Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 87. Maafkan aku ...


__ADS_3

"Kau tenang saja cantik, kau tidak akan mati sia-sia. Aku akan membuatmu mati keenakan. Akan aku pastikan kau akan menjerit nikmat olehmu dan kedua anak buahnya. Setelah itu, kau akan mati dengan tenang," imbuhnya membuat Azura bergetar.


Lalu dengan sekuat tenaga, Azura berusaha mengangkat kakinya dan menerjang tepat ke milik lelaki itu membuatnya menjerit kesakitan dan mengeluarkan segala umpatan serta sumpah serapah dari mulut kotornya.


"Ba*jingan, aaargh ... sialan, breng-sek, dasar perempuan bi*nal, apa yang kau lakukan pada kejantananku, ja*lang!" teriaknya dengan suara menggelegar membuat Alice kian bergetar ketakutan. Ia sampai meringkuk menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya, takut melihat dan mendengar segala caci maki para pria breng-sek itu.


"Sepertinya kau harus segera diberi pelajaran supaya tidak bersikap arogan lagi, hah!" ujarnya dengan mata memerah.


Sreekkk ...


Sreekkk ...


"Jangan ... " teriak Azura saat lelaki itu menarik sekuat tenaga baju atasan Azura hingga terkoyak dan membuat kedua buah dadanya terpampang jelas di depan ketiga laki-laki itu. Tangannya yang terikat di belakang membuat kedua benda kembar itu terlihat begitu menantang.


Azura yang dari tadi berusaha bersikap kuat, sontak meluruhkan air matanya. Ia sungguh malu dan jijik saat tubuhnya jadi bahan fantasi liar ketiga lelaki itu. Bahkan ketiga lelaki itu hampir meneteskan air liurnya karena melihat kemolekan buah dada Azura yang masih terbungkus bra.

__ADS_1


"Jangan ... aku mohon jangan lakukan apapun padaku! Aku mohon!"


Ketiga lelaki itu justru tertawa. Melepaskan? Apa mungkin? Tentu tidak. Kapan lagi bisa menikmati tubuh wanita secantik Azura dengan gratis, coba!


"Hahahaha ... Teruslah memohon! Kau pikir kami akan melepaskanmu, hah!" serunya sambil tergelak.


"Bos, kapan dimulai? Kami sudah tak sabar. Bos lihat, anuku sudah tegang gini. Buruan bos!" melas salah satu anak buah lelaki itu.


"Iya bos, anuku pun udah keras banget ini. Tuh, yang bos juga, ayo bos!" timpal satunya lagi.


"Aku mohon, jangan sentuh aku! Aku sudah punya suami. Jangan sentuh aku, aku mohon! Kalian sebutkan saja kalian mau uang berapa, aku yakin suamiku pasti akan memberikannya bahkan 3 kali lipat dari orang yang menyuruh kalian itu." Azura terus membujuk berharap lelaki itu mau melepaskannya. Tapi mata para lelaki itu sudah tertutup kabut gairah, takkan mungkin mereka menghentikan apa yang ingin mereka lakukan sekarang. Yang ada dipikiran mereka saat ini hanyalah menuntaskan apa yang seharusnya mereka tuntaskan.


Azura melirik Alice yang masih meringkuk ketakutan. Ia harap, Alice tak melihat apa yang akan dilakukan pria bajing-an itu.


Srettt ...

__ADS_1


Lelaki itu menarik bra Azura hingga terputus, tapi Azura berusaha mengapit bra-nya agar tidak terlepas yang justru membuat ketiga laki-laki itu terkekeh.


"Tolong ... " teriak Azura dengan suara seraknya. Suaranya sudah hampir habis karena dari tadi berdebat sambil berteriak. Tubuhnya juga terasa lemas karena siang tadi ia hanya makan sedikit.


"Berteriaklah sekencang mungkin karena takkan ada yang bisa menemukanmu di sini. Ini wilayah kami. Berteriaklah, apalagi saat aku mulai memasukimu pasti itu akan terdengar sangat indah."


Lalu lelaki itu menarik tubuh setengah telan*jang Azura hingga merapat ke tubuhnya. Air mata Azura kian deras. Laki-laki itu menarik tengkuk Azura berusaha untuk menciumnya, tapi sekuat tenaga Azura memalingkan wajahnya hingga bibir pria itu justru menempel di pipi. Tak peduli, lelaki itu menurunkan bibirnya menyusuri rahang hingga berlabuh di leher Azura dan mengecupinya dengan nafas memburu. Meninggalkan jejak yang membuat Azura kian jijik dengan dirinya sendiri.


'Mas dokter, maafkan aku yang tidak bisa menjaga tubuhku hanya untukmu. Maafkan aku ... Maafkan aku ... ' lirihnya dengan berurai air mata.


Azura memejamkan matanya tak sanggup melihat apa yang dilakukan laki-laki itu di tubuhnya. Kini pria itu mencoba menjamah bagian buah dadanya. Tubuh Azura bergetar hebat. Ia makin merasa rendah diri. Ia makin merasa tak pantas lagi untuk Arkandra. Ia telah kotor. Ia merasa dirinya sangat menjijikkan. Tubuhnya telah tercemar oleh tangan-tangan kotor pria bajing-an ini. Rasanya, ingin ia mati saja dari pada tubuhnya dikotori para baji*ngan ini.


"Mas Arkan ... " gumamnya dengan tubuh bergetar dan pandangan yang mulai menggelap.


...***...

__ADS_1


__ADS_2