Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM. 79 Bagaimana ini?


__ADS_3

Setibanya di apartemen, suasana canggung masih melingkupi pasangan absurd, Azura dan Arkandra. Saat mereka berdua sudah berada di dalam apartemen, keduanya justru jadi salah tingkah sendiri.


"Ra ... " panggil Arkandra saat Azura hendak masuk ke dalam kamar.


"Ah, mas dokter manggil aku?" tanya Azura canggung. Dipalingkannya wajahnya agar mata mereka tidak saling bertatapan. Begitu juga Arkandra, ia menggaruk tengkuknya sendiri karena bingung ingin mengatakan apa. Mulutnya tiba-tiba saja ingin memanggil Azura tapi tujuannya apa, ia tak tahu.


"Itu ... em ... " Arkandra maju beberapa langkah mendekati Azura membuatnya jadi deg-degan tidak karuan. Azura sampai menelan ludahnya sendiri, otaknya sampai traveling, mungkinkah dokter galaknya berniat melanjutkan sesuatu yang tertunda sebelumnya? Kalau iya ... Ah, Azura sampai senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan ia lakukan dengan dokter galaknya. Ia sudah seperti istri jablay yang begitu mengharapkan sentuhan sang suami. Eh, tapi memang Azura belum pernah benar-benar disentuh kan? Sebagai seorang istri walau ada perjanjian yang mengikatnya di belakang, tapi tetap saja ia adalah seorang istri. Wajar kan kalau ia berharap sesuatu yang intim? Wajar kan kalau ia mengharapkan belaian? Dan wajar kan kalau ia berharap Arkandra mau menyentuhnya dan memberikan nafkah batin? Ia seorang istri lho. Istri sah. Ia pun ingin merasakan indahnya melayang dibuai hasrat. Ia wanita normal. Apalagi ia selama ini telah menjaga dirinya sebaik mungkin, tentu ia ingin menyerahkan kehormatannya kepada seseorang yang berhak, yaitu suaminya sendiri.


Tapi, mengapa semakin Arkandra mendekat, semakin bertalu-talu juga jantungnya? Azura tak berani mengangkat wajahnya, ia justru menggigit bibirnya untuk menetralisir rasa gugup.


Ting tong Ting tong ...


Suara bel terdengar nyaring. Keduanya sontak mengerjapkan mata lalu saling berpandangan, bertanya-tanya siapa yang sore-sore begini bertamu ke rumahnya.


"Biar aku buka pintunya." ucap Arkandra sambil mengusap tengkuknya.


Ia pun segera beranjak menuju pintu dan membukanya.


"Om Arkan ... " seru Alice seraya melompat masuk ke pelukan Arkandra.


"Eh, kak Kencana. Silahkan masuk kak!" ujar Azura saat muncul dari balik punggung Arkandra. Kencana pun masuk seraya mengikuti langkah Arkandra yang masih menggendong Alice.

__ADS_1


"Om Arkan, Alice boleh tinggal sama om, kan!" ujar Alice membuat Arkan dan Azura saling melirik satu sama lain.


"Emang mommy Alice mau kemana?"


"Aku mau ke Milan. grandma Alice mengalami serangan jantung jadi aku akan terbang ke sana malam ini juga. Aku nggak mungkin kan membawa Alice malam-malam gini. Belum lagi perjalanan ke sana butuh waktu 16 jam lebih." tukas Kencana menjelaskan. Terlihat jelas kalau ia tengah khawatir saat ini.


Azura pun ikut duduk di samping Arkandra.


"Kak Kencana tenang aja, ada aku di sini, semua pasti akan baik-baik aja."


"Kenapa Tante ada di rumah om Arkan? Tante asisten rumah tangga di apartemen om Arkan ya?" cetus Alice membuat mata Azura seketika melotot.


"What? Asisten rumah tangga? Gadis secantik aku dibilang asisten rumah tangga?" seru Azura membuat Alice menjengit kaget.


Arkandra menyentil dahi Azura membuatnya meringis.


"Mas dokter kok nyentil aku sih? Harusnya mas dokter bela aku, masa istri secantik ini dibilangin asisten rumah tangga." Rajuk Azura seraya mencebikkan bibirnya.


Alice menutup mulutnya, menahan tawa. Ia sebenarnya telah dijelaskan Kencana kalau om kesayangannya telah menikah dengan Azura, tapi ia masih belum terima. Jadi ia sengaja mengatakan itu untuk menjahili Azura.


"Heh, malah ketawa! Awas ya, nanti Tante buat perhitungan sama kamu, gadis kecil!" ancam Azura seraya menyipitkan matanya. Kencana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu, Azura hanya bercanda. Melihat sifat keduanya, ia yakin Azura dan Alice akan cocok.

__ADS_1


Bukannya takut, Alice malah menjulurkan lidahnya mengejek Azura sambil bersembunyi di balik punggung Arkandra. Azura yang geram, lantas mencoba meraih tubuh mungil Alice tapi Alice terus menghindar dengan terus berlindung di balik tubuh Arkandra. Arkandra yang mencoba melindungi Alice, justru ikut terkena serangan Azura. Ia pun menggelitik perut Arkandra agar ia melepaskan Alice.


Kencana hanya terkekeh melihatnya. Apalagi saat melihat Arkandra yang ikut tertawa lepas akibat ulah Azura dan Alice. Sepertinya ia bisa meninggalkan Alice dengan tenang di tangan Azura dan Arkandra. Kemudian ia pun pamit karena harus segera pergi ke bandara.


Yah, activity aserehenya terpaksa pending dulu dong!


Hari sudah larut, karena kelelahan, selepas makan malam Alice pun tertidur di pelukan Azura. Diam-diam, Arkandra masuk ke kamar Azura untuk memeriksa keadaan keponakannya. Melihat keduanya tertidur pulas, Arkandra tersenyum manis. Ia mengusap kepala Alice dan mencium dahinya.


Sebelum keluar, Arkandra mematung memandangi wajah polos Azura. Entah dapat dorongan dari mana, tiba-tiba saja Arkandra mendekatkan wajahnya dan mengecup puncak kepala Azura. Belum sempat menjauhkan wajahnya, matanya kini justru tertumbuk pada bibir merah muda Azura yang setengah terbuka. Arkandra sampai menelan ludahnya sendiri. Dengan ragu-ragu, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Azura dan cup ... ia mengecupnya sekilas. Merasa kurang, ia kembali mengecupi dengan sedikit Luma*tan membuat Azura menggeliat. Takut Azura menyadari perbuatannya, ia pun segera berdiri dan dengan perlahan menjauhi kedua orang itu sambil mengulum senyum.


Saat Arkandra telah keluar, perlahan Azura membuka matanya sambil menggigit bibirnya. Diusapnya bibir yang tadi dikecup Arkandra. Pipinya memerah, jantungnya berdegup dengan kencang.


'Bagaimana ini? Sepertinya aku yang kalah. Huh, bisa-bisa gagal dong dapetin apartemen ini.' monolognya dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya.


...***...


Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Arkandra, di kediaman Melodi pun Gerald tengah memandangi wajah polos Melodi yang telah terlelap. Sejak sore ia memang tidak berniat pulang. Entah mengapa, ia rasanya tidak tega meninggalkan Melodi seorang diri di kontrakannya itu. Jadi, setelah makan malam, ia pun segera membantu Melodi minum obat dan memintanya segera istirahat. Hari ini, ia memperlakukan Melodi layaknya kekasih sebenarnya. Entah apa alasannya, ia sendiri tidak mengerti dirinya sendiri. Yang ia tahu, ia khawatir saat tau kalau Melodi tengah sakit. Dan ia makin khawatir, saat tau ternyata Melodi tinggal seorang diri di kontrakannya. Karena itu, malam ini ia berniat menginap di sana. Awalnya Melodi menolak dengan keras, bagaimana pun mereka pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan resmi, tentu itu tidak baik bagi mereka. Tapi Gerald memaksa ingin menjaganya. Akhirnya, Melodi mengalah dengan syarat, Gerald tidur di sofa ruang tamu. Ia tentu khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Bagaimana pun, mereka pria dan wanita normal.


Gerald menerima. Karena itu, setelah memastikan Melodi tertidur lelap, ia segera merapikan selimut Melodi, mengecup keningnya, lalu keluar dari kamar gadis yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya. Bahkan kehadirannya, kadang membuatnya jadi melupakan sang kekasih. Terkadang ia merasa bersalah dengan kekasihnya sendiri, tapi ia pun tak bisa mencegah rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama Melodi.


...***...

__ADS_1


...Udah double up lho. Smg suka kak. ...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2