Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 98. I love you, too


__ADS_3

Azura hanya bisa tercengang dengan mulut menganga mendengar penuturan Arkandra mengenai perasaannya. Hati Azura seketika berbunga-bunga dan meletup-letup bagai ada kembang api yang meledak di dalam sana. Perasaan bahagia membuncah memenuhi rongga dada, sungguh tak terlukiskan dengan kata.


Azura bukan bahagia karena akan mendapatkan uang senilai 100 juta dan apartemen mewah itu, tapi karena mengetahui kalau sebenarnya Arkandra mencintainya. Sungguh tak pernah terbayangkan olehnya kalau Arkandra akan jatuh cinta padanya. Ia pikir itu hanya akan terjadi dalam mimpinya saja, tapi ternyata Arkandra benar-benar mencintainya. Ada rasa tak percaya di benaknya, bagaimana mungkin lelaki sesempurna Arkandra mencintai dirinya? Tapi inilah yang baru saja ia dengar. Apa mungkin ia hanya berhalusinasi?


"A-apa? Bisa mas Arkan ulangi lagi kata-kata barusan?" ujar Azura dengan wajah merona bahagia.


"Yang mana?" jawab Arkandra pura-pura tak paham dengan permintaan Azura.


"Cck ... jangan pura-pura nggak tau, ayo mas Arkan ucapin sekali lagi. Tapi yang romantis," bujuk Azura manja seraya menarik lengan Arkandra.


"Nggak ada siaran ulang," ujar Arkandra sambil mengulum senyum membuat Azura berdecak kesal.


Kadung kesal, Azura lantas melepaskan diri dari pelukan Arkandra lalu membalikkan badannya membelakangi Arkandra.


Arkandra yang paham sang istri tengah merajuk pun lantas menggeser tubuhnya untuk memeluk tubuh Azura dari belakang.


"Lepas!" ujarnya dengan suara serak yang teredam bantal. Arkandra lantas sedikit menegakkan punggungnya untuk melihat wajah sang istri. Ternyata Azura tengah menutup wajahnya dengan bantal dengan bahu bergetar.


Arkandra pun berusaha menarik punggungnya, namun Azura tetap berupaya mempertahankan posisinya membuat Arkandra mendesah pelan.


"Kamu kenapa, hm?" tanya Arkandra lirih seraya membenarkan helaian rambut Azura yang berantakan.


"Apa aku tadi hanya berhalusinasi?"

__ADS_1


"Halusinasi?"


Azura mengangguk dengan wajah tertutup bantal.


"Iya, tadi aku mendengar pak dokter ngaku kalah terus mengatakan telah jatuh cinta padaku. Bodohnya aku, aku pikir itu nyata, tapi nyatanya ... hiks ... hiks ...hiks ... "


Arkandra tercengang mendengar penuturan Azura, lantas menarik paksa Azura agar menatap matanya.


"Astaga, Ra, setelah apa yang kita lakukan kamu pikir ini halusinasi?" tanyanya tak percaya dengan pikiran sang istri. "Lihat aku? Dan lihat tubuh kamu! Bahkan kita masih dalam keadaan telan*jang dan kamu masih meragukan semua?" imbuhnya seraya menggelengkan kepala. "Kamu tahu aku, Ra, aku nggak mungkin mau melakukan ini sama seseorang yang nggak aku cintai. Mungkin lelaki lain bisa saja, tapi aku nggak Ra, aku berbeda. Aku hanya ingin melakukan hal ini dengan perempuan yang benar-benar spesial di hatiku dan perempuan itu adalah kamu, hanya kamu. Aku hanya menginginkan kamu karena aku mencintaimu."


"Sejak kapan?" tanya Azura yang sudah mengangkat wajahnya. Mata mereka kini saling bersirobok.


"Entah sejak kapan, mungkin sejak pertama kali kamu menciumku atau sejak aku mencium mu di rumah sakit, atau ... "


Arkandra yang tahu mungkin istrinya belum yakin dengan perasaannya lantas memeluknya dari belakang membuat Azura tiba-tiba menegang dan pandangannya meremang, begitu pula Arkandra yang kini kembali terpantik gairahnya.


"Ra, yakin sama aku," ucapnya lalu menelan salivanya karena merasakan miliknya telah menegang di bawah sana. "Aku memang tak tahu sejak kapan aku mencintaimu. Tapi asal kamu tahu, sudah sejak lama aku menginginkanmu. Hanya saja, bayang-bayang kelam itu sering melintas membuatku meragu. Maaf kalau aku selama ini sering mengabaikanmu, itu karena aku terlalu takut kembali kecewa. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku atas perasaan ku padamu karena itu, malam ini untuk memastikan segalanya, aku memantapkan hatiku untuk mengakuinya. Jadi aku mohon, yakinlah dengan perasaan ku kalau aku benar-benar mencintaimu. I love you, Azura Karenina." Ungkap Arkandra penuh kesungguhan.


Azura menyeringai puas saat mendengar penuturan itu. Ia pun segera membalikkan badannya menghadap Arkandra dan tersenyum semanis mungkin.


"Aku juga mencintai mas Arkan. I love you, too," ucapnya membuat Arkandra tersenyum lebar dan memeluknya.


"Benar?" tanya Arkandra dan Azura mengangguk mantap.

__ADS_1


"Kalau begitu, bole nambah sekali lagi?" tanyanya sambil menyeringai membuat Azura melototkan matanya.


"No, ini aja masih sakit, mas Arkan mau buat aku nggak bisa jalan lagi ya?"


"Kan bisa aku gendong," imbuhnya seraya menaikturunkan alisnya, sedangkan tangannya telah bergerak liar di tubuh Azura membuat istrinya itu hanya bisa pasrah di bawah permainan suaminya.


"Cck ... dasar, pak dokter me*sum ahhh ... "


...***...


Langit telah begitu larut, Azura pun telah tertidur pulas di dalam pelukan Arkandra yang masih terjaga setelah pertempuran mereka yang entah ke berapa kalinya. Arkandra begitu puas dan bahagia, akhirnya ia bisa benar-benar lepas dari jerat bayang-bayang masa lalunya.


Namun, di dalam kebahagiaan itu, terselip amarah yang terselubung. Bagaimana ia tak marah, saat memandangi tubuh Azura tadi, dapat ia lihat bekas-bekas luka yang ia yakini itu karena Azura merasa jijik dengan bekas-bekas cumbuan para bajing-an itu sehingga ia berupaya menghilangkannya dengan menggosoknya sekuat tenaga yang berakhir menjadi luka. Oleh sebab itu, saat mencumbu tubuh Azura tadi ia sengaja meninggalkan jejak di bekas-bekas jejak para bajing-an itu untuk membuat Azura benar-benar lupa akan jejak sentuhan itu. Agar dirinya hanya mengingat sentuhannya. Hanya sentuhan dari dirinya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, Arkandra pun segera mengambil ponselnya dan ternyata itu pesan masuk dari Kencana.


Wanita itu telah melahirkan. Kita diminta ke rumah sakit besok. Jangan tidak datang! Ini permintaan kakek untuk menjaga nama baik keluarga di depan mata masyarakat.


Setelah membaca pesan itu, Arkandra mendengus.


'Awas saja kalau kau terlibat dengan peristiwa kemarin! Kalau sampai iya, aku takkan pernah memaafkanmu.' gumamnya dengan tangan terkepal.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2