Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 107. Resign


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Arkandra telah siap dengan setelan formal jas berwarna navy, kemeja putih, dan dasi bermotif garis-garis putih-navy membuat penampilannya begitu menyegarkan mata Azura. Sambil menenteng tas kerjanya, Arkandra keluar dari dalam kamar menuju ruang makan. Diliriknya sang istri tampak masih sibuk menghidangkan sandwich isi daging asap, keju, dan selada, nasi goreng, juga kopi.


Azura menoleh ke arah Arkandra sambil tersenyum simpul setelah selesai menghidangkan sarapan mereka. Ia segera menghampiri Arkandra dan mengambil tas yang dipegangnya, meletakkannya di salah satu kursi kemudian mempersilahkan sang suami duduk di kursi khusus dirinya.


"Mas mau sarapan yang mana?"


"Nasi goreng aja dulu, sedikit aja."


"Emang mas mau sandwich nya juga?"

__ADS_1


"Iya dong, rugi nggak menikmati masakan istri. Apalagi masakan ini dibuat dengan penuh cinta," ujarnya sambil mengerlingkan sebelah matanya. Azura terkekeh lalu mengambilkan apa yang diminta sang suami.


"Mas, seriusan mas mau resign dari rumah sakit terus mimpin perusahaan? Bukannya impian mas itu jadi dokter ya?" tanya Azura seraya menyantap sarapannya. Ia memang suka makan sambil berbincang.


"Mas nggak punya pilihan, Ra. Mas nggak mungkin mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Kamu tahu sendiri gimana jam terbang seorang dokter yang kadang nggak bisa diprediksi apalagi kalau ada keadaan mendesak, entah siang ataupun tengah malam, mau libur atau sedang apapun, aku harus segera datang untuk melakukan tanggung jawabku," tukasnya setelah mengelap mulutnya dengan serbet yang memang disediakan di meja untuk membersihkan mulut selepas makan.


Ya, semenjak tahu kalau apa yang menimpa Azura itu dalangnya kemungkinan besar Vinandia, Arkandra telah membuat keputusan untuk memimpin perusahaan. Bukan tidak mungkin bila ia lambat bergerak, Vinandia akan mempengaruhi ayahnya agar menguasai perusahaan. Ia juga ingin menunjukkan siapa dirinya kini jadi jangan berbuat macam-macam dengannya di kemudian hari.


"Yah, padahal aku udah bangga banget punya suami dokter tapi sekarang malah harus banting setir jadi pengusaha," desahnya sambil memutar bola matanya.

__ADS_1


"Emang kamu nggak suka punya suami pengusaha? Bukannya kebanyakan perempuan lebih suka pengusaha, uangnya pasti lebih banyak, lebih terkenal juga," ujar Arkandra merasa heran dengan pola pikir sang istri.


"Itu mah perempuan lain, kalau aku mah dokter itu paling keren. Rasa kemanusiaannya tinggi, kayak mas gini, yang kadang merelakan waktu istirahat demi menyelamatkan nyawa orang dengan tangannya sendiri. Walaupun aku kadang terpaksa cuma bobok sambil peluk guling karena mas ada panggilan dadakan, tapi aku nggak masalah. Apa yang mas lakukan itu merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Hal inilah yang membuat aku makin klepek-klepek sama mas. Udah cakep, kaya, bertanggung jawab, dingin di luar hangat di dalam, berjiwa penolong, pokoknya mas itu suami yang nyaris sempurna bagi aku. You're my perfect husband," jelas Azura dengan mata berbinar.


Arkandra tersenyum lebar saat mendengar pujian bertubi-tubi dari sang istri. Ia pun lantas berdiri dan memeluk tubuh Azura dari samping seraya mengecupi pipinya berkali-kali.


"Love you my wife," ujarnya lembut di telinga Azura membuat wajah Azura bersemu merah.


"Lope lope sekebon my husband," balasnya seraya terkikik geli membuat Arkandra mendengus. Istrinya ini memang aneh, diromantisin malah dibalas bercanda.

__ADS_1


Entar lanjut satu bab lagi ya!


Ditunggu! ☺️


__ADS_2