. Mengapa ia merasa aneh putranya tiba-tiba mau berbicara dengannya? Padahal biasanya sejak kejadian beberapa tahun yang lalu, ia tak pernah sama sekali mau berbicara dengannya. Apalagi saat ini sedang ada Vinandia berada di sini.
Berbeda dengan Bimantara, Vinandia justru shock melihat keberadaan Arkandra dan Azura. Lalu di belakangnya disusul Kencana, dan Mario. Wajah Vinandia memucat sempurna. Ia seakan sedang dikepung musuh-musuhnya. Ia sampai mengeratkan pelukannya pada Betrand yang sedang terlelap seolah tengah mencari perlindungan dari orang-orang itu.
"Tunggu dulu, Vina! Jangan bawa Betrand!" Bimantara masih berusaha menghentikannya.
"Pa, Arkan kan udah bilang perempuan itu benar, jadi suka-suka dia mau bawa anaknya kemana. Buat apa dihentiin sih!" sewot Kencana yang kini sudah ikut naik ke tangga menuju lantai atas tempat Vinandia dan Bimantara berdiri.
"Apa maksudmu Kencana, bagaimana pun dia anak papa, adik kalian jadi wajar papa melarangnya mengajak Betrand keluar. Apalagi cuaca mulai mendung, sebentar lagi pasti akan hujan." Bimantara masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Arkandra dan Kencana.
Kesal sang ayah tak kunjung mengerti, Kencana segera membuka sebuah amplop berlogo rumah sakit ternama tempat Arkandra bekerja. Lalu ia membuka lebar kertas itu dan mendekatkannya pada Bimantara agar ayahnya itu segera membaca isinya.
__ADS_1
Bimantara sontak membelalakkan matanya saat membaca isi surat tersebut sampai tanpa sadar ia melepaskan cekalannya pada tangan Vinandia.
"Ti-tidak mungkin!" gumam Bimantara sambil meremas dadanya yang tiba-tiba berdenyut untuk sakit.
"Pa," seru Azura dan Kencana panik.
Melihat semua orang sibuk fokus pada Bimantara, Vinandia pun berusaha untuk kabur sampai suara menggelegar Arkandra membuatnya kian panik.
"Mau kemana kamu ja*lang? Kau pikir kau bisa melepaskan diri dan kabur dengan kekasihmu itu?" ucap Arkandra sambil menyeringai membuat tubuh Vinandia lemas dan kakinya gemetar.
"Sekarang kau lihat ke bawah!" titahnya membuat Vinandia mengarahkan pandangannya ke bawah. Matanya membulat sempurna saat Stevan dan William menyeret seseorang dan menghempaskannya tanpa kasihan di lantai. Wajah pria itu tampak sudah babak belur dengan darah yang menetes dari ujung bibir, hidung, juga pelipis.
Brakkk ...
"Vina," gumamnya lirih sambil meringis menahan sakit saat tubuhnya sudah terkulai di lantai.
"Be-Beni," cicit Vinandia yang masih dipertengahan tangga.
"Kenapa? Terkejut melihat kekasihmu babak belur?" ejek Arkandra.
Tak ingin mengalami hal serupa, Vinandia pun segera kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Namun nahas, karena kakinya yang terlampau gemetar, membuatnya tak sanggup menopang tubuhnya sendiri hingga ia pun terpleset dan terguling ke lantai bawah.
__ADS_1
"Aaakh ... "