
"Woy, kampreto! Lama-lama gue santet juga bini loe yang tingkat kegilaannya sudah melampaui batas!" pekik Stevan di sambungan telepon. Saat ini Arkandra sedang berdiri di sisi lain dari rumah Bachtiar untuk mengangkat panggilan sahabatnya itu.
"Emang dia ngapain lagi? Ngirim surat kaleng? Bangkai tikus? Teror telepon terus-terusan?" tanya Arkandra sambil mengulum senyum membayangkan kegilaan Azura yang benar-benar mengira Stevan itu adalah pasangan sesama jenisnya.
"Nggak. Bukan itu. Ini lebih parah lagi." ucap Steven dengan nada frustasi. "Loe tau nggak, dia ngiklanin gue di aplikasi jual beli dengan caption 'Cowok Buluk Flash Sale'. Gimana gue nggak naik darah coba
? Emang gue cowok cuci gudang sampai harus di flash sale kayak gitu. Emang sih wajah gue diblur tapi ya tetap lah bagi yang kenal gue pasti bisa ngenalin wajah gue yang tampan. Bener-bener bini loe, Ar! Ini namanya penghinaan dan gue nggak terima." tukas Stevan dengan bersungut-sungut.
__ADS_1
"Loe ladenin aja, loe kan suka huru-hara." sahut Arkandra santai sambil terkekeh dan menyandarkan punggungnya di tembok.
"Asli, seratus persen loe nikahin cewek gila. Super gila. Gue nggak bisa bayangin loe kok sanggup hidup satu atap dengan cewek gila modelan kayak dia." ucap Stevan menggebu-gebu. "Ogah dah ngeladenin cewek gila kayak bini loe. Bisa-bisa gue hipertensi karena keseringan ngeladenin bini loe itu. Fix, gue mau putus dari loe! Gue nggak sanggup ngeladenin kegilaan bini loe lagi!"
"Loe nggak mau lima puluh juta loe?"
"Ogah makan sogokan loe. Buat apa coba? Nggak lama lagi juga duitnya habis buat berobat karena gue mendadak hipertensi, sakit jantung, gagal ginjal karena ulah bini loe itu. Pokoknya gue nggak mau lagi loe kambing hitamin. Jangan minta bantuan gue lagi buat urusan begituan! Gue masih pingin berumur panjang. Gue belum nikah, bro. Gue nggak mau masa lajang gue berakhir di rumah sakit. Asli, gue salut loe bisa bertahan selama ini satu atap sama bini loe yang gila itu. Gue yang nggak satu atap aja nyerah, lah loe sanggup bertahan lebih dari satu bulan malah."
__ADS_1
Tap tap tap ...
Terdengar derap langkah kaki mendekati posisinya. Arkandra pun segera memutus sambungan telepon dan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata sudah ada Vinandia tak jauh dari posisinya. Ia berjalan sedikit lambat akibat perutnya yang sudah membesar.
"Bisa kita bicara?" tanya Vinandia sambil tersenyum semanis mungkin pada anak tirinya itu. Tapi bukannya respon ataupun jawaban yang Vinandia dapatkan, Arkandra justru memalingkan wajah dan mencoba menjauh. Tapi cekalan tangan berhasil menghentikan langkahnya. Arkandra pun lantas mengibas-ngibaskan tangannya. Ia tak rela disentuh tangan Vinandia yang menurutnya kotor itu. Vinandia hampir limbung andai saja ia tak segera berpegangan di pilar dekat tempatnya berdiri.
"Aku mohon Arkan, izinkan aku bicara sebentar saja!" ucap Vinandia seraya memelas membuat Arkandra jengah. Ia sungguh malas berhadapan dengan Vinandia. Setiap melihatnya, itu akan mengingatkannya pada kenangan buruk sekaligus menjijikkan karena itu ia selalu menghindar bila melihat mantan kekasih yang telah menjadi ibu tirinya tersebut.
__ADS_1
"Aku sibuk." ketus Arkandra.
"Sebentar saja, Arkan! Aku mohon!" melasnya dengan amat sangat.