Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM.43 Gelisah


__ADS_3

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk Azura tiba di rumah kontrakannya. Rumah minimalis tapi cukup nyaman untuknya dan Melodi. Mereka sudah menempati rumah itu hampir 5 tahun lamanya, lebih tepatnya semenjak orang tuanya meninggal dan semenjak itu juga ia berusaha mati-matian untuk melunasi hutang-hutang orang tuanya yang terus saja bertambah karena bunganya yang seakan terus beranak pinak. Alasannya, karena mereka terlalu lama mencicil jadi jangan salahkan hutang mereka beranak pinak. Awal-awal cicilannya hanya 1 juta perbulan, lalu meningkat menjadi 2 juta perbulan, kemudian naik lagi, lagi, dan lagi hingga kini cicilannya menjadi 25 juta perbulan. Karena itu saat mendapatkan uang 250 juta dari Kencana, Azura langsung membayar bandot tua itu 200 juta. Kemudian saat mendapatkan transferan lagi 750 kita, semua uang itu ia bayarkan hingga hanya menyisakan beberapa ratus juta saja. Pak Jono pun cukup terkejut melihat Azura bisa membayar hutangnya sampai ratusan juta sekali bayar. Tentu ia penasaran sampai-sampai ia menduga Azura telah menjual keperawanannya demi mendapatkan uang sebanyak itu.


Mobil Arkandra telah terparkir sempurna di depan rumah kontrakan Azura. Mendengar deru mobil di depan rumahnya, Melodi yang belum tertidur pun lantas mengintip dari celah gorden. Ia membelalakkan matanya saat melihat Azura lah yang membawa mobil itu. Tanpa dinyana, Melodi langsung memberondong Azura dengan pertanyaan saat melihat kakaknya telah masuk ke dalam rumah.


"Kak, mobil siapa itu? Kakak nggak mungkin merampok kan?"


Azura lantas mentoyor dahi Melodi, gemas dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


"Gila aja kakak jadi perampok, Di." ketusnya sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Itu mobil pak dokter. Tadi dia minta antar pulang terus mobilnya dia suruh kakak bawa dulu. Entar pagi baru kakak balikin." jawabnya acuh.

__ADS_1


"Cie cie, merangkap jadi Bu sopir ni ceritanya." ejek Melodi yang ikut mendaratkan bokongnya di sofa single yang berseberangan dengan Azura.


"Kenapa belum tidur? Ini udah larut, Di. Jangan biasain tidur larut! Nggak bagus buat kesehatanmu." tukas Azura tak mau merespon ledekan sang adik.


"Iya kak, Odi cuma belum ngantuk aja. Sekali-kali nggak papa dong kak, kan nggak sering juga aku begadang." kilahnya khawatir ia ketahuan belum lama pulang. "Kak, Odi laper nih, mau masak mie instan, kakak mau?" tawar Melodi.


"Cabe, sayur sawi, telur, sosis, ... "


Azura terkekeh sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Melodi.

__ADS_1


Melodi pun mulai meracik mie kuah kesukaan kakaknya. Malam itu pun mereka habiskan dengan mengobrol sembari menyantap mie instan. Sesuatu yang sudah jarang mereka lakukan semenjak Azura sibuk bekerja untuk menghidupi adiknya dan melunasi hutang-hutang mendiang orang tuanya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi baik mata Azura maupun Melodi tak kunjung bisa terpejam. Padahal mereka kini telah merebahkan diri mereka di kasur masing-masing. Pikiran mereka tampak melayang ke kehidupan yang sedang mereka lakoni. Sandiwara. Ya, mereka tengah melakoni sandiwara dengan pasangan masing-masing. Bukan pasangan sebenarnya melainkan pasangan yang terpaksa dijadikan pasangan demi sebuah tujuan. Dalam hati mereka, semoga saja semuanya berakhir baik-baik. Sebenarnya terdapat ketakutan tersendiri dalam benak mereka. Namun ada satu hal yang paling mereka takuti, yaitu jatuh hati pada pasangan masing-masing sebab mereka tau, pria yang kini sedang menjadi pasangan mereka bukanlah pria biasa. Mereka terlalu tinggi tuk digapai. Selain itu, hubungan ini hanyalah sementara dan berbatas waktu. Hubungan yang tak lebih dari kesepakatan.


Azura mendesah lirih saat mengingat ciuman yang Arkandra lakukan di mobil tadi. Batinnya bertanya-tanya, mengapa Arkandra melakukan itu. Dapat ia lihat, Arkandra begitu menikmati ciuman itu. Tapi ... mungkinkah? Bisa saja itu hanyalah trik agar ia jatuh dan terbuai pada pesonanya.


Sedangkan Melodi, ia pun tengah mendesah lirih sambil menatap langit-langit kamarnya yang tak terlihat jelas karena lampu kamarnya yang dipadamkan. Mengingat sikap Gerald dan keluarganya yang begitu baik padanya membuatnya khawatir. Keluarga itu begitu hangat. Ia khawatir, bagaimana reaksi keluarga itu bila tau ia telah mempermainkan mereka. Rasanya tak tega menipu keluarga itu. Tak ada satupun yang bersikap tidak baik. Mereka begitu hangat, perhatian, dan penuh kasih sayang. Berada ditengah-tengah mereka, mengingatkannya pada keluarganya dahulu.


'Ya Allah, ampuni aku karena telah terpaksa menipu keluarga itu. Semoga kami dapat mengakhirinya secara baik-baik tanpa ada kebencian ataupun sakit hati setelahnya.' batin Melodi penuh harapan.

__ADS_1


__ADS_2