
"Bagus dong itu. Jadi aku bisa menikah lagi dengan gadis yang aku cintai." ucap Arkandra santai.
"Oh ... jadi begitu! Istri masih hidup aja udah punya niat jelek? Iya, silahkan aja! Entar aku jadi hantu perawan penasaran terus mas dokter sama istri barunya aku gangguin terus kalau perlu aku masuk ke tubuh istri baru mas dokter jadi yang bercinta sama mas dokter kan tetap aku." ujar Azura seraya tergelak kencang.
Pletak ...
Arkandra menjentik dahi Azura kencang hingga Azura meringis kesakitan.
"Imajinasi yang bagus. Kenapa nggak jadi penulis novel horor aja?"
"Mas Dokter ih, kdrt melulu." Rajuk Azura seraya mencebikkan bibirnya membuat Arkandra merasa gemas sendiri lalu terkekeh.
"Oh ya mas dokter, tadi ada operasi dadakan kah?" tanya Azura sebab mengingat betapa terburu-burunya Arkandra saat melajukan mobilnya hingga berlarian di koridor rumah sakit.
Arkandra tidak berbicara. Hanya anggukan kepala sebagai jawaban.
"Jadi dokter itu semerepotkan itu ya? Harus siap sedia kapan pun. Kalau ada panggilan darurat, meski tengah libur atau tengah malam harus tetap datang."
"I think so."
"Untuk satu ini, aku akui kehebatanmu mas dokter. Biarpun selalu memasang wajah galak tapi untuk urusan pekerjaan, mas dokter totalitas sekali. I proud of you." ucap Azura seraya tersenyum lebar.
"Kau itu sedang memujiku atau menghinaku!" tanya Arkandra dengan alis berkerut.
"Dua-duanya." sahut Azura sambil menyengir. "Mas dokter itu pantas untuk dipuji, tapi juga boleh untuk dimaki. Itulah kehebatan seorang dokter Arkandra Satya Nugraha. Si dokter galak tapi sayangnya tampan dan tajir melintir milik Azura Karenina." ucap Azura dengan bangga membuat Arkandra tersenyum manis.
Azura bahkan sampai membelalakkan matanya saat melihat senyuman super langka itu.
"Astaga ... astaga ... "
"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?"
"Senyuman itu ... ya ampun, itu senyuman termanis yang pernah mas dokter perlihatkan padaku selama kita menikah. Ya ampun, bisa-bisa aku diabetes mas dokter. Tapi aku rela deh kalaupun harus mengidap diabetes asalkan bisa sering-sering liat senyum mas Dokter. Sumpah deh, manis banget. Ketampanan mas dokter jadi naik berkali-kali lipat." seru Azura sambil mencubit pipi suaminya.
"Apa sih?" ketus Arkandra sambil menurunkan tangan Azura, tapi ekspresinya justru menggambarkan sebaliknya.
__ADS_1
"Mas dokter, banyak-banyakin senyum kenapa sih? Senyum mas dokter itu manis banget tau."
"Buat apa?"
"Ya biar banyak yang suka lah."
"Ngapain? Aku nggak mau disukai banyak orang."
"Ckk ... aneh. Emangnya mas dokter maunya dibenci gitu?"
Bukannya menjawab, Arkandra justru mengedikkan bahunya santai.
Azura mulai berpikir ingin menanyakan berbagai hal yang ada di pikirannya, tapi ia merasa ragu untuk merusak suasana ini. Apalagi ini kali pertama mereka bisa berbicara dengan santai. Ia tidak mau tiba-tiba merusak mood dokter kesayangannya itu.
"Katakan, kamu mau tahu tentang apa?" seperti bisa membaca pikiran istrinya, Arkandra justru lebih dahulu mengajukan pertanyaan.
"Wah, mas dokter bisa baca pikiran aku ya! Daebak." seru Azura sambil mengerjapkan matanya lucu.
"Mau tanya apa nggak?"
Arkandra menatapnya dengan tatapan tajam.. Azura yang memang sudah gugup sampai menelan ludahnya sendiri.
"Ada pertanyaan lain?"
"Nggak. Nggak ada. Aku cuma pingin tau itu aja sih. Kalau mas dokter nggak mau jawab ya udah. Nggak papa kok. Nggak ada kewajiban mas dokter buat jawab juga. Lagian itu juga bagian masa lalu mas dokter dan hubungan kita nggak sedekat itu untuk ... "
"Ya, dia mantan kekasihku." potong Arkandra .
Sontak saja hal itu membuat Azura menganga tak percaya. Pertama tak percaya Arkandra mau jujur perihal masa lalunya. Kedua, untuk pertama kalinya, Arkandra tidak mempersoalkan Azura yang menanyakan sesuatu yang masuk ke dalam ranah pribadinya. Tentu Azura tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mengoreknya lebih lanjut.
"Wow, sejak kapan dan mengapa bisa?"
"Semua terjadi begitu saja."
"Ah, masa' gitu! Aku tadi sempat dengar lho pas dia bilang dia jadi selingkuhan papa mertua. Apa dia selingkuh saat masih menjalin hubungan dengan mas dokter?"
__ADS_1
"No comment."
"Ih kok no comment sih! Ayo, ceritain lagi tentang masa lalu mas dokter. Aku nggak nyangka banget, ternyata seorang gay seperti ... Eh ... Iya, apa yang dikatakan mamer nyebelin itu benar kalau mas dokter sebenarnya hanya ... "
"Berisik, geser! Saya mau tidur."
Arkandra menempelkan kedua tangannya di bibir sofa dan menyandarkan kepalanya di atas tumpukan tangan.
"Ih, mas dokter kok mau tidur sih! Jelasin dulu, benarkan kalau mas dokter itu sebenarnya bukan gay! Terus si buluk itu cuma selingkuhan mas dokter kan! Ayo mas dokter, jelasin!" bujuk Azura.
Wajah Azura menghadap tepat ke kepala Arkandra yang berada di bibir sofa sehingga aroma rambutnya dapat tercium dengan jelas di hidung Azura. Dia hampir saja terbuai kalau saja ia tak ingat tujuannya sebelumnya. Tangan Azura sibuk menoel-noel bahu Arkandra berharap ia mau menjawab semua pertanyaannya.
"Mas dokter, jangan tidur dulu! Jawab dulu dong pertanyaanku tadi!"
"Apa lagi?" tanya Arkandra tiba-tiba saja menolehkan wajahnya ke arah Azura. Jarak yang terlalu dekat membuat hidung mereka nyaris bersentuhan. Azura yang kaget tak menyangka Arkandra akan menoleh ke arahnya sontak cegukan.
"Heugh ... "
"Makanya jangan bawel. Saya mau istirahat sebentar sebelum kita pulang."
"Tapi ... heugh ... Aku masih ... heugh ... penasaran."
Cup ...
Tiba-tiba saja Arkandra membungkam bibir Azura dengan bibirnya. Ciuman itu tak lama, hanya beberapa detik. Sekedar agar Azura menghentikan ocehannya yang tak ada habisnya.
"Bisa diam?" tanya Arkandra.
Azura salah tingkah, ia segera membalik badannya membelakangi Arkandra sehingga wajahnya kini justru menghadap ke sandaran sofa. Azura memegang jantungnya yang berdegup sangat kencang. Bahkan pipinya kini terasa panas. Padahal ini ciuman ke sekian kalinya antara dirinya dan Arkandra, tetapi mengapa rasanya berbeda. Azura bingung dengan perasaan aneh yang tiba-tiba saja menjalari dirinya. Mungkinkah ...
'*A*h, tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi! Loe nggak boleh suka sama dia, Ra! Nggak boleh! Ingat tujuan loe sebelumnya. Benar Ra, nggak boleh!' gumam Azura yang masih memegangi dadanya yang kian bertalu-talu. Azura berusaha memejamkan matanya untuk melupakan segala rasa yang tiba-tiba saja menyeruak memenuhi relung hatinya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1