
Baru saja Azura berjalan mendekati Arkandra, lalu Arkandra justru melemparnya dengan handuk basah membuat Azura memekik kaget.
"Mas dokter, ih, istri ngajakin romantis-romantisan malah dilemparin handuk basah. Dasar suami nggak ada akhlak. Handuk basah itunya, diletakkan ditempatnya." omel Azura. Saat Azura hendak meletakkan handuk basah, tiba-tiba saja Arkandra berlari menghindari Azura. Ia sudah dapat menebak kemana arah pikiran istri menyebalkannya itu.
"Mas dokter, ih kok malah ditinggalin sih!" Azura mencari-cari keberadaan Arkandra, ternyata ia sedang memegang bukunya dan bersiap membaca sambil bersandar di kepala ranjang. Tapi belum sempat buku terbuka, Azura telah lebih dahulu duduk di pangkuan Arkandra.
Arkandra mendesah berat lalu menatap tajam Azura.
"Mau turun nggak?"
"Nggak. Kan mau terapi kedua." jawab Azura acuh dengan tangan sengaja merayapi rahang, leher, hingga dada Arkandra.
__ADS_1
"Stop, kamu tau, aku nggak suka kami ngelakuin hal kayak gini?" sergah Arkandra sambil menangkap tangan Azura agar tak lagi merayapi tubuhnya.
"Memangnya kenapa? Mas dokter kan suami aku sendiri. Katanya, istri yang memulai duluan itu besar pahalanya, jadi karena aku istri yang Sholehah dan baik hati, biarin deh aku mengalah memulai dulu. Mas dokter tinggal nikmatin aja." tukas Azura seraya kembali merayapi tubuh Arkandra. Arkandra memejamkan matanya, mencoba melawan segala rasa yang membuncah di dalam dada.
Lalu Arkandra membalik tubuhnya hingga Azura terlentang di atas kasur dengan Arkandra berada di atasnya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" desis Arkandra dengan sorot mata menggelap.
"Aku ... aku hanya ingin melakukan kewajibanku sebagai seorang istri." sahut Azura setengah gugup.
"Mas dokter itu menikahi aku untuk dijadiin istri, bukan babu. Kenapa malah diberi pekerjaan sebanyak itu. Oke, aku yang masak, tapi mencuci pakaian pakai tangan terus bersih-bersih apartemen sebesar ini, mas dokter mau membunuhku secara halus dan perlahan ya?" Azura mendelik seraya mendudukkan tubuhnya. Ia bahkan sampai lupa tujuannya masuk ke dalam kamar ini. Posisi mereka yang terlalu dekat dan saling berhadapan, sontak saja membuat Arkandra salah tingkah tapi ia berpura-pura tak peduli dengan tubuh seksi di hadapannya sebab setiap melihat kondisi seperti ini, ada sekelebat bayangan yang melintasi memori otaknya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tau menau, bagiku, itu tugasmu sebagai istri jadi kau harus melakukannya dengan baik dan benar." tegas Arkandra membuat Azura lantas berdiri dan berjalan sambil menghentakkan kaki.
"Kalau aku nggak mau?" Azura membalik tubuhnya menghadap Arkandra.
"Ya sudah, aku akan minta Steven saja. Dia pasti dengan senang hati membantuku mengurus apartemen ini." ucap Arkandra membuat Azura membulatkan matanya.
"No no no, oke, oke, oke, aku akan lakukan tugasku. Tapi awas ya mas dokter, jangan sampai mas dokter bawa pelakor itu kemari kalau nggak mau aku buat pisang kalian berdua bonyok." ancam Azura sambil menunjukkan kepalan tinjunya membuat Arkandra diam-diam mengulum senyum lega.
Sebelum keluar, tiba-tiba Azura dengan gerakan secepat kilat menyambar bibir Arkandra dan sedikit melu*matnya membuat Arkandra membelalakkan matanya.
"Ciuman selamat malam." tukas Azura santai. "Selamat malam mas dokterku. Have a nice dream. Emmuach ... " ujar Azura seraya memberikan kecupan jauh dari depan pintu kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Arkandra yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...