
Pagi ini, Azura bangun tidur dengan mood yang sangat buruk karena setelah menunggu semalaman, Arkandra tak juga menunjukkan batang hidungnya.
Dengan emosi, ia melahap tumpukan roti berisi selai kacang kesukaannya. Ia makan dengan beringas, persis seperti orang yang sudah satu Minggu tidak makan.
"Awas, ya kamu pak dokter kalau sampai macam-macam!" desisnya lalu kembali menggigit roti yang ia berisi 4 lembar roti itu.
Sementara itu, di sebuah cafe shop yang berseberangan dengan rumah sakit, tampak 3 sekawan tengah mengopi bersama sambil bercengkerama. Lalu Steven pindah duduk di samping Arkandra dan merebahkan kepalanya di bahu Arkandra, lalu cekrek. Dengan secepat kilat, Steven mengambil gambarnya lalu mengirimkannya pada Azura yang mulutnya masih penuh dengan roti. Sontak saja, Azura langsung memuntahkan roti di mulutnya sampai terbatuk-batuk.
Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...
"Sial! Kurang ajar si pelakor! jadi mereka beneran menghabiskan waktu berdua! Aku harus melakukan sesuatu. Ya, harus." gumamnya seraya mondar-mandir di ruang tengah apartemen.
"Ngapain sih loe!" sergah Arkandra dengan mata menyipit.
"Ngapain? Ngirimin foto kita pacaran ke bini loe, puas!" balas Steven tak kalah sengit.
"Bini Arkan? Emang dia ngapain sampai loe kirimin dia foto kalian berduaan?" tanya William penasaran.
__ADS_1
Lalu Steven membuka ponselnya dan menunjukkan semua riwayat chat Azura yang dikirim semalam. Sontak saja, kedua sekawan itu tertawa terbahak-bahak. Mereka tak menyangka, aksi Arkandra tempo hari berlanjut hingga sekarang.
"Loe tau, gara-gara bini loe, gebetan-gebetan gue jadi mempertanyakan kejantanan gue. Mereka kira, gue beneran Gayus Tambunan. Gila nggak tuh! Nyebelin banget bini loe, Ar!" kesal Steven sambil mengangkat cangkirnya dan langsung meminumnya dengan cepat sebelum ia semburkan kembali membuat kedua temannya lagi-lagi tergelak melihatnya.
"Awww ... panas-panas! Sialan! Ini gara-gara tuh cewek!" desis Steven masih saja menyalahkan Azura.
"Lagian loe ya Stev, bibir loe yang salah main sosor aja, eh malah nyalahin bini Arkan. Kayaknya, loe udah kena kutukan bini Arkan deh!" ejek William. "Loe juga Ar, ngapain sih ngerjain bini sendiri, kayak kurang kerjaan aja." imbuh William sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu.
"Nggak tau deh, Wil, suka aja ngerjain dia. Tapi jujur sih, keberadaannya cukup menghibur. Gue kadang nggak sadar jadi ikutan ketawa melihat tingkahnya." ungkap Arkandra jujur.
"Kayaknya sebenarnya tanpa sadar loe udah mulai tertarik sama bini loe, Ar!" ujar William mengemukakan pendapatnya.
"Nggak mungkin. Itu mustahil. Kau tau sendiri kan bagaimana tipe gadis yang ku sukai."
"Yayaya, gadis yang manis di depan tapi busuk di belakang, itu maksud loe!" timpal Steven membuat Arkandra mengepalkan tangannya. "Wait, jangan marah! Bukankah itu kenyataannya? Justru gue lebih suka istri loe ini Ar, biarpun dia nyebelin, tapi sepertinya dia gadis yang baik dan tulus yah terlepas dari tujuan dia mendekatimu. Tapi nggak ada salahnya, kalian mencoba menjalaninya dengan sebaik mungkin. Apalagi kalian sekarang terikat dalam hubungan yang sah."
"Tapi, Steven benar, Ar. Apalagi dia cantik, keliatan cerdas juga. Nggak susah buat dia jatuh ke dalam pesona loe. Tapi itu semua terserah loe. Gue cuma khawatir, di saat loe udah nyaman, tiba-tiba perjanjiannya udah berakhir terus dia beneran pergi, baru deh loe nyesel. Pikirkan itu baik-baik, bro. Kami pun menginginkan yang terbaik buat loe." saran William membuat Arkandra tercenung sendiri memikirkannya.
__ADS_1
...***...
Malam harinya, Arkandra pulang ke apartemen dengan muka lelahnya. Saat pintu terbuka, hanya kegelapan yang melanda membuat Arkandra mengerutkan keningnya. Arkandra memang tengah merasa begitu kelelahan, setelah semalam tiba-tiba mendapatkan panggilan on call, lalu siang hingga menjelang malam ini ia harus melakukan 2 buah operasi besar membuatnya pulang lebih larut. Ia pikir Azura telah tidur jadi ia mengabaikannya dan segera masuk ke kamar dan segera membersihkan diri. Setelah selesai, dengan handuk melilit pinggangnya, Arkandra keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil di tangannya. Lalu dengan santai, ia melangkahkan kakinya menuju walk in closet dan berganti pakaian di dalam sana. Namun, saat ia berbalik hendak keluar dari ruangan itu, Arkandra terlonjak kaget saat melihat seorang gadis cantik dengan rambut terurai dan pakaian yang begitu ... seksi tengah berdiri di depan pintu. Pakaian itu bukan hanya seksi, tapi juga menerawang membuat setiap lekukan tubuh Azura nampak begitu jelas di depan matanya. Arkandra bahkan sampai menelan ludahnya sendiri melihat pemandangan itu. Ia memang biasa melihat hal seperti itu, tapi itu khusus pasien di atas meja operasi. Bila melihat gadis dengan sama-sama sadar seperti ini, terus terang saja ini pertama kali baginya.
"Kau ... Apa yang kau lakukan di sana, hah? Kau mengintipku berganti pakaian?" ujar Arkandra dengan sorot mata tak percaya.
"Ckkk ... ngapain ngintip suami sendiri? Kurang kerjaan. Kalau bisa tinggal lihat aja buat apa ngintip?" jawabnya santai.
Lalu dengan santai Azura mendekati Arkandra yang justru mundur ke belakang.
"Mau ngapain kamu?" tanyanya dengan alis berkerut.
"Hmmm ... mau ngapain yah?" gumam Azura seolah-olah tengah berpikir. "Aku mau melakukan terapi yang kedua, gimana, pak dokter siap?" desis Azura sambil mengedipkan sebelah matanya dengan bibir menyeringai.
...***...
Hayo, Azura mau ngapain? Berhasil nggak terapi keduanya? 😄
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...