
Tak seperti pasangan pengantin lainnya yang menghabiskan malam pertamanya dengan saling bercumbu, saling merayu, berbagi peluh, beradu desa*han, mengerang bersamaan, maka pasangan pengantin yang baru saja selesai melaksanakan resepsi pernikahannya pukul 10 malam tadi justru seakan tengah perang dingin.
Apakah gerangan yang terjadi?
Flashback on
"Pak dokter?" panggil Azura sedikit merengek.
Arkandra yang sejak tadi masih berkutat dengan ponselnya lantas menoleh.
"Apa?" jawab Arkandra datar seperti papan triplek.
Azura berdecak pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kini tengah berdiri di depan meja rias. Ia baru saja melepaskan satu persatu aksesoris di rambutnya. Azura pikir Arkandra akan sedikit bersikap romantis dengan membantu melepaskan aksesoris yang jumlahnya cukup banyak itu, tetapi ternyata tidak. TIDAK SAMA SEKALI. Dasar pak dokter nggak ada perasaan!
"Bantuin!" rengek Azura dengan puppy eyes'nya.
__ADS_1
Arkandra mengerutkan keningnya.
"Sini dulu, ih! Nggak peka banget jadi suami. Nggak liat apa istri lagi kesusahan buka gaun pengantinnya? Pak dokter liat nih di belakang, kalau gaun lain Jan pakai resleting, tapi gaun yang ini pakai kancing mutiara. Mana jumlahnya banyak banget dan panjang, udah kayak rel kereta apa aja. Bukain!" cerocos Azura yang minta tolong sembari mengomel membuat Arkandra menghela nafas panjang.
Ia pun segera beranjak menuju ke tempat Azura. Arkandra telah sejak tadi membersihkan diri dan kini ia telah memakai jeans pendek hitam plus kaos berwarna abu-abu.
Sebenarnya Arkandra agak ragu, andai ada orang lain, ia sudah meminta orang itu untuk membuka kancing yang mengular itu. Ia memaklumi Azura membutuhkan bantuannya sebab kancingnya tidaklah sedikit.
Dari balik punggung Azura, Arkandra dapat melihat kulit putih mulus itu. Terlihat begitu lembut karena jenis kain bagian punggung pun menerawang. Hanya bagian dada hingga ke bawah saja yang tertutup sempurna dari balik gaun. Arkandra menggelengkan kepalanya, mengapa juga ia menyetujui saat Azura memilih gaun itu. Tapi tak dapat dipungkiri, Azura terlihat bak princess dengan gaun itu. Bahkan dapat ia lihat di acara resepsi tadi, hampir setiap mata memandang kagum hingga tersepona eh terpesona maksudnya pada istrinya itu.
Apakah ia telah mengakui Azura sebagai istrinya?
Ya, ia mengakuinya sebab ia telah menikahi Azura sah di mata hukum maupun agama.
Tapi itu hanya status sebab ia tahu apa alasan di balik pernikahan itu.
__ADS_1
Bulu kuduk Azura seketika merinding, seperti habis melihat Mak Kunti yang bergelantungan di pohon singkong saat ujung jari Arkandra tanpa sengaja menyentuh permukaan kulit yang terlihat sangat indah itu. Dengan gerakan cepat, Arkandra melepaskan kancing itu satu persatu hingga ke bagian ujung hingga punggung mulus itu terlihat nyata di depan wajahnya.
Setelah selesai, Azura langsung membalikkan tubuhnya menghadap Arkandra dan merentangkan tangannya hingga gaun itu luruh ke lantai. Kini hanya strapless bra dan petticoat saja yang menempel di tubuh Azura. Bila lelaki lain, mungkin akan langsung menelan ludahnya sendiri saat melihat keindahan itu, tapi tidak dengan Arkandra. Entah apa yang ada di pikirannya. Othor pun tak dapat menebaknya.
Arkandra menatap datar pemandangan di depannya sambil tersenyum sinis lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Azura kemudian berbisik.
"Apa kau lupa dengan apa yang pernah aku katakan, hm? Mau kau melepaskan semua kain yang menutup tubuhmu sekalipun, aku takkan pernah tertarik. Coba lah terus kalau kau tak percaya. Siapa tau, nanti kau beruntung dan mendapatkan apartemenku." bisiknya sambil menyeringai membuat wajah Azura merah padam. Tapi dalam beberapa detik, warnanya kembali seperti semula.
"Oh ya? Baguslah kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya pak dokter. Cup ... " Azura mengecup bibir Arkandra sekilas lalu melenggang dengan santai menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Azura mengepalkan tangannya dan bergerak meninju udara dengan menggeram.
"Sialan si pak dokter! Haish, sabar Zura, sabar, kamu pasti bisa menaklukkan makhluk ajaib itu!" monolog Azura sambil menatap dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi. "Cantik, seksi, nggak ada yang kurang. Tapi, semua percuma aja kalau dia emang ternyata beneran gay! Ah, tapi itu kan belum terbukti! Kita lihat saja nanti, kebenaran pasti akan segera terungkap."
Sekeluarnya Azura dari kamar mandi, ia justru tak menemukan suaminya itu.
__ADS_1
"Kemana sih dokter galak itu?" gumamnya sambil menatap jari jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.