Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 49. Tremor


__ADS_3

Tak terasa 1 Minggu telah berlalu. Keadaan Azura sudah sangat-sangat baik. Bahkan kini ia sudah berada di sebuah kamar hotel dengan dikelilingi MUA terbaik dan asistennya serta penata busana. Ya, hari ini adalah hari pernikahan Azura. Azura bahkan tidak menyangka ia akan benar-benar menikah dengan dokter galaknya itu. Dalam mimpi pun ia tidak pernah membayangkannya. Namun, inilah kenyataannya. Kini ia tengah didandani sedemikian rupa oleh seorang MUA kenamaan. Dengan terampil, ia memulas kuas make up ke wajah Azura. Azura memasrahkan dirinya ingin didandani seperti apa sambil memejamkan matanya.


"Selesai. Mbak bisa membuka matanya sekarang!" Seru sang MUA seraya meletakkan kuas make up ke dalam tempatnya. "Wah, seriusan, mbak cantik banget deh! Pasti calon pengantin laki-laki bakal pangling nih liat penampilan mbak yang super memesona. Kulit mbak juga bagus banget, pake skincare apa sih? Jadi iri." Seloroh sang MUA sambil terkekeh.


"Iya ya, mbak, mbak ini cantik banget. Nggak perlu didandani mencolok udah cantik banget." Puji sang asisten MUA.


Azura tak menggubris perkataan sang MUA dan asistennya. Justru ia kini tengah terpaku dengan bayangan dirinya sendiri yang tertangkap dari permukaan cermin. Ia akui, MUA itu begitu hebat membuat wajahnya jauh lebih cantik bahkan terlihat sangat berbeda. Tapi ia tak mampu mengungkapkan kekagumannya pada diri sendiri. Malu. Entar dikira ia sok kecantikan.


"Masya Allah, kak Zura? Ini beneran kak Zura?" Seru Melodi saat masuk ke kamar Azura didampingi Kencana.

__ADS_1


"Wow, aura pengantin baru emang beda ya, Melodi! Pantesan aja si pemarah itu mau nikah sama kakak kamu, lah biasa aja cantik, apalagi kalo lagi didandani kayak gini, bisa-bisa si pemarah itu nggak mau ninggalin kakak kamu walau satu detik. Takut digondol kucing garong." Seloroh Kencana membuat Melodi terkekeh.


"Bener itu, mbak. Melodi aja kadang iri liat kecantikan kak Zura."


"Kamu juga cantik kok, Di. Kata siapa kamu nggak cantik, kalaupun ada yang bilang kamu nggak cantik, kakak yakin orang itu mengidap katarak." Timpal Azura yang ikut terkekeh. "Kakak ganti baju dulu, ya Di, mbak Kencana!" Pamit Azura yang diikuti penata busana yang memang disediakan pihak butik yang dijawab Melodi dengan jempol yang terangkat ke atas.


Persiapan pernikahan ini dilakukan Kencana dengan begitu totalitas. Padahal waktu yang diberikan kakek Bachtiar sangatlah singkat tapi dengan kemampuan dan koneksinya, Kencana mampu mempersiapkan semuanya dengan nyaris sempurna.


Azura telah siap dengan kebaya berwarna putih gading. Akad nikah akan diadakan tepat pukul 10 pagi. Kencana pun mengajak Azura keluar dari kamarnya menuju tempat dilangsungkannya akad nikah. Dengan diapit Kencana dan Melodi, Azura melangkahkan kakinya dengan perlahan dan anggun. Biarpun ia kerap bergaya tomboy, ia tetaplah seorang gadis. Ia bergaya tomboy hanya untuk membuatnya lebih mudah dan nyaman dalam beraktivitas. Padahal sebenarnya, Azura adalah gadis yang feminim. Beban kehidupannya lah yang membuatnya harus jungkir balik bahkan bersikap sebaliknya.

__ADS_1


Azura, Kencana, dan Melodi kini telah berada di sebuah ruangan hotel tempat diadakannya akad nikah


Di dalamnya, terdapat sebuah panggung minimalis dengan sebuah meja berbentuk persegi panjang tempat dilakukannya akad. Bahkan Arkandra telah duduk di salah satu kursi di dampingi sang kakek dan juga seorang penghulu dan wali hakim. Dinbawah panggung, juga sudah tersusun rapi kursi-kursi yang sebagian besar telah diduduki para tamu undangan.


Azura mendadak merasakan jantungnya berpacu dengan kencang. Tangannya pun mulai berkeringat dingin. Azura makin makin kesulitan bernafas saat matanya bersirobok dengan mata Arkandra. Aneh, tatapan itu tidak tajam seperti biasanya. Entah apa yang dipikirkan dokter galaknya saat ini.


"Kak." tegur Melodi saat melihat langkah Azura terhenti. Melodi pun dapat merasakan ketegangan yang dirasakan Azura. "Cie, calon pengantin nervous ya!" goda Melodi sambil tersenyum lebar.


"Kamu apaan sih, Di." desis Azura yang berusaha mengontrol degup jantungnya.

__ADS_1


Lalu Azura pun melanjutkan langkahnya. Saat akan menaiki panggung, sebuah tangan terulur di depan wajah Azura. Azura pun mendongakkan wajahnya menatap sang pemilik tangan yang juga sedang menatapnya dengan teduh. Teduh? Aduh, tiba-tiba saja Azura merasakan tremor!


'Ya ampun! Apalagi ini? Kenapa aku jadi gemetar gini?' batin Azura.


__ADS_2