
Byurrr ...
Azura tersentak hingga tersadar dari pingsannya akibat guyuran air yang entah siapa yang melakukannya. Mata Azura mengerjap, ia ingin menyeka air yang membasahi mata dan masuk ke rongga hidungnya, tapi saat ingin menggerakkan tangan, ia baru sadar, kini tangannya sedang terikat di belakang. Bahkan kini ia tengah tergeletak di atas lantai yang kotor dan dingin. Tempat itu terlihat sangat kotor, bahkan udaranya pun terasa sangat pengap
Matanya kian mengerjap, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hingga ia menyadari satu hal, mereka tengah di culik saat ini. Ya, mereka ...
Bola mata Azura mulai berputar, mencari sosok gadis kecil yang dua hari ini menemaninya. Tanpa mempedulikan sepasang mata yang menatapnya dingin di depannya.
"Alice ... " panggil Azura saat melihat Alice tengah tertidur tak jauh dari posisinya.
Alice pun mengerjapkan matanya, dalam hitungan detik, lelehan air asin telah membasahi pipi bulat Alice.
"Tante ... tolongin Alice! Tangan Alice sakit," cicitnya dengan berlinangan air mata.
"Hei, kamu ... kamu sebenarnya siapa, hah? Mengapa menculik kami?" pekik Azura dengan mata memerah marah.
Pria itu terkekeh lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Muncullah dua orang lelaki lagi dengan seringai me-sumnya.
"Silahkan masuk, bos!" ujar pria itu menyambut kedua orang itu yang ternyata salah satunya merupakan bos dari pria itu.
Azura tampak mengenal salah satu dari mereka, tapi siapa dan dimana, Azura tidak ingat sama sekali.
__ADS_1
"Hai cantik, sudah bangun, hm!" sapa salah seorang lelaki yang wajahnya sedikit familiar di mata Azura. Ia menaikkan sebelah alisnya berniat menggoda membuat Azura berdecih jijik.
Tepat saat kedua lelaki itu masuk, smartwatch Alice mengedipkan lampu notifikasi. Pertanda ada yang menghubunginya. Alice sempat menoleh, matanya berbinar saat tau om nya lah yang menghubungi. Tapi saat ingin menekan tombol accept, Alice kesusahan sebab tangannya terikat.
"Lepasin kami, breng-sek! Kalian mau apa?" teriak Azura penuh emosi.
Alice menoleh ke arah Azura yang tengah berteriak kepada ketiga lelaki yang menatapnya nyalang. Panggilan pertama Alice gagal mengangkat, panggilan kedua pun terabaikan, hingga panggilan ketiga, Alice berusaha menekan tombol accept menggunakan dagunya dan berhasil.
"Tante ... hiks ... hiks ... " lirih Alice saat melihat Azura tengah dicengkram rambutnya. Alice ikut merasakan kesakitan saat Azura mendesis sakit. Walaupun pelan karena Azura tak ingin Alice sampai histeris melihatnya, tapi Alice tetap mendengar rintihan itu.
"Lepasin kami, sialan! Kenapa kalian membawa kami ke sini, hah! Sebenarnya kalian siapa dan mau apa?" Pekiknya lagi tepat di depan wajah lelaki yang mencengkram rambutnya.
Plakkkk ...
"Aaargh ... " teriak Azura saat wajahnya terlempar ke samping.
"Tanteeee ... hiks ... hiks ... hiks ... " Air mata Alice turun makin deras. Ingin menolong, tapi ia tak bisa. Alice pun hanya bisa menangis menatap sang Tante yang sedang kesakitan.
"Om Arkan ... " bisik Alice takut-takut di depan smartwatch nya, khawatir orang-orang jahat yang menangkap mereka mendengar. Lalu diam-diam, Alice mendekatkan smartwatch nya ke telinga, berharap om Arkan nya mengatakan sesuatu.
"Sssst ... jangan bersuara, dengarkan om, Alice, tenang ya! Jangan khawatir! Om akan segera menjemput kalian." ucap Arkandra yang diangguki oleh Alice. "Alice jangan tutup teleponnya ya! Biar om bisa melacak keberadaan kalian." Kembali, Alice mengangguk samar agar tak ada yang menyadari kalau ia tengah berkomunikasi dengan Arkandra.
__ADS_1
"Kalian sebenarnya siapa sialan? Kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini? Kalau kalian mau uang, katakan saja. Suami saya akan memberikan kalian yang yang banyak asal kalian lepaskan kami," ujar Azura sambil berusaha menekan emosinya, mencoba bernegosiasi.
"Tawaran yang bagus. Tapi, apa yang seseorang itu tawarkan lebih bagus lagi. Aku tidak hanya akan mendapatkan uang, tapi tubuh molek yang telah lama aku idamkan," ujar pria tadi dengan seringai me-sumnya lagi. "Apa kau tak ingat wajah tampanku ini, hm?" tanyanya seraya mendekatkan wajah.
Azura sontak menjauhkan wajahnya. Tak mau ia disentuh pria yang bukan suaminya. Apalagi senyum pria itu terlihat sangat menjijikkan. Azura pun meludah tepat di depan wajahnya karena terlalu jijik.
"Sialan, kau! Dasar wanita murahan!"
Plakkk ...
Lagi-lagi Azura menerima tamparan membuat kedua sudut bibirnya kini telah berdarah.
"Oke, aku akan ingatkan kau! Aku adalah pria yang ada di club' malam tempo hari. Gara-gara kau, aku ditangkap polisi. Beruntung aku cerdas jadi aku bisa melarikan diri. Tapi aku tak menyangka, tugas pertamaku setelah keluar dari dalam penjara justru adalah menculik dan membunuh dirimu. Tentu aku takkan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, bukan. Kau membuatku gila. Hampir tiap hari aku bermimpi bisa mende*sah di atasmu lalu kini kau ada di hadapanku. Aku seperti mendapatkan jackpot," jelasnya seraya terkekeh.
Azura membulatkan matanya tak percaya. Ia kini ingat, pria ini yang telah hampir menculik dan memperkosanya. Beruntung saat itu ada Arkandra yang menyelamatkannya, kalau tidak ...
Tapi bagaimana kali ini?
Apakah ia bisa selamat?
Ia lebih baik mati daripada tubuhnya disentuh laki-laki breng-sek ini. Ia takkan rela memberikan tubuhnya untuk laki-laki be*jat itu.
__ADS_1
'Ya Tuhan, tolong selamatkan aku!' doa Azura dalam hati.