Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 114. Kehancuran Vinandia


__ADS_3

Tak ingin mengalami hal serupa, Vinandia pun segera kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Namun nahas, karena kakinya yang terlampau gemetar, membuatnya tak sanggup menopang tubuhnya sendiri hingga ia pun terpleset dan terguling ke lantai bawah.


"Aaakh ... "


"Betrand ... "


Seru Bimantara dan Kencana bersamaan dengan mata membulat sempurna karena terkejut saat melihat bayi mungil itu terlepas dari tangan Vinandia hingga terpental ke atas lantai yang dingin. Terdengar jerit tangis memilukan dari bibir mungil bayi itu.


Mario yang berada di lantai bawah segera berlari dan memeluk Betrand seraya memberikan pertolongan pertama. Vinandia dan Beni membelalakkan matanya saat melihat bayi tak berdosa itu jatuh di lantai yang dingin. Terlihat dari netra mereka, darah mulai merembes mengalir dari kepalanya. Dengan tertatih, Bimantara turun dari lantai atas ingin melihat bayi kecil itu. Bayi yang tak berdosa, bayi yang dimanfaatkan orang tuanya untuk mengeruk keuntungan dan kekayaan darinya. Arkandra, Azura, dan Kencana pun mengikuti, mereka turut panik. Mereka memang membenci Vinandia, tapi tidak dengan bayi mungil itu. Bayi mungil itu tidak lah bersalah sama sekali. Ia masih suci, tanpa noda, apalagi dosa.

__ADS_1


Perlahan, tangisan itu memelan lalu menghilang. Mata baby Betrand pun menutup rapat dengan tubuh yang mulai memutih bak kapas. Hanya ada tatapan nanar yang Mario tujukan pada semua orang diikuti tirta bening yang mengalir dari sudut matanya.


"Dia ... sudah tiada." Ucapnya penuh penyesalan.


Sontak saja, Vinandia dan Beni yang mendengar itu merasa shock. Sambil meraung, Vinandia menyeret kakinya yang sepertinya telah patah dengan tertatih. Darah bercucuran dari pelipis dan belakang kepalanya akibat benturan yang begitu keras. Bila Vinandia saja sampai mengalami luka yang sedemikian, apalagi bayi mungil itu yang memang terlepas hingga terhempas keras ke atas lantai yang dingin. Tentu ia takkan bisa menahan rasa sakit itu hingga akhirnya meregang nyawa akibat perbuatan ibunya sendiri.


"Tidak," pekik Vinandia. "Anakku, Betrand, jangan tinggalkan mama, nak. Bertahanlah sayang, kamu pasti akan sembuh. Betrand, anakku, tolong bangunlah, ini mama, sayang. Bangunlah, kamu nggak boleh pergi tinggalin mama, nak." Vinandia meraung berusaha menggapai bayi Betrand.


"Mas, kembalikan anakku! Kemarikan Betrand, dia baik-baik saja kan, mas!" lirih Vinandia seraya mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara kau. Dasar pela*cur!" desis Bimantara emosi karena baru mengetahui kalau ia selama ini telah ditipu. Bahkan anak yang begitu sayangi ternyata bukanlah anaknya. Bimantara mengutuk kebodohan dirinya yang begitu mudah masuk ke dalam jebakan Vinandia sehingga ia membuat istrinya terluka dan meninggal. Pun anak-anaknya jadi membenci dirinya karena telah berselingkuh dengan kekasih putranya sendiri. Inilah akibat napsu yang lebih mendominasi daripada akal, akhirnya rumah tangga pun hancur juga kacau balau.


"Cepat kemarikan anakku, mas. Pasti Betrand sedang tertidur saja kan, dia nggak papa kan!" racau Vinandia berusaha mengambil Betrand dari tangan Bimantara tapi tetap tidak diberikan.


"Mas, Betrand sepertinya mau menyusu, siniin mas, biar aku susuin dulu!" imbuhnya lagi seraya menyeret kakinya mendekati Bimantara yang tengah tergugu.


Tak lama kemudian, polisi datang. Mereka memberi hormat pada William. Setelah mendapatkan kode, mereka pun segera membekuk Vinandia dan Beni atas kasus percobaan pembunuhan pada Azura dan Alice. Tentu saja hal tersebut mengejutkan Bimantara. Ia sampai shock dan terkena serangan jantung karena terlampau terkejut sebab baru mengetahui fakta tentang Vinandia yang tak lebih dari seekor ular berbisa. Beruntung saat ini Bachtiar sedang berada di luar kota jadi ia tidak melihat kekacauan ini.


"Lepas! Aku mau menemani anakku, dia sedang tidur. Dia pasti nangis kalau aku nggak ada. Lepas, jangan bawa aku! Lepaskan aku! Lepas!" teriak Vinandia berusaha memberontak tapi tak dihiraukan para petugas polisi. "Aaakh ... " jeritnya saat nyeri di kaki dan kepalanya kian menyebar. Darah yang mengalir pun kian deras hingga perlahan-lahan Vinandia pun kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Para polisi pun segera membawa Vinandia masuk ke mobil ambulans yang baru saja datang. Sedangkan Beni, dengan patuh masuk ke dalam mobil polisi. Rasa cintanya pada Vinandia membutakan mata hatinya sehingga mau saja mengikuti segala perintah Vinandia. Namun kini, semuanya hancur. Anaknya telah tiada dan Vinandia entah bagaimana nasibnya nanti. Yang pasti, mereka pasti akan masuk ke balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.


...***...


__ADS_2