
Beberapa saat sebelumnya,
Selesai makan, Azura pun mengajak Alice mencuci tangannya di wastafel. Baru saja Azura hendak duduk kembali di kursinya, terdapat panggilan telepon dari Melodi. Ia pun segera pamit pada Arkandra pura-pura ingin ke toilet padahal ia ingin mengangkat panggilan itu.
"Halo, Di. Kenapa? Kamu masih sakit ya?" cecar Azura saat panggilan telepon itu ia angkat.
"Kak, hiks ... hiks ... hiks ... " Belum bicara, Melodi sudah lebih dahulu terisak membuat Azura panik.
"Kamu kenapa, Di? Sakit kamu makin parah? Kalau iya, kakak segera ke sana." ujar Azura dengan nada panik yang begitu kentara.
"Bu-bukan, kak. Hiks ... bukan itu. Hiks ... hiks ... Odi udah lebih baik kok. Hiks ... hiks ... "
"Jadi kamu kenapa nangis gini? Ada masalah apa? Di, jangan buat kakak panik, kamu beneran nggak papa kan!" desis Azura seraya menggigit kukunya kebiasaan bila ia mulai resah campur panik.
"Be-neran, Odi udah baikan. Hiks ... tapi ... tapi ini ada hubungannya sama pak tua yang suka nagih hutang kak. Tadi ... tadi mereka kesini terus ... hiks ... terus mereka minta kita segera melunasi hutang-hutan kita kak. Hiks ... hiks ... kita ... kita harus bagaimana kak? Mereka mengancam mau jadiin Odi sebagai gantinya kalau nggak segera melunasi hutang-hutang itu dalam bulan ini juga." Tangis yang Melodi coba tahan, akhirnya pecah bersamaan Azura yang juga menangis kebingungan. Padahal ia telah membayar 750 juta lagi. Uang pemberian Kencana yang kedua kali telah ia serahkan semua pada Pak Jono, menurut hitungannya sisanya tak sampai 500 juta. Ia pun telah berjanji akan melunasi sisanya dalam tempo satu tahun, tapi ini baru 1 bulan berlalu dari pembayaran terakhir. Kenapa sekarang tiba-tiba menagih kembali?
'Dasar, bandot tua kepa*rat! Nggak bisa dipercaya. Apa katanya, mereka ingin menjadikan Melodi sebagai gantinya? Akan ku bunuh mereka semua kalau sampai melakukan hal itu apalagi sampai menyakiti Melodi.' geram Azura dalam hati.
"Kamu tenang ya, Di. Kamu nggak usah khawatir, kakak pasti akan segera melunasinya. Kamu nggak usah banyak berpikir. Apa kamu lupa, siapa suami kakak? Uang beberapa ratus juta, bukan masalah bagi kakak ipar kamu itu. Kakak takkan membiarkan siapapun menyakiti kamu. Jadi kamu tenang ya! Kakak pasti akan segera melunasinya." tukas Azura mencoba menenangkan Melodi yang tengah dilanda kekalutan.
"Tapi kak ... "
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapian, Odi. Dengarkan kata-kata kakak, kamu nggak usah khawatir, oke!" potong Azura cepat. "Dalam bulan ini juga, kakak akan segera melunasi semuanya. Setelah itu, kita akan aman." imbuhnya mencoba meyakinkan Melodi. Ia paham akan ketakutan Melodi. Ia pun sama khawatirnya, tapi sebagai seorang kakak, ia harus bisa menenangkan sang adik dan melindunginya. Ia tak boleh terlihat lemah dan rapuh.
"Baik, kak." sahut Melodi patuh.
"Kalau begitu, kakak tutup teleponnya ya! Kamu istirahat aja. Nggak usah banyak pikiran. Kakak sayang kamu, Di." tukas Azura sebelum menutup panggilan itu.
Masih berada di toilet, Azura mengepalkan tangannya. Mungkin bila dia ada tenaga dalam, ponsel yang ada di genggamannya sudah remuk karena kepalan yang begitu erat. Terdapat bara amarah yang terpancar di netra bening itu. Tanpa pikir panjang, Azura pun membuka blokir nomor pak Jono. Ya, setelah menikah Azura memang sengaja memblokir nomor pak Jono untuk mencegahnya menghubungi dirinya di saat ia sedang bersama Arkandra. Mungkin pak Jono telah berusaha menghubunginya, tapi karena nomornya tak aktif, ia jadi menemui Melodi.
Setelah membuka blokir, ia pun segera menghubungi Pak Jono, si bandot tua, rentenir sialan.
"Halo cantik, akhirnya kau menghubungi ku. Tidak sia-sia aku mengancam adik kesayanganmu itu," ujar seseorang di seberang telepon. Siapa lagi kalau bukan si bandot tua.
Pak Jono terkekeh, tak peduli dengan segala umpatan Azura.
"Jangan marah-marah, sayang! Nanti cantiknya hilang lho. Iya, memang benar kita telah membuat kesepakatan itu, tapi mau bagaimana lagi, saya membutuhkan uang itu segera. Saya hanya memiliki waktu satu bulan jadi saya harap kamu mau mengerti cantik. Saya juga terpaksa melakukan ini. Jadi dalam satu bulan ini, saya harap kamu sudah menyiapkan uang sebesar 1 milyar untuk melunasi semua hutang-hutang mendiang orang tuamu. Kalau tidak, dengan terpaksa saya meminta adik kamu sebagai penebusnya. Bukan untuk saya nikahi, tapi untuk saya jual kepada orang kaya yang bersedia membayar mahal sebab saya benar-benar membutuhkan uang itu segera." ujar pak Jono santai.
"Apa bapak sudah gila? Bagaimana bisa hutang saya jadi 1 milyar, sedangkan bulan lalu dan sebelumnya saja total hutang yang sudah saya bayarkan bahkan sudah lebih dari satu milyar dan seharusnya hutang saya tidak sampai 500 juta lagi. Dan apa kata pak Jono bilang? Bapak mau menjual adik saya? Apa bapak gila? Bapak pasti punya kan anak perempuan? Bagaimana kalau itu terjadi pada anak perempuan bapak? Apa bapak rela menggadaikan anak perempuan bapak untuk dijual, hah? Dengarkan saya, kalau sampai bapak menyentuh adik saya seujung kuku pun, maka saya tidak akan segan-segan menghabisi kalian semua. Camkan itu!" seru Azura murka dengan nafas memburu. Bagaimana tidak, ia telah berusaha membayar hutang-hutang itu selama bertahun-tahun. Total hutang orang tuanya itu 1,5 milyar dan setiap bulan ia selalu mengusahakan membayarnya tepat waktu. Ia bahkan sampai rela banting tulang siang dan malam hanya demi melunasi hutang-hutang itu, lalu kenapa hutangnya justru masih banyak saja. Kemudian ia bilang ingin menjadikan adiknya sebagai penebus hutang? Tentu Azura takkan membiarkan itu. Ia lebih baik membusuk di penjara setelah menghabisi mereka semua daripada melihat adiknya harus menderita karena menjadi penebus hutang dan dijual ke lelaki hidung belang.
Pak Jono terkekeh di sambungan telepon itu, "Cantik, berhutang di bank saja ada bunganya lho, begitu juga dengan saya. Bukankah saya sudah sangat baik hati tidak memberikan bunga yang terlalu besar. Kalau bank atau orang lain, bisa-bisa hutang mendiang orang tua kalian jadi 2 kali lipat bahkan lebih. Tapi saya nggak. Saya masih kasihan dengan gadis secantik kamu. Jadi saya hanya meminta bunganya tidak sampai 0,5% perbulan dikali 5 tahun, kurang murah hati apa lagi saya?" ujar pak Jono berusaha menjelaskan dengan tenang kemudian ia pun menutup panggilan itu tanpa menunggu respon dari Azura yang wajahnya sudah merah padam karena emosi yang membara.
Pak Jono bilang ia sudah bermurah hati dengan tidak memberikan bunga yang besar, tapi tetap saja, bagi Azura itu terlalu besar. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu bulan? Sedangkan di perjanjian dengan Kencana, ia baru akan mendapatkan sisanya saat misi berhasil. Namun misinya saja masih abu-abu. Belum ada titik terang. Tidak mungkin bukan ia meminta sisa uang itu di muka! Bagaimana bila misinya gagal? Artinya ia justru akan berhutang dengan Kencana.
__ADS_1
Masih berada di dalam toilet, Azura pun menghubungi Leon. Hanya Leon satu-satunya tempatnya untuk berkeluh kesah. Hanya Leon, satu-satunya yang tau segala masalah dalam hidupnya. Hanya Leon satu-satunya tempatnya berbagi cerita, suka maupun duka. Entah bagaimana reaksi Arkandra saat ini saat ia terlalu lama berada di dalam toilet. Paling ia beralasan, ia mendadak sakit perut.
"Ada apa, Ra? Tumben loe nelpon jam segini?" tanya Leon saat panggilan Azura telah diangkatnya.
"Yon, gue harus gimana?" lirih Azura membuat Leon yang tadinya sedang rebahan, reflek terduduk. Dari nada suara Azura, ia tahu sahabatnya itu kini sedang dalam keadaan tertekan.
"Ada apa, Ra? Loe ada masalah apa?" tanya Leon penasaran.
Lalu Azura pun mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi. Leon hanya bisa mendengarkan segala keluh kesah Azura. Ia sangat ingin membantu, tapi dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Ia pun bukanlah orang berada. Apalagi ia juga tulang punggung keluarga. Ia tidak memiliki kemampuan lain selain menjadi bartender. Dan gaji sebagai bartender pun tidaklah seberapa.
"Loe tau, Yon, rasanya gue pingin nyerah. Gue capek, Yon. Gue ... gue lelah. Rasanya gue udah nggak sanggup. Apalagi hati gue ... Hati gue, Yon. Rasanya ... gue juga nggak sanggup selesaikan misi ini. Bagaimana ini, Yon? Gue harus apa? Gue ... gue harus gimana? Hati gue, Yon, hati gue ... Hutang-hutang itu. Mengapa semua makin rumit? " lirihnya sambil terisak pedih.
Azura membekap mulutnya, tak ingin orang mendengar isak tangisnya. Azura menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisnya. Dipukulnya dadanya hingga berkali-kali, berharap sesak itu segera pergi. Ia tak ingin Arkandra curiga. Ia tak ingin Arkandra tau kalau ia baru saja menangis. Ia tak ingin Arkandra tau kesulitannya. Ia tak ingin memperlihatkan kerapuhannya. Ia tak ingin menjadi parasit yang hanya bisa memanfaatkan dan menyusahkan Arkandra. Ia tak ingin meninggalkan kesan dan kenangan buruk saat mereka berpisah. Ia hanya ingin ... meninggalkan kenangan indah dan manis pada suaminya itu.
Di seberang sana, Leon hanya terdiam mendengarkan segala keluh kesah dan tangisan Azura. Ia tahu, saat ini yang Azura butuhkan bukan nasihat yang terkesan menggurui. Ia hanya butuh didengarkan. Begitulah seorang wanita, saat mereka terpuruk, mereka hanya ingin didengarkan dan dimengerti, bukan mendengarkan kata-kata nasihat apalagi menggurui karena hal itu justru membuatnya makin tertekan dan terbebani.
...***...
Ya Allah, aslinya nyesek banget jadi Azura! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Othor pas ngetik pun sambil menyusut air mata. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1