Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 41. Deal


__ADS_3

Kini Azura dan Arkandra telah berada di tempat parkir. Sebenarnya Azura tidak diperkenankan pulang lebih cepat apalagi Azura telah terlalu sering absen kerja dalam satu bulan itu, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Tapi berkat ancaman William, Azura pun diperkenankan pulang. Pak Salman jadi penasaran, bagaimana bisa seseorang seperti Azura bisa mengenal polisi seperti William. Padahal Azura tidak mengenalnya sama sekali selain mengetahui bahwa itu teman Arkandra karena ia pernah melihatnya mengobrol di kantor polisi.


"Pak dokter, pulang sendiri bisa kan? Masa' cuma kena tonjok perutnya sekali doang sampai nggak bisa nyetir." Azura mencoba menghindar dari si dokter galak yang kerap membuatnya kesal. Tarik ulur biar manjur. Terbukti kan, pak dokter malah modus biar dianterin padahal cuma kena tonjok doang.


"Saya memang masih bisa menyetir, tapi tidak ada jaminan selamat sampai tujuan. Kamu seenaknya mukul saya kayak samsak, kamu pikir nggak sakit. Atau perlu saya balik pukul biar kamu tau rasanya?" delik Arkandra membuat Azura segera menutup perutnya dengan telapak tangannya.


"Ck ... jangan dong pak! Biar sekuat apapun aku, saku kan tetap perempuan. Tubuhku nggak sekuat tubuh bapak. Bapak yang cowok atletis aja dipukul cewek kesakitan, apalah aku yang cewek imut, lembut, manis, dan rapuh ini. Bisa-bisa aku nggak bisa-bisa rahimku jadi bermasalah. Emang bapak nggak pingin punya keturunan?" seloroh Azura membuat pupil Arkandra membesar dengan wajah memerah. Bagaimana bisa gadis itu membicarakan hal tersebut, sedangkan mereka saja belum menikah.


"Kau pikir saya mau menyentuhmu, apa? Jangan mimpi! Biarpun kamu melenggang tanpa selembar kain pun di depan saya, saya takkan tertarik. Apalagi berniat membuat anak denganmu." ketus Arkandra yang masih berdiri di samping mobilnya.


"Cih, mulutmu pak dokter! Awas ya kalau tiba-tiba pas udah nikah minta jatah! Aku mau minta bayaran tinggi pokoknya." seru Azura dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Silahkan! Saya akan memberikanmu 100 juta kalau saya sampai meminta hak saya sama kamu!" sahut Arkandra penuh percaya diri. Ia yakin, ia takkan mungkin terpancing oleh gadis menyebalkan itu. Walaupun dia cantik, tapi tidak semudah itu membuatnya tertarik untuk melakukan hal tersebut. Ia memiliki alasan tersendiri mengapa ia sampai seyakin itu.

__ADS_1


Mata Azura sontak berbinar saat mendengar nominal sebesar itu. Azura merasa hidupnya begitu beruntung bisa dikelilingi orang-orang berkantong tebal seperti Kencana dan Arkandra.


"Oke! Deal!" Azura mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arkandra yang disambut laki-laki itu dengan penuh percaya diri.


Azura menyeringai lebar setelah mereka saling berjabat tangan. Lihatlah, ia akan membuat Arkandra panas dingin hingga menuntut haknya setelah mereka menikah nanti.


"Kamu bisa nyetir kan?" Arkandra masih menuntut minta diantar pulang.


"Pak dokter, saya kan ke sini pakai motor, terus motor saya gimana? Pak dokter nyetir sendiri ya! Nanti saya iringi deh biar sampai ke rumah kalau pak dokter takut terjadi apa-apa."


"Lha, terus itu minta anterin tadi bilangnya nggak jamin selamat sampai tujuan artinya kan pak dokter takut terjadi apa-apa di jalan."


Arkandra memegang perutnya seraya meringis membuat Azura khawatir.

__ADS_1


"Aaargh ... "


"Pak dokter, pak dokter beneran kesakitan ya? Gimana kalau kita ke rumah sakit pak dokter aja?" tawar Azura tapi Arkandra menggeleng.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau antar saya pulang. Saya bisa pulang sendiri." ketus Arkandra sambil membuka pintu mobilnya.


"Eh eh eh, ya udah deh, oke oke, saya anterin. Sini mana kunci mobilnya. Saya nggak mau, tiba-tiba jadi janda gara-gara calon suaminya mengalami sesuatu di jalan." ujarnya sambil memberengut masam. Arkandra pun menyerahkan kunci mobilnya sambil mengulum senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Sedangkan Azura, telah duduk di balik kemudi dengan wajah yang tertekuk masam.


"Alamat?" ketus Azura dengan mulut sibuk komat-kamit sambil mengemudikan mobil Arkandra. Entah apa yang diucapkannya.


"Apartemen Cendrawasih." sahut Arkandra singkat sambil memejamkan matanya. Pura-pura tak mendengar omelan demi omelan yang keluar dari bibir tipis Azura. Ternyata selain menyebalkan, gadis itu juga sangat ceriwis bin cerewet pikir Arkandra.


...***...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya kak biar othor makin semangat update! Bila berkenan, hadiah dan votenya juga. Makasih. 🥰🥰🥰


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2