
Pagi-pagi sekali, aroma masakan telah menyeruak memenuhi ruangan yang berdekatan dengan dapur. Bahkan Arkandra yang baru saja membuka matanya cukup terkejut dengan harum masakan yang cukup menggugah seleranya itu. Padahal ia baru saja bangun tidur, tapi karena aroma masakan itu, perutnya langsung saja meronta ingin diisi. Arkandra sampai penasaran, dari mana sumber aroma senikmat itu. Setelah beberapa tahun menunggu apartemen ini, tidak pernah ada orang lain yang menginjakkan kakinya hingga masuk ke dalam apartemen miliknya selain Kencana dan Alice. Sedangkan suami Kencana hingga saat ini belum pernah datang kesana karena kesibukannya dengan pekerjaannya.
Jarum jam baru menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit, tapi perutnya seakan sudah tidak sabar minta diisi. Dengan langkah gontai, bahkan tanpa sempat mencuci muka, Arkandra segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Aroma masakan itu seperti memiliki gaya magnetis yang menariknya segera mendekat mencari ke sumbernya. Arkandra cukup terkejut melihat sosok yang dianggapnya menyebalkan itu begitu mahir menggunakan peralatan memasak dengan aroma yang begitu menggugah selera.
Ia memang pernah merasakan nikmatnya masakan yang dibawakan Azura, tapi ia belum meyakini 100% kalau masakan itu memang dimasak oleh gadis super menyebalkan seperti Azura. Tapi sepertinya kini penilaian Arkandra pada Azura akan sedikit berubah setelah melihat ternyata Azura memiliki bakat terpendam yang patut ia acungi jempol.
"Masak apa?" tanya Arkandra tiba-tiba hingga membuat Azura tersentak kaget.
"Astagfirullah mas dokter, ngagetin aja ih!" pekik Azura saat Arkandra tiba-tiba saja bertanya padanya.
Arkandra acuh tak acuh saja. Ia justru melangkah ke arah dispenser untuk menuang air minum.
"Aku cuma masak tumis bihun, dadar telur, sambal teri, sama udang goreng tepung. Mas dokter nggak masalah kan sama sarapan kayak gini? Atau ada yang lain?" tanya Azura sambil menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Hmm ... sebenarnya biasanya aku cuma sarapan jus buah dan roti aja, tapi nggak papa sesekali makan nasi. Tolong buatin jus apel tanpa gula juga ya!"
"Siap mas dokter!" seru Azura seraya mengangkat telapak tangannya ke samping kepala.
Arkandra mendengus melihat tingkah Azura tapi saat ia membalik badannya, seutas senyum tipis terbit di bibir tipisnya.
...***...
Setelah sekian tahun, akhirnya ia kembali merasakan nikmatnya sarapan pagi dengan nasi ditemani lauk pauk. Walaupun lauknya sederhana, tapi tak mengurangi kadar kenikmatan sarapan pagi di kala itu. Sarapan seperti ini mengingatkan Arkandra pada mendiang ibunya hingga ia pun sampai menambah lagi demi mengenang momen kebersamaan dengan sang ibu.
"Kamu nggak sarapan?" tanya Arkandra saat melihat Azura justru bergegas naik ke lantai atas setelah meletakkan jus apelnya.
"Kayaknya nggak sempat deh mas dokter. Udah hampir jam 7 ini, aku kan mesti cepat-cepat pergi kerja. Pergantian shift minimarket jam setengah 8. Palingan dirapel sekalian makan siang." sahut Azura seraya berlarian ke lantai atas.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, 20 menit kemudian Azura telah turun dari lantai atas dan hendak membereskan meja makan. Baru saja tangannya bergerak untuk menyingkirkan sisa lauk pauk, Arkandra telah menginterupsi pekerjaannya.
"Berhenti!" titah Arkandra membuat Azura menoleh.
"Mas dokter masih mau makan?"
"Bukan aku, tapi kamu. Aku nggak mau tau menau, pokoknya kamu harus makan dulu kalau tidak, kamu nggak usah pergi kerja." titah Arkandra sarat ketegasan membuat Azura yang awalnya ingin membantah justru membatalkan niatnya itu.
Azura lantas segera duduk dan mengambil makan dan melahapnya secepat mungkin. Setelah selesai, ia segera membereskan meja dan hendak pergi kerja.
Arkandra yang juga telah siap untuk pergi ke rumah sakit pun menawarkan tumpangan. Tentu saja Azura menerimanya dengan senang hati. Bukankah ini kesempatan untuk mendekatkan diri. Ada kesempatan, mengapa disia-siakan. Untung saja motornya ia tinggal di rumah kontrakan. Biar saja Melodi yang memakainya, pikirnya.
"Makasih mas suami. Cup ... " tak lupa Azura mengecup pipi Arkandra sekilas sebelum turun dari dalam mobil sambil berlari secepat kilat.
__ADS_1
Arkandra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia tak habis pikir dengan sikap Azura yang sungguh berani dan percaya diri itu. Baru saja Arkandra ingin melajukan mobilnya keluar dari parkiran minimarket, tapi pemandangan dari balik kaca minimarket yang transparan membuat Arkandra mendengus. Memang tak ada yang istimewa, tapi entah mengapa, melihat Azura dan Eza yang berbincang sambil tertawa lebar cukup membuatnya merasa tak nyaman. Arkandra menggeleng pelan, kenapa harus tak nyaman pikirnya. Tak mau banyak berpikir, Arkandra pun segera mengemudikan mobilnya menjauh dari minimarket itu.
...***...